Nabi Sis & Bangsa Wanara

Facebooktwittertumblr

majlisgugurgunung.com::Pasti bukan hal yang mudah menghadapi makhluk-makhluk rakus yang telah terbiasa hidup saling memangsa selama jutaan tahun. Kekurangan pangan, iklim yang ekstrim, menjadi faktor-faktor yang makin menjauhkan para makhluk ini menjauh menemukan diri sejatinya.  Mereka terlalu lama sibuk dengan cara bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan makanan. Yang kuat mengandalkan kekuatannya, yang lemah mengandalkan kerjasama kelompoknya. Maka ketika ada sebuah tempat yang hadir dengan sangat sempurna, dimana banyak jenis pohon, buah dan binatang melimpah hasil ikhtiar Nabi Sis. Tentu saja keadaan ini langsung menyebar sebagai berita luar biasa. Demi menempati daerah idaman, mereka rela melakukan perjalanan jauh dari pelosok-pelosok tempat di seluruh penjuru Bumi. Ada yang datang dengan cara yang sangat primordial maupun dengan cara yang mutakhir seperti memindah koordinat diri dari satu titik ke titik yang lain secara sekejab.

Nabi Sis bekerja keras menjaga keseimbangan, dia menjadi hakim, polisi, tukang kebun, dan pemimpin sekaligus. Dalam menjalankan ini tidak jarang harus bertempur menaklukkan bagi makhluk-makhluk yang melanggar tata aturan. Kekuatan Nabi Sis ternyata juga luar biasa, sehingga tak ada makhluk yang sanggup mengalahkan. Mereka sangat takut dan tunduk kepada Nabi Sis. Sedikit demi sedikit Nabi Sis membangun kesadaran para makhluk transisi ini.

Penjelajahan ke daerah-daerah lain juga dilakukan Nabi Sis ketika sudah ada makhluk yang bisa dipercaya menjaga Hawadwipa selama Nabi Sis melanglang buana. Bumi makin lama makin benderang dan hangat. Es yang tadinya menutupi wajah Bumi, lambat laun mencair dan menggunung ke kutub di kedua ujung Bumi. Daerah dengan sinar matahari semakin luas, namun kedua kutub pun masih sangat luas, sehingga meski es sudah berkurang tapi iklimnya tetap dominan dingin.

Kini mulai memasuki sebuah kisah yang sangat dianjurkan kepada Anda untuk tidak mempercayainya. Yakni tentang perjalanan Nabi Sis menuju negeri kirdin. Yakni daerah yang banyak didiami kelompok wanara yang ganas dan suka keroyokan, sebab memang demikianlah mereka mempertahankan diri dalam kondisi yang sulit.

Nabi Sis merasa iba kepada kelompok para kera ini. Pertumbuhan spiritualnya lambat dan makin terjerumus dalam kemerosotan. Mereka salah satu kelompok wanara yang over percaya diri, menganggap kelompoknya paling kuat dan tidak mau meninggalkan negerinya meskipun mendengar ada negeri gemah ripah yang dipimpin Nabi Sis. Namun tidak demikian Nabi Sis melihatnya, kelompok kera ini hanya takut terhadap lingkungan baru dan penyesuaian dengan hal baru dan berkemungkinan merubah kebiasaan mereka yang selama ini terbukti efektif mampu dipakai hingga jutaan tahun secara turun temurun meskipun bersaing dengan para Denawa, Diyu, dan bangsa-bangsa lain yang lebih besar dari mereka secara tubuh namun lebih rapuh dalam hal kerjasama. Dan Nabi Sis tahu, ketika semua makhluk terpusat mencari nafkah dari satu sumber yang sama akan memiliki tingkat persaingan tinggi. Para kera ini memilih tetap tinggal karena lahan pangan yang semula dikuasai makhluk lain menjadi milik mereka tanpa repot membuat strategi dan pertempuran. Mereka tidak mendapatkan serpihan surga tapi mereka menguasai sebagian besar dunia.

