Tancep Kayon Majlis Gugurgunung 2019
”LAKU KASANTIKAN”

Laku Kasantikan 2019

Laku Kasantikan 2019

Laku Kasantikan Keluwarga Gugurgunung sebelumnya dilambari dengan sebuah Work Shop kecil yang mengulas tentang “Panyondro”, yaitu salah satu ilmu warisan leluhur yang didalamnya mengkaji tentang potensi diri yang dibagi menjadi 3 peran berdasarkan tanggal lahir penanggalan “Bulan”. Tiga peran tersebut adalah Peran Teknik yang mengoptimalkan tenaga, Peran Ide/Gagasan yang mengoptimalkan fikiran, dan Peran Spiritual. Tiga buah peran penting yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dalam bangunan adab. Tujuan dari Ilmu Panyondro ini antara lain, masing masing personal keluwarga gugurgunung hendaknya lebih memahami peran dominan apa yang ada pada dirinya, untuk kemudian mau dan mampu mencari pasangan berupa peran peran lainnya dalam adab sesrawungan. Diharapkan tiap tiap lingkaran sesrawungan tersebut yaitu bertemunya masing masing peran, membentuk lingkaran yang mencahaya/lingkaran yang “Purnama”.

 

Laku Kasantikan merupakan laku perjalanan keluwarga gugurgunung dengan niat langkah memperkaya kecantikan. Laku Kasantikan ini kemudian pada awal 2018 kemarin disepakati sebagai tema besar sinau bareng Majlis Gugurgunung. Secara alamiah, tema besar ini ternyata harus menggelindhing selama dua tahun atau dua kali Tancep Kayon. Tadaburnya terhadap fenomena tersebut, mungkin karena manusia setidaknya terdiri dari irisan raga dan jiwa, maka kecantikan yang perlu diperkaya setidaknya adalah kecantikan raga dan jiwa. Kemungkinan lain, apabila manusia  ternyata terdiri dari irisan raga, jiwa, dan sukma, bisa jadi Laku Kasantikan ini akan menjadi tema besar Majlis Gugurgunung selama tiga tahun. Dan seterusnya dengan berbagai kemungkinan kemungkinan lainnya.  Wallahu ‘alam

 

Laku Kasantikan 2018 Majlis Gugurgunung telah membuat pijakan pijakan berupa sub sub tema pada setiap bulannya, diantaranya :

– Malikinnas Ilahinnas

– Sinau Mulat

– Sambung Rohso

– Manajemen Bhinneka Tunggal Ika

– Dolanan ing Njaba

– Mencari Dewan Sepuh

– Paseban Muharram

– Nyuwun Jawah

– Sholawat Munajat Maulid Nabi Muhammad SAW

– dan lahirnya beberapa rintisan bidang usaha

 

Laku Kasantikan 2019 Majlis Gugurgunung juga kian membangun pijakan pijakan selanjutnya,  antara lain :

– Sengkud

– Sulit tapi Solid

– Kepawangan

– Tresno Wong Tuwo

– Mengarifi Jebakan

– Masyarakat Lebah Memadu

– Tajdiidu-n-niyaat :

   – Laras

   – Padhang Pranatan

   – Wungu

 

Sebuah laku yang ternyata tidak ringan, dalam perjalanannya ternyata Majlis  gugurgunung belum mampu bedhol kayon sampai pada bergulirnya 4 tema di tahun berikutnya, tepatnya tema “Mengarifi Jebakan” pada bulan Mei 2019. Sebuah tengara bahwa Majlis Gugurgunung mengalami proses berhenti tumbuh, berhenti berkembang, dan sepakat untuk Dorman.

 

Magical Momentun

Tahaduts bin-ni’mah, merupakan dhawuh dari Mbah Nun yang berisi beberapa  point, antara lain :

  • Kemesraan bumi dengan silaturrahmi surga
  • Ujian Tauhid
  • Syukur

Yang kemudian Majlis gugurgunung merespon dhawuh tersebut berupa sebuah tulisan dengan judul “Peradaban Robbun Ghafur”. Selanjutnya tulisan tersebut dijadikan mukadimah pada sinau bareng dengan tema “Masyarakat Lebah Memadu”. Tema yang Alhamdulilah dibersamai Mas Sabrang. Sekaligus tema yang menemani Majlis Gugurgunung menjalani masa dorman, masa intropeksi diri, masa perenungan, dan sebagainya.

Magical moment selnjutnya adalah :

Tajdiidu–n–niyaat

(Pembaharuan Niat)

Merupakan dhawuh dari Mbah Nun ke pada seluruh simpul Maiyah, untuk mengangkat hal tersebut menjadi tema besar pada rutinan  tiap tiap simpul pada bulan Agustus 2019.

Pijakan tema besar tersebut salah satunya adalah Tajuk yang dirilis oleh Yai Toto Raharjo; Kembali ke Spirit. Mentadaburi Surat Al – Qoshos ayat 77; Walaa tansa nashiibaka mina-d- dunyaa, bahwa perjuangan manusia sesungguhnya adalah menemukan jati dirinya, siapa dirinya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Pijakan lain berupa panduan dari Mbah Nun mengenai “Jam’iyah Pengusaha Sorga”. Serta  4 Tajuk dari Mbah Nun, (1.Ihtimal; 2. Empat  Amniyat Bergembira dan Menikmati; 3. Air Kawah di Akhir Zaman; 4. Yang Percaya, Percayalah. Yang Ingkar, Ingkarlah). Yang garis besarnya adalah tentang “Manusia Nilai, Manusia Pasar, Manusia Istana/Kuasa”.

