MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– HUKUM KERUMUNAN, HUKUM TUHAN –

Mas Kasno kemudian mengajukan pertanyaan kepada Mas Sabrang. Jika sedang melingkar dapat diartikan sebagai kerumunan lebah, lalu bagaimana maksud melingkar ke dalam dan melingkar keluar seperti yang pernah diucapkan Mas Sabrang ketika workshop di Semarang yang kala itu dipanitiai oleh Mas Yunan dkk yang kebetulan juga hadir malam ini. Kemudian akan dijawab oleh Mas Sabrang namun tidak langsung kesana. Sebab menurut beliau ada sesuatu yang krusial untuk direspon, sebab tadabbur Mas Sabrang tak dikira sampai ke pembahasan ini namun karena “pintu”nya masuk kesana jadi alangkah lebih baik untuk direspon dahulu. Secara analogi paralel, apa yang diajarkan oleh sistem lebah justru lebih mendekat ke arah “komunisme”. Tetapi ada juga perbedaannya.

Komunisme juga merupakan salah satu hasil tadabburnya manusia. Kemudian Mas Sabrang mengajak untuk menganalisa terlebih dahulu. Untuk menjadi bermanfaat maka syarat pertama ialah surplus komoditi dan akan menghasilkan manfaat. Bagaimanakah untuk menjadi surplus? ialah kerja sama yang tertata rapi. Untuk mencapai kerja sama yang tertata maka paling mudah ialah dengan dipaksa dan kedua ialah sukarela.

Antara manusia dan hewan menurut Mas Sabrang bahwa hewan mereaksi sebuah kejadian sedangkan manusia mestinya merespon kejadian bukan bereaksi. Kemudian Mas Sabrang memaparkan perbedaan antara reaksi dan respon. Reaksi dilakukan secara langsung tanpa berpikir, sedangkan respon dilakukan dengan cara diserap dan dipelajari terlebih dahulu.

Di awal dikatakan oleh Mas Sabrang bahwa lebah menerima wahyu. Sebab tidak mungkin menata lebah sedemikian rupa dengan menggunakan konsep ketakutan. Lebah pekerja berangkat pagi dan pulang sore, jika tak dilakukannya maka tidak ada pula yang menghukumnya. Lalu sebenarnya apakah yang membuat mereka berbuat demikian. Sebab lebah mereaksi, maka harus ditanamkan pada dirinya tentang apa yang mesti dilakukan.

Mas Sabrang memang tidak mempelajari lebah, yang dipelajarinya adalah semut. Tapi ada satu persamaannya yakni kerumunan, sebab dengan adanya kerumunan maka akan menghasilkan surplus. Semut juga hampir sama. Tidak ada menteri tenaga kerja disana, namun semua mengerjakan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Mereka hanya menjalankan peraturan sederhana yang kemudian menghasilkan kepandaian yang lebih tinggi. Menurut pengalaman Mas Sabrang, di semut ada beberapa peraturan sederhana. Pertama yakni mau bersilaturahmi terbukti setiap semut bertemu pasti bersalaman dan yang kedua ialah berani untuk menjadi. Setiap bersalaman maka semut akan mendapat data. Misalkan sudah bersalaman sejumlah berapa kali kok tidak bertemu semut tentara maka ia akan menjadi semut tentara. Atau sudah bersalaman berkali-kali kok tidak bertemu semut pekerja maka ia akan menjadi semut pekerja.

Hanya dua hal yang dijalankan namun menjadi kerumunan dengan sistem yang sangat rapi, sebab mereka hanya bereaksi. Mesin reaksi ditanamkan dalam sistem biologi. Demikian halnya dengan lebah, meskipun pada lebah terjadi sistem yang lebih kompleks lagi. Mereka bisa menemukan lokasi bunga berjarak 100 meter tanpa berbicara, tanpa internet apalagi sosmed. Cara tersebut sudah mereka miliki sejak lahir, meskipun dalam sebuah penelitian disebut dengan sebuah tarian untuk menunjukkan jalan menuju sebuah lokasi. Jika hanya berhenti pada sistem tersebut maka akan menjadi sistem komunis. Agar tidak berhenti pada komunis, maka sistem penataan tersebut bukan berdasar pada paksaan namun pada kerumunan yang menyadari perannya.