Indikasi keserakahan ini membuat Nabi Sis mendatangi kelompok para kera ini, yaitu ke negeri Kirdin. Cahaya wajah Nabi Sis yang benderang membuat para kera lari tunggang langgang menyembunyikan diri, sedangkan pemimpin kera yang kuat dan berani hanya menyeringai sambil menjaga jarak. Nabi Sis dengan kemampuannya menembus getaran dada para binatang ini mengadakan komunikasi dengan mereka. Dalam wadag mereka yang kera, sangat mungkin didiami oleh suksma yang hendak menyempurnakan diri tapi ada juga yang masih sekedar berjiwa kera. Akhirnya Nabi Sis dengan tanpa kesulitan mengambil beberapa pimpinan kera untuk dimanusiakan secara wadag. Sebab jika tetap berada di wadag kera, ruhani yang seharusnya turun untuk menyempurnakan diri dan menuju jalan kembali akan terus terjebak pada wadag kera yang kualitas hidupnya bisa menjauhkan dari kadar kemanusiaan.

TAHLUKAH

Seperti yang dikisahkan sebelumnya, bahwa ada pemindahan suksma besar2an ke arcapada Bumi karena adanya bencana peperangan yang memusnahkan segalanya di sebuah arcapada lain. Dan Bumi dilihat sebagai planet yang masih berada di level arcapada dipilih sebagai tempat pemindahan itu. Namun Bumi juga baru mengalami perombakan yang menjadikan para khalifahnya ditenggelamkan. Sedangkan manusia sebagai pengganti kekhalifahan belum diturunkan, maka suksma-suksma itu dipindah sementara di wadag-wadag primata berdarah panas yang sebetulnya masih belum memenuhi syarat sebagai wadag suksma khalifah. Sebab, sebagai badan jasmani yang menyangga tugas khalifah, ‘peranti keras’ yang diperlukan tidak segampang dan sederhana monyet yang hanya diformat sekedar mampu menampung jiwa.

Beberapa monyet besar yang dilihat Nabi Sis di negeri Kirdin ini sudah mulai diletakkan dalam jasad yang semestinya. Jasad manusia yang dilengkapi dengan; penangkap sinyal. Radar. Gardu-gardu penjagaan di kanan-kiri, depan-belakang. Wadah rahasia yang menampung file dan data dalam quota tak terbatas, hingga dipasangkan Alif sebagai bakti jasad kepada nasehat dan perintah Suksma. Ini semua dilakukan oleh Nabi Sis dengan izin dan ridhlo Allah swt. Tubuh kera yang panjang tangan ini pun berubah. Tangannya memendek, maka dia nanti akan lebih banyak menggenggam daripada bergantung. Kaki sedikit memanjang, jempol kaki bersejajaran dengan jari kaki yang lain maka nantinya dia tidak takut menginjak bumi dan melangkahkan kaki. Tidak sekedar meraba bumi diambil yang diperlukan lantas dibawa naik dan dinikmati di atas. Mulut yang moncong dipereskan dan hidung dipanjangkan, otak belakang ditonjolkan, sekarang wajahnya seperti manusia pada umumnya hanya bulu2nya masih lebat. Ekor dihilangkan dan diganti punggung yang bongkok itu dengan Alif yang menegakkannya. Akhirnya para monyet yang dipilih Nabi Sis ini telah berganti jasad sebagai manusia. Para suksma yang selama ini tidak menyadari terperangkap hijab yang tebal seperti ditarik kembali pada benderang cahaya. Mereka menyadari akan pertolongan besar ini, mereka bersujud tanda terimakasih kepada Nabi Sis atas kerelaannya mengembalikan hakekat perjalanan ruhani mereka. Tugas yang telah tunai ternyata tidak sama dengan purna, karena masih ada lanjutan gerbong peristiwa berikutnya.  Nabi Sis kembali ke Jawa, pulau penuh hawa. Dan melanjutkan titah-titahNya yang harus dilakukan di muka Bumi. Para monyet ini dikembalikan ke habitatnya untuk mengakarkan ajaran uluhiah kepada anak buahnya.

