REPORTASE: MANAJEMEN BHINNEKA TUNGGAL IKA 3

Facebooktwittertumblr

Kemudian Master Zein, pada malam hari ini juga diminta untuk membagikan pengalaman beliau untuk bisa dipelajari bersama. Dimana sebutan Master untuk dirinya yang tertulis di poster merupakan sebuah tamparan untuk beliau. Seperti pada saat beliau merapat di Maiyah Kenduri Cinta, bahwa disana juga sudah dikenal dengan sebutan Master. Sedikit kisah beliau dipanggil dengan sebutan Master. Dahulu beliau adalah seorang penjual kacamata di sebuah optik milik beliau. Namun setelah mengetahui bahwa kacamata diproduksi bukan untuk membantu seseorang menyelesaikan masalah mata namun agar seseorang selalu tergantung pada produsen kacamata. Kemudian beliau berhenti, hingga tiba saatnya menjadi linglung tentang apa yang ingin dikerjakan. Namun guru beliau menganjurkan untuk tetap menekuni di bidang kesehatan, sebab di bidang itulah tetap memberikan manfaat untuk manusia. Akhirnya beliau mempelajari ilmu refleksi, akupunktur, herbalogi. Kemudian menemukan ilmu yang sangat beliau senang yakni ilmu tentang tulang belakang. Akhirnya beliau memutuskan untuk menekuni ilmu tentang tulang belakang, namun era 2005 belum ada universitas yang memberikan fakultas tersebut. Beliau menemukannya di Jerman namun terkendala biaya yang mencapai milyaran rupiah, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk mempelajarinya sendiri. Dimana akhirnya beliau menemukan buku berjudul yumeiho. Tiba pada 2006 hingga 2008 beliau belum menemukan guru yang bisa mengajarkannya. Master Zen mengunjungi penerbit di Jogja. Dari Jogja diberitahu untuk pergi ke Ambarawa, namun orang yang dijumpainya tidak memahami ilmu tersebut karena hanya menghantarkan naskah ke penerbit. Hingga disarankan untuk menemui salah seorang di Surabaya. Sesampai disana bertemu seorang penerjemah buku tersebut dimana buku tersebut sudah dipraktekkannya pada beberapa pasien dan hasilnya luar biasa. Namun orang tersebut ternyata juga hanya menerjemahkannya saja. Hingga disarankan untuk menemui seseorang di Bogor. Sama halnya dengan beberapa orang yang ditemui sebelumnya, namun orang tersebut memberi tahu bahwa dulu ada seminar dari luar yang mengajarkan ilmu tersebut di salah satu RS di Bogor. Kemudian Master Zen menuju ke Rumah sakit tersebut. Disana beliau bertemu dengan seorang dokter gigi yang mengikuti pelatihan tentang ilmu tulang belakang tersebut. Disana Master Zen mengatakan bisa mengobati pasien sakit gigi dan migrain dalam waktu 3 detik. Master Zen diminta untuk mempraktekan pada 7 pasien disana dan semua mengatakan langsung sembuh. Tak disangka justru para dokter disana ingin belajar kepada beliau hingga dipanggilah beliau dengan sebutan Master. Demikian sedikit kisah beliau dalam mencari ilmu, hingga mendapatkan sebutan Master.

Lanjut Master Zen tentang tulang belakang, yang disambungkan dengan kebhinekaan. Bahwa di dalam yang lembut ada yang keras, dan di dalam yang keras ada yang lembut dimana itu saling sinergi dan saling menjaga. Sejumlah 33 ruas, yang masing-masing memiliki sistem sendiri dan hal itu mengendalikan seluruh organ dan sendi tulang tubuh manusia yang berjumlah 360. Ilmu yang paling tinggi ialah ilmu nol. Seperti halnya 360 yakni kembali ke nol. Oleh karena itu dari Master Zen sendiri dan diteruskan pada murid-muridnya untuk ditegaskan bahwa kesembuhan bukan dari Zamatera, tetapi karena Allah sudah memberikan kesembuhan melalui cara apapun.

Di dalam Zamatera terdapat 17 gerakan. Disana ada angka 1 dan 7 yang berarti hanya satu yang kita tuju yaitu ahaddun. Bahkan setiap gerakan Zamatera terinspirasi dari gerakan sholat. Jika orang sehat solat secara berurutan ialah berdiri dahulu, lalu rukuk, sujud dst. Namun karena pasien Zamatera adalah orang yang sakit maka gerakan solat tadi diposisikan secara horizontal. Berdiri maka diganti dengan telentang. Kemudian angkat kedua kaki, menyerupai orang ruku. Kemudian menekuk kedua lutut menyerupai orang bersujud.