Membicarakan tentang peran merupakan hal yang abadi pada setiap kumpulan. Peran akan mengikuti zaman. Dalam kumpulan yang kecil maka pecahan perannya pun akan lebih sederhana demikian sebaliknya. Dalam dunia internet saat ini muncul lebih banyak lagi jenis-jenis peran atau pekerjaan baru yang belum ada sebelumnya seperti programmer. Tidak mungkin akan muncul pekerjaan tersebut pada tahun 1945. Peran akan terus berkembang meskipun core atau intinya sama klasifikasinya dengan yang diungkapkan Mas Agus.

Pada sebuah contoh fenomena misalkan kita sangat tertarik pada sesuatu hal lalu seketika kita ubah menjadi sesuatu yang lain. Pasti akan sangat sulit. Ada sebuah pertanyaan dalam fenomena tersebut, sebenarnya siapakah yang mengontrol ketertarikan tersebut? Sebuah tadabbur Mas Sabrang terkait hal tersebut. Pada intinya setiap manusia memiliki akal dan kompleksitas yang melebihi orang lain. Setiap manusia sebenarnya ingin menjadi diri sendiri sebagaimana sejatinya yang telah diciptakan oleh Tuhan. Tetapi setiap manusia tidak paham sebab belum memiliki ilmu. Maka kita diberi ketertarikan, dengan demikian kita akan mempelajari ketertarikan tersebut hingga kita memiliki kesempatan menggali ilmu. Sebuah ilmu diperlukan untuk mempelajari dan membuka diri kita yang sejati. Demikianlah cara mengajari diri sendiri tanpa disadari untuk menemukan peran.

Namun sebuah ketertarikan masih terikat dengan nafsu dan amarah. Maka kita diajarkan untuk berpuasa. Dari puasa ada yang dipelajari oleh Mas Sabrang yakni ketika belum waktunya berbuka maka menginginkan untuk memakan banyak hal. Tetapi apa yang terjadi ketika sudah waktunya berbuka? Apakah dimakan semua atau hanya sekian persen saja dari keinginan tersebut? Berarti mimpi yang datangnya dari nafsu ternyata menipu. Keinginan datang dari ketidakmampuan atau ketidakbolehan tadi. Ketika nafsu ditahan maka menjadi nesu-nesu atau amarah yang keluar. Ketika nafsu dan amarah ditahan maka menjadi malas untuk berbuat sesuatu hingga ingin tidur saja ketika berpuasa. Ternyata mesin bergerak kita selama ini hanyalah nafsu dan amarah. Namun melihat gojek yang tetep rajin narik, ada yang bekerja lain tetep rajin pula. Berarti ternyata ada mesin yang lain juga yakni mesin tanggung jawab. Sebuah mesin yang bertanggung jawab untuk memenuhi perannya. Dan menggali ilmu dari kesalahan sebuah tanggung jawab akan menjadi tahap kedewasaan berikutnya.

Sebuah kumpulan akan berjalan baik ketika menjalankan peran tersebut berdasar pada kerelaan dirinya dan kesadaran tanggung jawab bukan atas dasar paksaan. Hal ini yang ingin didorong oleh Allah meskipun harus dicontohkan melalui sebuah reaksi pada lebah dengan outputnya adalah madu dan ketertataan yang sangat baik. Dengan sistem kerajaan atau seperti China, dlsb maka segala keputusan akan diambil dengan cepat. Berbeda dengan sistem demokrasi. Namun bukan pula sistem tersebut buruk, sebab merupakan sebuah proses pendewasaan. Memang segala keputusan diambil lebih lambat namun kita semakin belajar untuk melibatkan kerumunan banyak orang dalam pengambilan sebuah keputusan. Jika raja yang mengambil keputusan, maka pada peta yang lebih besar akan menjadi tanggung jawab yang lebih berat pula. Demokrasi juga merupakan satu-satunya cara menata kerumunan dimana memungkinkan untuk melakukan pemindahan kekuasaan tanpa adanya pertumpahan darah. Ini adalah proses menuju menjadi society seperti lebah namun dengan kesadaran masing-masing bukan dengan paksaan.