Maka kembalilah mereka semua dan dari situ akhirnya lambat laun negeri Kirdin terlepas dari wadag kera dan menjadi manusia yang menyangga kekhalifahan. Namun, keadaan perubahan wadag para kera menjadi manusia secara serampangan ini tidak dilakukan oleh Nabi Sis. Melainkan oleh Smoro yang menganggap langkah yang dilakukan Nabi Sis harus ada konsekuensinya. Yaitu bahwa ketika makhluk Bumi telah menyandang kekhalifahan, maka harus berhadapan dengannya. Smoro menjelmakan diri seperti rupa nabi Sis dan menyebut dirinya sebagai Kawah/Iawa/Yawah, ajaran-ajaran dibelokkan sebagai ujian pikir, analisa, akal, iman, dan ketaqwaan mereka. Bangsa kera ini serta merta menjadi semacam dadu atau bidak catur yang dimainkan Smoro dan Nabi Sis. Keadaan mereka untuk menjadi lebih baik dan mengikuti ajaran Nabi Sis tidak mudah, karena makhluk ini semacam monumen atau tanda kesempurnaan manusia ataukah catatan gagal dalam sejarah manusia. Maka Smoro sungguh menciptakan suasana yang mengaburkan pemahaman bangsa Kirdin ini.

DEWI DELAJAH / DLAJAH

Dewi Delajah yang juga telah menjadi perawan, sudah matang usia juga untuk menikah. Dewi Delajah diberi pemahaman oleh Smoro bahwa janin terbentuk dari 4 susunan dasar. Marmati, Kawah, Getih, Ari-ari. Marmati adalah perasaan takut, maka dimintakanlah kepada Allah atas dasar rasa takut Smoro. Sesungguhnya adalah takut mati, maka Smoro melanjutkan bahwa kematian adalah sesuatu yang menakutkan sebab kehidupanlah yang memberi adegan kematian. Sedangkan hidup diadakan oleh Yang Maha Hidup. Maka kematian adalah kesunyian dan kehampaan yang tak terbayangkan. Dia Maha Hidup, maka kita harus takut mati untuk bersatu kepada asal usul Yang bersifat Baqo (Abadi). Andaikanpun ada kematian raga, itu bukanlah kematian karena sesungguhnya itu hanya cara memasuki kehidupan selanjutnya.

Kawah, adalah gelembung kuwaya yang melingkupi Janin di dalam Rahim. Sekaligus pelicin untuk jalan Janin menuju kelahiran. Kawah ini Khazanah, amis dan menjijikkan, itulah aku yang membisiki dengan menyangga amis dan jijik, dicitrakan buruk tapi membantu janin menjumpai hawa dunia. Kawah aku tambahkan dariku untuk unsur yang kau perlukan. Kawah itu memiliki 4 unsur : yakni 1; babar buana yaitu membabar alam, 2 ; galur jagad ; galih dan alur dunia, 3 ; rawangin ; gelar jagad yang berupa air dan angin, dan ada yang ke empat namun aku tidak perlu menyampaikannya kepadamu.

Getih, kamu telah mendapatkannya dari bunda Hawa. Kamu mewarisi tunggal catatan2nya, maka kamu wanita sejati, dan andaikanpun nanti engkau melahirkan pria sebagai keturunanmu, dia akan lebih cepat memahami wanita bahkan berani menjadi wanita sebagai salah satu pedoman pria utama.

