MERDEKA MENJADI ABDILLAH
– Maqsud, Silah, Islah, Uzlah –

Suasana Sinau Bareng Majlis Gugurgunung malam itu terasa guyub dan menenangkan. Para dulur berkumpul dalam satu lingkar, membawa cerita, pengalaman, dan pemikiran masing-masing untuk kembali bersama menggelar tikar Sinau Bareng.  

Sinau bareng diawali dengan pembacaan tawashshul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah oleh Mas Kasno.  

Tema yang diangkat kali ini adalah “Merdeka Menjadi Abdillah”, dengan tagline “Maqsud, Silah, Islah, Uzlah.” Beberapa dulur sebelumnya telah mengusulkan beberapa poin untuk menjadi bahan tema sinau bareng. Pada malam itu, mereka yang mengusulkan poin-poin tersebut diminta untuk menjabarkan pemikirannya masing-masing. Sementara Mas Agus mencatat poin-poin yang disampaikan, untuk kemudian dirangkai, dipertemukan, dan dicari arah serta persambungannya. 

Pembahasan diawali dengan persoalan perbudakan. Perbudakan tidak hanya dipahami sebagai kondisi ketika seseorang diperbudak oleh manusia lain, tetapi juga ketika manusia menyembah sesuatu yang bukan Tuhan. Sorotan kemudian diarahkan kepada kejahiliyahan, sebuah kondisi yang tidak hanya terjadi pada satu ruang atau satu zaman, tetapi bersifat universal dan dapat hadir dalam berbagai bentuk kotak-kotak kehidupan. 

Dari persoalan perbudakan tersebut, pembahasan bergerak menuju makna merdeka. Merdeka bukan berarti manusia bebas tanpa kendali. Merdeka justru berkaitan dengan kemampuan untuk terkendali, memahami potensi diri, dan berjalan sesuai porosnya. Kemerdekaan bukan keadaan tanpa batas, melainkan kemampuan untuk mengetahui arah dan menempatkan diri pada poros yang tepat. 

Muncul pula ungkapan “apik statis, elek progresif.” Sebuah keadaan yang tampak baik tetapi mandeg atau diam, sementara sesuatu yang dianggap buruk justru terus bergerak dan berkembang. Di antara keduanya terdapat persoalan keterpisahan. Manusia dapat terjebak pada kotak-kotak penilaian dan keterpisahan, sehingga kehilangan kemampuan untuk melihat persambungan yang lebih luas. 

Dalam konteks kehidupan bernegara, muncul pula pemikiran “ora usah mikir negoro”, yang kemudian disandingkan dengan strategi bernegara. Ada pula ungkapan self think beside no one think for you, yang menjadi bagian dari poin-poin pemikiran yang dilemparkan untuk dibaca dan dirangkai bersama dalam forum. 

Dari berbagai gagasan tersebut kemudian muncul gambaran tentang cahaya kecil yang bersatu. Cahaya-cahaya kecil yang berkumpul dapat menemukan arah kemerdekaan. Kemerdekaan tidak lahir dari satu cahaya yang merasa paling terang, melainkan dari cahaya-cahaya kecil yang bersedia bersatu dan menemukan arah bersama. 

Pembahasan kemudian sampai pada kata “seleh” ,sebuah kondisi hati yang selesai. Seleh bukan sekadar berhenti, tetapi keadaan ketika hati tidak lagi terus-menerus dipenuhi kegaduhan karena keinginan untuk menguasai segala sesuatu, dan lebih menyerahkan atas semua perjuangannya kepada Ridha Allah. 

Dari sini, poin dalam tagline mulai mendapatkan tempatnya masing-masing: maqsud, silah, islah, uzlah. 

Maqsud adalah tujuan. 

Silah adalah hubungan. 

Islah adalah perbaikan, sekaligus tandang. 

Dan uzlah adalah menjaga jarak, menjaga kejernihan. 

Keempatnya kemudian dibaca sebagai sebuah rangkaian dalam peta perjalanan menuju kemerdekaan menjadi Abdillah. Ada tujuan yang hendak dituju, ada hubungan yang perlu dijaga, ada perbaikan yang harus terus dilakukan melalui (tandang), dan ada jarak yang perlu dipelihara agar manusia tidak kehilangan koordinatnya. 

Pembahasan mengenai kata merdeka kemudian bergerak pada istilah mahardika“Ma” dimaknai sebagai menyifati/melakukan, dan: “Hardika” / “Ardika” adalah teguh, pendirian, berdaulat. Dengan demikian, merdeka bisa dimaknai sebagai Meneguhkan Kedaulatan. 