Setahu Mas Sabrang pula tidak ada satupun nabi yang meninggalkan sistem kepemimpinan. Semua nabi adalah bagaimana membangunkan pribadi masing-masing. Jika kepribadian sudah terbangun maka kepatuhan akan terbangun pula bukan atas paksaan. Contoh kepatuhan yang bisa dilihat ialah malaikat. Malaikat patuh bukan karena sekedar diciptakan menjadi patuh, justru karena pengetahuan dan kesadaran yang tinggi. Hingga akhirnya mereka menjadi patuh dan “menyerah” atau pasrah pada keadaan. Bahkan ada pula yang mendefinisikan bahwa Islam adalah bagaimana seseorang “menyerah” pada hukum Tuhan.

Sebuah kerumunan jika bekerja sama maka akan menjadi makhluk yang baru lagi. Contoh sederhana ialah sel dalam tubuh memiliki pengetahuan dan independensinya. Setiap sel bekerja tanpa kita perintah, tetapi di dalam sistem yang lebih besar yakni sistem manusia maka mereka patuh terhadap akal. Ada yang disebut swarm inteligence atau kecerdasan dari sebuah kerumunan. Apa yang dilakukan oleh kecerdasan masing-masing maka akan terlihat apa yang menjadi kecerdasan suatu kerumunan. Ke depan akan menjadi apa, tergantung pada sebab akibat didalamnya.

Hukum kerumunan.

Kita semua berlaku pada hukum. Lalu sebenarnya apakah hukum itu? Hukum ialah rel dari sebab akibat. Ada rentang hukum yang paling dasar yakni hukum alam. Tanpa kita sadari kita pun sebenarnya mempercayai hukum alam berdasarkan sebab akibat. Karena kita percaya hukum alam maka dalam buang hajat misalkan, kita percaya bahwa kotoran tersebut akan jatuh ke bawah bukan malah naik mengenai badan. Itulah hukum alam yang kita percayai secara bawah sadar yakni gravitasi. Semua makhluk di bumi ini akan mempercayai hukum alam tanpa sadar. Mau tidak mau tak akan lepas dari sunatullah itu tadi.

Di ujung atau sisi yang lain ada hukum manusia. Itu adalah hukum sebab akibat. Mencuri, membunuh, merampok dll ya hukumnya dipenjara namun ini bukan hukum alam. Hukum manusia hanya menjadi pagar bukan menjadi pengatur dalam sebuah kerumunan. Karena hanya akan berlaku jika dilanggar. Karena hanya berfungsi sebagai pagar maka resolusinya rendah. Sehingga hanya berakhir pada sebatas mencuri maka dipenjara, tidak bisa dikejar sampai mengapa seseorang tersebut mencuri. Bagaimana jika mencuri karena lapar? Sementara di sekitarnya ialah orang-orang yang mampu, maka siapa yang turut salah juga sebenarnya?

Hukum manusia tidak pula salah, namun kita hidup hampir selalu berada di tengah-tengah hukum manusia dan hukum alam. Tersebutlah hukum istiadat, hukum sopan-santun dst. Seperti yang diceritakan oleh Mas Agus tadi misalkan ada orang yang membawa motornya ke cucian motor. Selesai dicucikan langsung dikencingi motor tersebut oleh yang punya dan minta untuk dicucikan lagi. Apakah orang tersebut melanggar hukum?

Menurut Mas Sabrang orang yang paling fitri ialah orang yang paling dekat berada di garis hukum alam. Sebab ia dekat dengan hukum Tuhan.

Lebah hanya bisa patuh pada hukum alam dan tidak bisa membuat hukumnya sendiri. Segala yang dilakukannya tidak bisa lepas dari hukum Tuhan. Baik hukum alam pada dirinya sampai pada hukum alam pada DNA-nya. Sementara manusia memiliki rentang dari hukum manusia sampai hukum alam. Sehingga lebih banyak pula peluang untuk mendapat kesalahan. Memang ada sisi negatif namun juga ada sisi positifnya. Yaitu hanya yang memiliki rentang demikian yang bisa untuk menjadi seorang khalifah. Yaitu hanya pihak yang bisa merespon sesuatu dan bukan sekedar reaktif yang berpotensi untuk menjadi khalifah.