Ari-Ari, adalah sambungan dari pusat hidupmu. Yang mensuplai kebutuhanmu secara ghaib. Kamu akan ditandai dengan pusar pada perutmu nanti, untuk menandai bahwa hari harimu tidak terlepas dari pengawasan, perhatian, fasilitas, dan kasih sayang tiada henti dariNya. Maka aku mintakan itu kepada Allah atas nama Rohman RohimNya dan atas kekuasaanNya Setelah 4 unsur lengkap, aku mintakan kepadaNya untuk meniupkan Ruh atas nama Allah Yang Maha menghidupkan yang mati, ataupun mematikan yang hidup.

Maka ketika itu dikabulkan, maka gumpalan darah itu menggeliat, mawujud, makin menyempurna menjadi jabang bayi. Kamu bayi yang bajang sebelumnya kini menjadi jabang abang. Bahkan kini kamu telah menjadi prawanita, untuk menjadi wanita kamu harus menyangga benih seorang pria. Karena Dewi Dlajah tidak mungkin menikah dengan keturunan Nabi Adam, dan tak mungkin pula menikah dengan golongan Banujan. Maka Smoro mengatur siasat agar benih yang dikandung Demi Dlajah nantinya adalah benih paling baik. Nabi Sis dipilih atas pertimbangan-pertimbangan yang memenuhi syarat kategori unggul bagi Smoro.

Pertama, Smoro tau bahwa doa Nabi Adam pasti dikabulkan Allah swt. Dan Nabi Adam yang sangat menyayangi Nabi Sis berdoa kepada Allah agar dari keturanannya menjadi pemimpin dan lebih unggul dari keturunan putra-putranya yang lain Kedua, Nabi Adam adalah manusia yang dididik Allah langsung, sehingga kemampuannya optimal dan telah tercatat dalam aliran darah jasadnya. Nabi Sis yang merupakan ‘belahan’ Nabi Adam hanya memiliki catatan Adam 100 persen tanpa ada unsur Siti Hawa, sehingga 100 persen catatan Sis adalah 100 persen catatan Adam yang berpengetahuan unggul. Ketiga, Allah senantiasa menciptakan makhlukNya secara berpasang-pasang, maka jika Nabi Sis telah bersanding kepada Dewi Mulat, tidaklah lagi ada yang menjadi pasangan Dewi Delajah.

Maka berdasar sejarah asal usul, Smoro berpendapat bahwa pasangan tepat bagi Rahsa Adam yang menjelma Sis harus bersanding dengan Rahsa Hawa yang menjelma bajang/Delajah. Dan beberapa alasan lain. Akhirnya Dewi Delajah diserupakan dengan Dewi Mulat, sedangkan Dewi Mulat yang asli disembunyikan. Dan setelah Delajah yang disangka Mulat berhasil mendapat benih Sis, Mulat dikembalikan dan Nabi Sis tidak tau muslihat ini.

Smoro yang berperan menjadi pamomong tidak memiliki hak mengkhalifahi Bumi. Karena hanya manusia yang dilantik sebagai khalifah Bumi. Tapi Mulat dan Sis secara teknis murni manusia juga anak turunnya, begitupun pula Delajah, Smoro hanya mengkontribusi kawah dan ikhtiar pembentukan. Untuk prosesnya yang tidak alamiah, Nabi Adam melakukannya terlebih dahulu pada sejarah pembentukan wadag Nabi Sis. Kemudian Dewi Mulat dan Dewi Dlajah sama-sama mengandung dan melahirkan. Dan kisah berikutnya adalah kelahiran Sayid Anwas dari rahim dewi Mulat dan Sayid Anwar dari rahim dewi Delajah. Hingga satu dasawarsa Sayid Anwar bersama ibunya dewi Dlajah hingga kemudian ia menanyakan bapaknya. Dikatakanlah bahwa dia adalah putra Nabi Sis, sekaligus cucu dari Baginda Adam.

