Adzan, Idzin, Udzun
– Menumbuhkan Tunas Iman –

Sinau Bareng Majlis Gugurgunung bulan ini mengangkat tema “Adzan, Idzin, Udzun”. Acara diawali dengan pembacaan tawashshul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah tema. Setelah itu, Sinau Bareng bergulir dalam suasana yang hangat dan menggembirakan. Dari awal hingga tengah malam, pembahasan berkembang melalui berbagai sudut pandang, pengalaman, serta perenungan yang saling berkelindan. 

Adzan, Idzin, Udzun 

Adzan, Idzin, dan Udzun tidak dipandang sekadar sebagai urutan kata yang kebetulan memiliki kemiripan bunyi. Ketiganya coba dibaca sebagai sebuah rumus kesadaran melalui Fatah, Kasroh, dan Dhomah. Fatah dimaknai sebagai pembuka atau panggilan. Kasroh merupakan kesadaran untuk merendahkan diri di hadapan Allah guna mendapatkan idzin-Nya—bi idznillah. Sementara Dhomah merupakan penyatuan antara panggilan, perkenan-Nya, dan kesediaan memenuhi panggilan atas perkenan-Nya. 

Dari rumus tersebut, Adzan-Idzin-Udzun diarahkan untuk menumbuhkan tunas iman. Adzan menjadi lambaran hidup, sebab adzan merupakan suara pertama yang diperdengarkan kepada jabang bayi sesaat setelah dilahirkan. Ia menjadi suara pertama di bumi, sehingga suara apa pun yang kelak ditemui manusia akan merujuk pada suara pertama tersebut. Dengan demikian, adzan bukan sekadar suara panggilan, tetapi menjadi lambaran bagi perjalanan hidup manusia. 

Manusia juga memiliki tiga silah utama: silaturahmi kepada sesama, sholawat kepada Kanjeng Nabi, dan sholat kepada Allah. Ketiganya menjadi bagian dari hubungan yang perlu dijaga. Dalam hubungan horizontal maupun vertikal, diperlukan kesadaran tentang jarak. Jaga jarak bukan berarti menjauh, tetapi menjaga koordinat agar selalu presisi. Pada sektor horizontal, jaga jarak diperlukan untuk berjarak dari kemelekatan. Sementara pada sektor vertikal, justru diperlukan upaya untuk membangun kedekatan sedekat mungkin kepada Allah. 

Salah satu permasalahan umum yang sering tidak disadari adalah ketika pemimpin tidak mau mendengar anggota atau tim. Begitu pula seorang guru perlu mendengar murid. Bahkan guru perlu mempersilakan murid mencari referensi lain dan, dalam kondisi tertentu, sanggup mempersilakan murid menjadi guru. Sebab relasi guru-murid, pimpinan-anggota, dan berbagai hirarki kehidupan lainnya pada akhirnya adalah dalam rangka sama-sama menjadi abdinya Allah. 

Adzan sebagai Lambaran Hidup 

Adzan kemudian dibaca lebih dalam melalui setiap bagiannya. Allahu Akbar menjadi takbir sebagai pembuka tabir. Setiap yang mengaku akbar tidak akan mampu bertanding kepada Allah. Semua dimulai dengan pengakuan bahwa Allah-lah Yang Maha Besar. 

Asyhadu anla ilaha illallah menjadi syahadat tauhid, sebuah pernyataan kesaksian yang meneguhkan bahwa apa pun yang dialami dan ditemui dalam kehidupan pada akhirnya merupakan perjumpaan dengan penghambaan kepada Allah. Tidak mudah menghamba kepada sesuatu yang sekadar tampak besar atau mengaku besar. 

Kemudian Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah menjadi syahadat Rasul, sebuah kesaksian bahwa kehidupan yang dilalui merupakan bagian dari proses perbaikan akhlak. Manusia menjadi perpanjangan misi Rasulullah dengan menjaga sikap dan perbuatan melalui keteladanan kepada beliau. 