Lagi-lagi Mas Sabrang mentadabburi bahwa tidak semua orang terlahir otomatis menjadi khalifah. Ia harus membuktikannya sebagai abdi terlebih dahulu. Yaitu abdi kepada hukum alam pada dirinya, jujur pada dirinya sendiri. Sebab itulah yang akan menjadi kompas untuk menuju hukum lain yang lebih “tinggi”.

Memang betul kita dapat belajar kepada penataan yang sudah jadi yakni yang disebut lebah, ia menghasilkan surplus, manfaat dll tetapi pada kepenataan itu kita harus mengintegrasi komponen yang kita miliki dan tidak dimiliki oleh lebah. Adalah Freewill, kebebasan dalam berpikir, bereaksi, melakukan sesuatu.

Hal tersebut harus kita integrasi seperti lebah bukan untuk menjadi lebah. Karena Tuhan ciptakan manusia tertata seperti lebah, tetapi menjadi lebah karena kesadaran manusia dengan ini akan menjadi khalifah yang sebenarnya. Dalam level kenegaraan mungkin tidak akan bisa pada umur kita, namun dalam sisa umur kita saat ini alangkah baiknya jika kita terus move forward lebih menjadi lebah yang sadar responsif bukan sekedar reaktif.

Sesi Tanya Jawab

Pertama ada Mas Wibisono dari Purworejo yang menanyakan wedharan dari kata bhineka tunggal ika. Kedua ada Mas Zidni dari Brebes yang menanyakan hal-hal apa sajakah yang dapat membantu untuk menemukan jati diri. Ketiga Mas Joko Sriyono dari Ungaran yang menpertanyakan tentang pencarian nafkah, bagaimanakah tentang bekerja yang tawakal namun pada akhirnya menyerah karena berkali-kali gagal.

Respon pertama dari Mas Agus yang telah di-remind oleh Mas Kasno tentang bahasan tema beberapa edisi lalu tentang Manajemen Kebhinekaan. Disini Mas Agus mencoba merespon sesuai dengan apa yang telah didiskusikan pada beberapa bulan lalu tersebut, meskipun hal ini juga kurang matching dengan apa yang kita pahami di sekolahan. Tetapi karena kalimat Bhineka Tunggal Ika sudah ada semenjak belum ada sekolahan maka Mas Agus mencoba mengulik makna lain dibalik kalimat tersebut. Bhineka berarti beraneka, Tunggal adalah satu dan Ika bisa berarti satu namun bisa juga diartikan sebagai kalimat untuk menunjuk. Dalam Jawa bisa dibaca dengan iko. Sehingga menjadi berarti “beraneka tapi yo siji kae”.

Tan Hana Dharma Mangrwa. Sebab tidak ada perilaku atau attitude yang mendua. Semuanya ingin mengemukakan hal yang sama yakni kebaikan, kebenaran dan keindahan dengan caranya masing-masing. Tidak harus manis berarti baik, pahit pun bisa jadi baik seperti halnya pare. Atau pedas pun baik seperti cabai, dan asin pun baik seperti halnya garam. Semuanya memiliki fungsinya sendiri-sendiri asalkan masing-masing pihak mengerti bahwa satu dengan yang lain mampu mengelaborasikan dharmanya menjadi satu yang tunggal. Makanya kita memerlukan satu pancer tunggal yang menjadi alat kontrol kesadaran kita untuk berperilaku di dalam kehidupan.

Pak As’ad di depan telah memberikan pola berpikir yang bisa mendorong kita untuk berperilaku secara lebih proporsional dalam hidup yang tertata dan beragama. Memang dicontohkan China, juga oleh Mas Sabrang dengan penjelasan sistem “komunisme”nya. Namun ini baru sistem Malik, dan belum menyentuh pada Robb dan Illah. Namun bagaimana jika penerapan bhineka tunggal ika dari lebah ternyata menggunakan sistem malik, robb dan illah sekaligus?

Penyikapan malik terkadang bisa dipergunakan. Misalkan dalam khitan, maka harus menggunakan pola radikal dengan sekali potong dan selesai. Pola illah ialah bagaimana kita menggelembungkan vibrasi dalam diri kita secara positif untuk mengkaitkan bahwa ada kita, orang lain dan juga Tuhan yang senantiasa harus berputar siklikal di dalam hidup.