Kisah beliau menemukan gerakan mengobati sakit gigi dan migrain dalam 3 detik. Master Zen memiliki kebiasaan sholawatan setiap malam jumat. Suatu ketika, ada pasien yang datang pada malam jumat. Dengan sopan ditolak oleh beliau, namun pasien tersebut tetap menunggu. Hingga sepulang sholawatan yakni kisaran jam 12 malam, pasien tersebut masih menunggu Master Zen. Ditanya oleh Master Zen, tentang penyakitnya. Pasien tersebut mengatakan sudah sakit gigi selama 3bulan. Masih hangat di ingatan beliau saat tadi beliau sholawatan, beliau bermimpi berada di sebuah bioskop dan dipertontonkan gerakan mengobati orang sakit gigi dan migrain. Langsung dipraktekkan oleh Master Zen gerakan yang di ingatannya tersebut. Usai diterapi ternyata sembuh, namun pasien tersebut justru marah-marah. Jika pengobatannya hanya secepat itu mengapa tidak ditangani sebelum pergi tadi hingga tidak menunggu selama ini. Namun tanpa diketahui oleh pasien tersebut bahwa gerakan tersebut baru saja didapatkan beliau dari mimpinya di sela sholawatannya tadi. Terkait angka 17 tadi, Master Zen juga menyampaikan pemaknaan beliau tentang innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Dikatakan beliau rojiun disini diartikan dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Maka dari diri yang terbagi ini nantinya dapat menjadi kembali dalam keadaan utuh.

Mas Agus kemudian memberikan sedikit tambahan informasi bahwa, dari pengalaman Master Zein didapatkan informasi yang sangat indah andaikan setiap manusia memposisikan diri seperti Master Zen berarti sama saja dengan Allah sendiri yang memberikan terapi pada setiap orang. Ada yang dengan persentuhan langsung ada pula yang tidak langsung disentuh. Yang langsung disentuh ialah tatkala si sakit mendapat sentuhan dari pihak yang meng-nol-kan dirinya, yang berkualitas pengabdian seperti halnya Mas Zein, bukan kualitas kedaulatan profesi. Sehingga meskipun seolah-olah tangan Mas Zaen yang bergerak, sesungguhnya Allah yang menggerakkan tanganNya melalui tangan Mas Zein. Jika kita mengelaborasi pengetahuan tersebut secara luas bahwa ternyata bukankah Allah juga mengobati, memberi makan, minum, berarti diri kita ini tidak pernah disia-siakanNya bahkan tanpa disadari setiap hari diberikan pengobatan gratis oleh Allah. Sebab antara sehat dan sakit lebih banyak kesempatan untuk sehat sementara sangat bisa untuk Allah memberikan kita sakit, tetapi justru kesehatan yang lebih banyak dilimpahkan untuk diri kita. Berarti Allah memberi pengobatan gratis secara terus menerus.

Sesi pertanyaan dari Mas Kiki perwakilan Karang taruna tentang seringnya berdebat masalah agama dengan temannya. Satu menggunakan pengetahuan umum, lainnya menggunakan pengetahuan agama. Direspon oleh Gus Aniq bahwa, inilah yang sering terjadi di masyarakat kita. Kerap kali mendikotomikan antara agama dan umum dimana hal tersebut sebenarnya adalah satu dan saling melengkapi. Seperti halnya orang berdagang, hal tersebut juga menggunakan pengetahuan umum juga termasuk dalam salah satu ibadah. Tidak perlu mendebatkan kebenaran, masih teringat pesan dari guru kita yakni Bapak Maiyah Muhammad Ainun Nadjib tentang kebenaran. Bahwasanya kebenaran itu letaknya di dapur, bukan yang disuguhkan di warung. Umum juga agama, agama juga adalah umum, semua itu adalah ibadah sebab kita semua adalah abdun.

Keterbatasan ruang dan waktu kali ini bukan berarti menjadi halangan untuk pertemuan di ruang dan waktu yang lain.

Tema besar tahun ini di Majlis gugurgunung ialah Kasantikan, dengan sub tema malam hari ini ialah Manajemen Bhineka Tunggal Ika, meruwat dan merawat keanekaan. Dari segala perbedaan dapat kita harmoniskan dengan bahasa universal. Majlis dipungkasi dengan ditutup dengan pembacaan doa oleh Mas Aniq tepat pukul 12 malam. Sekian reportase kali ini, semoga apa yang tersampaikan di lokasi, apa yang tertuliskan disini dapat kita ambil manfaatnya untuk kita perankan sesuai peran yang sangat beragam asalkan kita memiliki satu tujuan yang sama.

 

 

Andhika Hendryawan

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel, reportase and tagged , , , , , , , , , , , .