_______________

Intinya kemudian Sayid Anwar tidak menerima hal ini dan sedih luar biasa karena Nabi Adam ternyata bisa sakit dan bahkan meninggal dunia. Anwar menyangka itu adalah “kemusnahan” bukan cara menuju “perjalanan berikutnya”. Dia akhirnya pergi melalang buana untuk mencari kesejatian. Menjadi makhluk immortal dan sakti. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi bertemu dengan kakeknya Smoro. Oleh Smoro, Sayid anwar dikenalkan pada ilmu-ilmu yang tidak lumrah, dan berbeda dari ilmu yang dibawa dan diajarkan oleh kakeknya Nabi Adam.

Ilmu yang tidak lumrah disini adalah seperti bertapa, melanglang buana di tempat-tempat angker dan penuh bahaya, kungkum, mandi dan minum air kehidupan dan lain sebagainya yang tujuan terbesar Sayid Anwar adalah untuk menemukan keabadian. Banyak versi yang kemudian mengkaitkan tempaan batin Sayid anwar ini melahirkan golongan Dewa. Namun tidak cukup untuk dijelaskan saat ini tentang distorsi informasi yang salah interpretasi tentang terminologi itu. Tapi secara ringkas begini :

Sayid Anwar dengan bermacam perjalanannya akhirnya menemukan realitas yang ‘menyimpang’ dari realitas alur kehidupan dunia. Sehingga bisa dikatakan meninggalkan realitas badan jasadiah kemudian memasuki realitas badan batiniah. Sebab berada dalam jalur yang menyimpang itu pula, maka Anwar tidak menyadari bahwa perjalanannya telah berada di alam jiwan. Yang dilihat dan disaksikannya pun tidak pada bentuk jasadnya tapi pada titah jiwanya. Misalnya dia melihat gunung, dalam mata jasad hanya kecil namun dalam mata batin Anwar justru tampak besar karena titah yang dibawa gunung itu besar. Tapi meski demikian sesungguhnya yang dialami Anwar juga bukan alam hakiki, meskipun bersifat batin tapi masih dalam mekanisme arcapada, alam perumpamaan, alam kias yang berbeda dengan alam arwah sesungguhnya. Maka mekanisme kematian jasad seakan tidak pernah terjadi dalam diri Anwar karena terus menitis dalam raga-raga berikutnya, dia memilih cara peragian raga yang pada titik tertentu dia kehilangan kodratnya sebagai manusia yang lapar dan mengantuk. Raga yang demikian menjadi raga yang sangat baik bagi Smoro untuk masuk, namun sebelum masuk Smoro memberi ilusi surga dan neraka kepada Anwar dengan ilmu Kawah Babar Bawana.

Terlihat indah surga dan tampak seram neraka. Smoro mengaku dirinya sebagai Tuhan yang memiliki surga dan neraka. Maksud Smoro adalah yang mengadakan ilusi tadi berkat kemampuan spiritual yang dimilikinya. Namun Anwar yang menerima kalimat itu tidak berfikir panjang, dia langsung melahap kalimat itu sebagai keyakinan bahwa kalimat Smoro benar adanya. karena sudah merasa terpikat dengan keindahan surga yang dijanjikan Smoro akan bisa dia miliki, maka syarat apapun dia akan persembahkan. Maka Smoro menitis pada raga Anwar, dan bersatulah pengetahuan mereka dalam satu wadag. Namun pengetahuan yang bisa bersatu itu adalah pengetahuan yang porsinya sedikit karena harus tunduk kepada peraturan Bumi yang serba terbatas dan serba kemungkinan. Meski demikian pengetahuan sedikit Smoro ini sangat membuat Anwar percaya diri dan makin terpikat dengan luasnya pengetahuan Smoro.