Hayya ‘alash sholat merupakan ajakan untuk berbuat dan terlibat secara aktif dalam hubungan kepada Allah. Melalui sholat, manusia berharap mendapatkan petunjuk, pertolongan, dan kucuran dari langit yang tidak mampu dibuat oleh makhluk. Karena itu, mengingat bahwa sumber daya dan kekuatan hanya berasal dari Allah menjadi penting agar manusia tidak menjadi sombong karena merasa piawai. 

Sementara Hayya ‘alal falaah merupakan ajakan untuk berbuat dan terlibat secara aktif meraih kemenangan, kegemilangan, dan kesuksesan bersama Allah. Kemenangan bukan kemenangan personal, terlebih kemenangan yang diperoleh dengan menjegal atau mengalahkan orang lain. Dalam pengabdian, kemenangan hanya milik Allah. Karena itu, kekufuran adalah urusan Allah. Hanya Allah yang berhak mengalahkan, sementara manusia diajak merasakan kemenangan melalui perjuangan yang tidak mengenal lelah. Maka kembali diperlukan kesadaran La haula wala quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Adhim. 

Adzan kemudian kembali pada Allahu Akbar. Semua dibuka dengan takbir dan ditutup pula dengan takbir. Segala awal dan akhir, segala sesuatu, berada di bawah naungan Allah Yang Maha Besar. Kemudian ditutup dengan La ilaha illallah, sebuah kepulangan manusia kepada Allah dengan membawa kualitas masing-masing dalam memaknai bahwa tiada Tuhan selain Allah. 

Jaga Jarak dan Hirarki Kehidupan 

Pembahasan tentang jaga jarak kemudian ditarik pada relasi manusia dalam kehidupan. Guru dan murid, pimpinan dan anggota, merupakan hirarki hidup yang membuat seseorang merasa mendapatkan peran dan posisi sebagai hasil dari kesepakatan horizontal. Namun peran tersebut tidak serta-merta membawa imbal balik berupa pertumbuhan mutu kemanusiaan dan iman. Bahkan acapkali justru dapat memandulkannya. 

Karena itu, peran apa pun dapat ditempuh selama manusia tidak terjebak di dalam peran tersebut. Sebab peran utama manusia bukan mengabdi kepada manusia lain, sistem, atau sesuatu yang hanya seolah-olah patut dilabuhi lahir dan batin. Peran utama manusia adalah Abdillah, mengabdi kepada Allah. 

Mengabdi kepada selain Allah bukan berarti manusia tidak bekerja, dilarang masuk dalam sistem, atau menjadi anti-birokrasi. Tidak demikian. Tindakan horizontal tetap ditempuh secara wajar. Yang perlu dijaga adalah tempat pengharapan. Segala tindakan horizontal boleh dilakukan, tetapi pengharapan tetap hanya kepada Allah. 

Dengan hanya berharap kepada Allah, manusia tidak mudah pongah dan tidak pula mudah patah. Sebab mengabdi kepada sesuatu yang rapuh akan membuat penyembahnya menjadi semakin rapuh. 

Dari Kepepet Menuju Ayem 

Pembahasan kemudian memasuki pengalaman usaha ternak. Semua berawal dari sebuah dhawuh guru, Mbah Nun: 

“Teruslah lakukan pekerjaan yang engkau sukai hingga kau menjadi ahli.” 

Wasiat tersebut didengar oleh banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mendengarkannya hingga masuk pada perkembangan hidup. Salah satu yang mendengarkan hingga menjadi bagian dari perjalanan hidup adalah Mas Santoso, yang pada satu fase dituntut memiliki sikap untuk menghadapi tuntutan kehidupan. Dhawuh tersebut kemudian menjadi modal pertama. 