Namun kemerdekaan bukan sesuatu yang benar-benar selesai. Kemerdekaan bukan sebuah keadaan yang setelah dicapai kemudian tidak membutuhkan perjuangan lagi. Kemerdekaan adalah hadiah dari Allah atas apa yang dilakukan manusia: perjuangan. Indonesia sudah merdeka selama 8 (delapan puluh satu) tahun, hal ini harus diakui sebagai penghormatan atas perjuangan yang ditempuh oleh para Peneguh Kedaulatan, perjuangan yang diiringi dengan pengorbanan tidak kecil.  

Namun, yang kita warisi seharusnya bukan hanya kemerdekaan namun juga perjuangan. Orang yang mendapat kehidupan aman tenteram tanpa perjuangan bukanlah orang merdeka. Itu hanya orang yang hidup dalam satu kemakmuran, alias persemakmuran. Persemakmuran tidak membutuhkan perjuangan karena hanya pemberian. Kita yang hidup dengan mental persemakmuran meski di tanah yang merdeka akan menghasilkan cara hidup yang miskin perjuangan dan pengorbanan. Sedangkan mungkin bagi manusia yang hidup di tanah persemakmuran namun hidup dengan tetap menjunjung perjuangan dan sikap rela berkorban, justru bisa sedang meneguhkan kedaulatan dan layak mengunduh kemerdekaan pada dirinya.  

Maka perjuangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemerdekaan. Manusia terus bergerak, terus memperbaiki, terus menjaga hubungan, sekaligus tetap menjaga jarak pada tempat yang diperlukan. Semua itu dilakukan agar manusia tidak berhenti pada peran atau kotak tertentu, tetapi tetap bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan. 

Dalam kehangatan Sinau Bareng malam ini, poin-poin yang awalnya berdiri sendiri kemudian mulai dicoba dipertemukan. Perbudakan, kejahiliyahan, kotak-kotak, kemerdekaan, kendali diri, potensi, poros, keterpisahan, cahaya kecil, seleh, maqsud, silah, islah, uzlah, hingga mahardika, menjadi bagian dari percakapan yang saling mencari persambungan. 

Salah satu pahala terbaik sebagai ummat Rasulullah adalah membebaskan atau merdekakan budak. Butuh kekayaan dan kesanggupan. Namun ada yang paling murah meski tetap memerlukan kesanggupan, yakni membebaskan diri sendiri dari majikan yang memperbudaknya. Majikannya bisa berupa popularitas, kekayaan, keunggulan, kekuatan, kekuasaan, brand, follower, kasta sosial, kasta pendidikan, kasta pengalaman, kesenangan duniawi. Semua itu bukan majikan, namun menjadi demikian dan tetap demikian jika seseorang meletakkan diri menghamba pada aspek-aspek tersebut. Jika tidak, semua aspek tadi bisa berubah dari majikan menjadi alat pengabdian. Maka bebaskanlah budak, adalah melepaskan diri dari cengkeraman majikan semu. Penyembah patung adalah menyembah sesuatu dan rela dikontrol hidupnya oleh sesuatu itu, padahal sesuatu itu ibarat patung, yang gerakan dan manfaatnya berasal dari imajinasi penyembahnya.  

Dan pada akhirnya, arah pembahasan kembali kepada satu tema besar malam itu: Merdeka menjadi Abdillah. Sebuah kemerdekaan yang tidak berhenti pada kebebasan diri, tetapi menuju kedaulatan yang menempatkan manusia sebagai hamba Allah. 

Sinau Bareng kemudian ditutup dengan bacaan hamdalah. Setelah forum selesai, jamaah melanjutkan dengan makan bersama. Usai makan, suasana kembali mencair melalui beberapa nomor lagu yang dinyanyikan bersama. Tidak ada latihan, tidak ada rencana khusus, semuanya berlangsung spontan dan mengalir begitu saja. Sebab gembira dan tulus tak perlu dirancang. 

Kemerdekaan bukan ketika manusia bebas melakukan apa saja, melainkan ketika ia berhasil membebaskan dirinya dari seluruh majikan semu, meneguhkan kedaulatannya, menjaga arah maqsudnya, menyambung dalam silah, terus bergerak dalam islah, menjaga kejernihan dalam uzlah, lalu menemukan kebebasan tertingginya, ialah menjadi Abdillah. 

Malam pun semakin larut. Jamaah kemudian beberes tempat sinau bareng, lantas satu per satu berpamitan dan pulang kembali ke rumah masing-masing dengan merdeka.

Facebooktwitteryoutubetumblrinstagram
Posted in reportase.