Dengan demikian Smoro menanamkan doktrin bahwa Anwar adalah Tuhan. Disitu kesadaran jasad Anwar terlepas dan yang tertinggal hanya kesadaran angan. Dia tidak menyadari jasadnya telah lebur, sedangkan andai ada yang melihatnya dengan kemampuan batin, Anwar hanya tampak sebagai bulatan cahaya. Suatu ketika dia mampu mengalahkan lagi raja Banujan di negeri Maladewa yang bernama Naradi, secara jiwan ada keterpautan dengan Smoro yang telah sebelumnya mengalahkan Banujan2 unggul yang kemudian menjadi pengikutnya. Naradi yang kalah akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada Anwar yang kemudian berjuluk Sang Hyang Nurcahya. Bukan hanya raja, namun dia juga dianggap Dewa. Artinya konsep Dewa telah ada sebelumnya, yang kehadiran Anwar menjadikan sangat indikatif dengan kehadiran Dewa. Karena Anwar yang sekarang telah berjuluk Sang Hyang Nurcahya begitu luar biasa kesaktiannya, maka sematan2 dan sebutannyapun semakin menjadi-jadi. Sehingga penuhanan kepada Anwar makin dibentuk oleh para Banujan. Menurut serat Paramayoga inilah sebutan-sebutan kepada Anwar ; Sang Hyang Nurcahya, Sang Hyang Dewata, Sang Hyang Dewapamungkas, Sang Hyang Ngwatmawedha, Sang Hyang Suksma Kawekas, Sang Hyang Suksma Wisesa, Sang Hyang Amurbaningrat, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Warmana, Sang Hyang Warmata, Sang Hyang Maha Widhi, Sang Hyang Maha Sidhi, Sang Hyang Maha Sidhem, Sang Hyang Maha Mulyo, Sang Hyang Moho Tinggi, Sang Hyang Moho Luhur, Sang Hyang kahanan tunggal, Sang Hyang Jagad murtitaya.

Demikian juga ketika anak turunnya lahir senantiasa diberi julukan dan nama-nama yang superior. Sebab pernikahan Anwar dengan Banujan serta merta secara teknis adalah pernikahan spirit bukan lagi pernikahan raga, meskipun Anwar menyangka bahwa segala yang menjadi realitasnya adalah meraga atau nyata adanya. Jadi ketika anak Anwar yang menikah dengan putri Banujan terjadi, anak yang lahir adalah berupa Rahsa. Yang dalam kehidupan jasad, tidak nampak sehingga tidak dianggap ada kelahiran. Rahsa ini kemudia disiram dengan air hidup dan jadilah jabang bayi yang diberi nama Nurasa.

Perjalanan kehidupan ini ibarat cabang kehidupan baru dari jalur kehidupan dunia arca yang bersifat jasad. Dan seperti halnya kehidupan, perjalanan peradaban ini terus berkembang dan memiliki bahasa penyampaian sendiri dalam menata kehidupan. Salah satunya adalah konsep mempersatukan diri atau menitis, sehingga dua jiwa menyatu berikut juga pengetahuannya. Hal pengetahuan ini disebut sebagai ‘Pustaka Darya’, khazanah yang tidak disimpan dalam benda namun terkancing dalam rasa.

Keadaan ini menjadi menguntungkan bagi Smoro karena kini telah memiliki pasukan gabungan antara golongan jin dan manusia. Tapi ibarat cerita besar, Smoro sebenarnya baru sedang menganyam tikar, belum menggelarnya. Sedang menyiapkan tokoh-tokoh yang akan melaksanakan tahapan-tahapannya. Pos yang di alam batin sudah dipasang, begitu pula pos yang dipasang di dunia dhohir. Ada Qobil dan kembarannya Alimah, Dayunah, Lata, Uzza, juga ada yang di tengah anatara lahir atau batin : Haruto, Maruti, Yakjuja, Makjuja. Tokoh tokoh ini menyebar di titik benua Bumi. Maka ketika Benua makin menghijau. Peradaban pun makin beragam dan hingga kemudian diturunkan utusan-utusan untuk menyelaraskan keadaan.

Insya Allah bersambung

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel, Kembang Gunung and tagged , , , , , , .