Perjalanan itu bergerak dari rasa kepepet, kemudian muncul pilihan. Dari sekian banyak pilihan yang dicoba, dipilihlah pilihan yang paling menghadirkan rasa ayem. Setelah hati ayem, justru muncul cabang-cabang kreativitas dan gagasan. Dari sana kemudian tumbuh tangkai-tangkai kegiatan usaha yang terus berkembang. 

Kepepet menjadi alat timbang untuk membaca sebuah keadaan: apakah kondisi yang sedang dialami merupakan karunia atau musibah. Ketika iman menang, kondisi kepepet dapat dipahami sebagai karunia. Dari sana muncul asa atau harapan. Bersamaan dengan itu, muncul sikap untuk memilih. 

Dari berbagai pilihan yang dicoba, ternyata hanya satu yang menghadirkan rasa hati yang tenang, adem, dan ayem. Pilihan yang kemudian diminati adalah sektor pemeliharaan unggas. 

Ayem dan Tumbuhnya Kreativitas 

Ayem sendiri merupakan kondisi yang memilih ekosistem Ridhwan, sebuah ekosistem yang tidak mudah ditinggali oleh iri, dengki, putus asa, hasut, dan berbagai penyakit hati lainnya. Sebaliknya, apabila ekosistem hati memilih atmosfir Malik, maka akan lebih mudah disinggahi rasa kuasa, bersaing, bertanding, bergesekan, bahkan hingga bertarung. 

Dari rasa ayem itulah kemudian kreativitas dapat tumbuh. Inspirasi dan gagasan yang muncul dari kondisi ayem masih membawa unsur pamomongan: jiwa merawat, mengayomi, memelihara, dan menjaga. Kreativitas yang lahir dari sana kemudian memunculkan gagasan-gagasan berikutnya, baik berupa ilmu maupun pekerjaan. 

Hal ini kemudian dikaitkan dengan pertanian dan peternakan. Pengalaman dalam kondisi sempit maupun longgar perlu diidentifikasi sebagai karunia atau musibah. Karunia melahirkan asa, sedangkan musibah dapat melahirkan putus asa. Keduanya kemudian melahirkan pilihan. Dan dalam menentukan pilihan, rasa ayem dapat dijadikan indikator atau ordinat. 

Pertanian atau peternakan yang baik bukan sekadar bagaimana melakukan rekayasa agar tanaman atau hewan cepat besar, cepat tumbuh, dan cepat dipanen. Yang lebih penting adalah bagaimana petani dan peternak dapat sama-sama tumbuh dan berkembang bersama tanaman dan hewan yang dipeliharanya. 

Di situlah titik koordinat ayem. Ketika titik tersebut ditemukan, kreativitas berkembang dan kebermanfaatan dapat meluas. Dari sana terjadi siklus perputaran rahmat. 

Ayem secara vertikal membawa manusia menuju ridho, sehingga Allah SWT juga ridho terhadapnya. Dalam kondisi tersebut, paparan penyakit hati—iri, dengki, hasut, ria, takabur, sombong, dan seterusnya—diharapkan Allah SWT berkenan meluruhkannya dari hati. Sebab sesungguhnya manusia sendiri tidak mampu meluruhkan rasa-rasa tersebut hanya dengan kekuatannya sendiri. 

Pada akhirnya, Adzan menjadi lambaran hidup. Ia menjadi suara pertama yang mengiringi manusia ketika hadir di bumi, sekaligus panggilan untuk terus menjaga hubungan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada sesama. Idzin menjadi kesadaran untuk merendahkan diri dan menunggu perkenan-Nya. Sedangkan Udzun menjadi penyatuan antara panggilan, perkenan, dan kesediaan untuk memenuhi panggilan tersebut. 

Sinau Bareng kemudian terus bergulir melewati tengah malam. Setelah seluruh pembahasan mengalir dan berbagai pengalaman saling dipertemukan, forum ditutup dengan bacaan hamdallah sebagai tengara bahwa Sinau Bareng malam itu telah selesai. 

 

Redaksi Majlis Gugurgunung

Facebooktwitteryoutubetumblrinstagram
Posted in reportase.