Bedhol Kayon

Tajdiidu-n-niyaat mempunyai galih yang sama dengan “Panyondro”, sebuah lambaran niat yang diperuntukkan untuk Laku Kasantikan. Untuk itu, saatnya majlis gugurgunung bangun dari masa dorman. Kembali me-remind beberapa proses sinau bareng gugurgunungan yang secara alamiah selaras dengan beberapa dhawuh tersebut. Kemudian segera melanjutkan rakaat-rakaat selanjutnya. Dan Majlis Gugurgunung menyepakati untuk “Bedhol Kayon”. Melanjutkan Laku Kasantikan dengan pijakan Magical moment tersebut, dengan menggelar tema antara lain :

 

LARAS, tema yang membahas tentang :

  • Mengingat kembali amanat utama dan gol utama dalam hidup dengan merunut jauh peradaban demi peradaban sejak sebelum era risalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW hingga terus di ujung mula peradaban Nabi Adam AS.
  • Keluwarga Majlis gugurgunung mencoba membuat penegasan bahwa hidup di dunia ini sangat komplek dan serius, dan kehadiran para utusan itu untuk membuat yang komplek tersebut menjadi tertata dan membenderangi keadaan.
  • Betapa perlunya menyambungkan diri secara LARAS posisi diri kita sekarang dengan sejarah panjang dan serius alasan kita diciptakan.

PADHANG PRANATAN, tema yang membahas tentang :

  • Mengupas makna Negeri, sebuah kawasan nilai yang dipenduduki oleh manusia manusia yang menjaga nilai.
  • Memahami tugas dan peran yang perlu dirintis, dijalankan, dan dibangun dengan semangat menggapai suatu penataan yang berpendar cahaya rahmat Allah SWT.
  • Tadabur QS. Al Balad, untuk menemukan jawaban jawaban tentang Rahmatan Lil Bilad, serta rumusan rumusan menuju kembali pada Al Balad Al Amin.

 

WUNGU, tema yang membahas tentang :

  • “Ngambrukke roso wegah, Nungkulke roso pasrah, numungkul kanthi lilah”.
    “Merubuhkan rasa malas, menundukkan rasa pasrah, menunduk dengan lilah”
  • Pengembaraan diri melalui “Diri yang‘Ain atau Kifayah”
  • Selimut bagi Jiwa, Raga, dan Sukma
  • Wirid Akhir Zaman sebagai Convetter.

 

Pilihan 3 Daur (1. Revolusi Sosial, 2. Revolusi Kultural, 3. Revolusi Spiritual)

Seusai menggelar 3 tema pada 3 workshop, Alhamdulilah Majlis Gugurgunung juga telah menyampaikan pilihan sikap atas pilihan 3 Daur, demikian :

 

Sanubari pergerakan gugurgunung sejak dirintis hingga saat ini adalah yang ke dua, yakni :

  1. Revolusi Kultural

Thariqat             : Pendewasaan dan perluasan sinau bareng

Pelaku Utama : Masyarakat Maiyah

– Makrifat           : Pembaharuan mental dan kejiwaan masyarakat dan bangsa. Ketangguhan di dalam sistem negara apapun.

– Bisyaroh            : Waktu

Model rintisan DAUR yang secara ciri sudah pada DAUR kedua, tetap mengiringi perjalanannya dengan DAUR ketiga : Revolusi Spiritual. Harapannya, jika sudah tersusun kondisi masyarakat Maiyah yang secara Kultural dan Spiritual merasuk ke aspek Sosial sehari hari, lambat laun akan berevolusi pada skala yang lebih luas, dan dalam kehendakNya hal kecil dan sepele akan menjadi hal besar dan mahal.

 

Tancep Kayon

Tancep Kayon, sesungguhnya bisa diperistiwai menjadi sedih, namun juga peristiwa yang menggembirakan. Mengapa bisa diperistiwai secara sedih, sebab landasan utama menjalani Tancep Kayon sebenarnya bukan dalam rangka merayakan apapun, tetapi justru mengevaluasi diri, apakah kegiatan Majlis Gugurgunung selama setahun akan dilanjutkan atau tidak. Menilik pada apa yang sudah mampu diimplementasikan atau minimal ada atau tidak pertumbuhan. Apakah dengan adanya Majlis Gugurgunung mampu mempererat persaudaraan, atau malah justru terjadi perselisihan, baper-baperan, dll. Apakah kita mampu menikmati persaudaraan atau justru mencederai persaudaraan.

Namun kali ini, menilik dari fenomena yang terjadi pada kurun waktu 1 tahun perjalanan Laku Kasantikan yang ke dua ini, maka Tancep Kayon tahun ini kita peristiwai sebagai rasa syukur. Sebuah konsep acara yang sederhana, yang bermaksud mengajak keluwarga dalam hubungan Darah dan Daging, keluwarga dalam hubungan Udara dan Surya, keluwarga dalam hubungan Tanah dan Air, keluwarga dalam hubungan Bumi dan Langit, untuk melingkar bersama, mensyukuri segala karuniaNya.

Facebooktwittertumblr
Posted in Mukadimah.