Mas Aniq turut merespon tentang pertanyaan seputar jatidiri. Manusia merupakan Makhluk ciptaan Allah. Jika Allah pasti menciptakan manusia dengan dasar logika kerahmatan, maka mengapa manusia tidak menggunakan “logika Tuhan” dimana sebenarnya manusia tercipta untuk menghamba. Hal ini berkaitan dengan sisi nubuah, risalah dan walayah.

Sisi nubuah, ibarat manusia hadir dengan hamba kerahmatan. Bagaimana manusia bisa hadir menghamba dan bisa menampilkan diri sebagai hamba. Yang mana tampilan kehambaan merupakan sesuatu yang penting. Proses penghambaan ini harus didasari cinta atau kerahmatan. Proses manusia untuk menjadi manusia yang menghamba secara individu ialah untuk menjadi pencinta harus mencintai. Minimal diawali dengan mencintai diri sendiri. Bersyukur bahwa diciptakan sebagai seorang manusia.

Nubuah, seakan diri ini menjadi wayangnya Allah. Tetapi bukan pula sampai bermaksud menganggap diri adalah Allah. Jika sudah sampai pada menghamba maka tidak cukup untuk berhenti pada nubuah namun juga berpotensi untuk risalah. Risalah merupakan duta kerahmatan. Hal ini tentang kehidupan sosial, bebrayan, gugur gunungan. Manusia yang mampu menyampaikan cinta. Potensi berikutnya yakni walayah, merupakan manusia yang mampu terus melestarikan cinta dan kerahmatan. Rasulullah selain menghamba, merisalah namun juga mewalayahi. Mewalayahi suatu keadaan, peradaban.

Tentang pertanyaan ketiga direspon langsung oleh Mas Sabrang. Menurut Mas Sabrang, tidak wajib bekerja namun karena kita berada di rel sebab-akibat maka ya ada akibatnya. Apa yang wajib dan tidak berada di pilihan kita. Demikian ialah efek samping dari sebuah tanggung jawab. Bekerja tidak wajib, namun efek samping yang harus diambil karena bertanggung jawab terhadap istri dan anak. Jika tadi dalam pertanyaan diceritakan bahwa berusaha terus dan gagal terus maka sebaliknya bagi Mas Sabrang yang merasa tidak pernah gagal. Terkesan kalimat sombong memang namun karena kegagalan dan keberhasilan juga kita sendiri yang berhak menggariskan. Jika gagal terhadap sebuah keuntungan maka berhasil urusan ilmu. Ada yang disebut profit ada pula yang disebut benefit.

Kita mengetahui istilah personality, berasal dari bahasa yunani yakni persona. Persona merupakan istilah yang digunakan dalam teater di yunani. Persona adalah topeng yang dipakai dalam sebuah keadaan tertentu. Namun permasalahannya terkadang kita lupa bahwa kita memakai topeng. Misalkan topeng kejujuran kita anggap sebagai topeng yang baik. Namun misalkan ada orang yang sedang membawa bom, lalu menanyakan di masjid sedang ramai atau tidak, maka apakah kita masih memakai topeng kejujuran ataukah harus kita langgar topeng kita tersebut. Karena kita memiliki pandangan yang lebih besar dibanding persona tersebut. Pemain bola tidak mungkin membawa personanya dalam kehidupan. Tidak mungkin ketika tidak sedang berada di lapangan melakukan sliding-sliding sembarangan.

Dalam bisnis memiliki persona jual beli yang harus untung. Berbeda dengan persona terhadap anak yang tidak bisa kita ambil keuntungannya. Setiap dunia memiliki personanya, jangan lupa untuk melepas dan menggunakan persona yang tepat. Persona bisnis seperti yang diungkap oleh Pak As’ad di depan. Semua bekisar tentang manajemen resiko. Pelajari resiko terlebih dahulu untuk dapat me manage nya. Dalam belanja online misalkan. Selalu yang kita lihat adalah penjual yang memiliki rating bintang lima. Disitu kita hanya mencari pendapat yang menguatkan. Baiknya dilihat dulu yang rating bintang satu untuk melihat resiko pada pengalaman buruk disana.

Pernah suatu ketika Mas Sabrang belajar inti bisnis pada salah seorang kaya di dunia. Dia mengajarkan bahwa setiap bisnis pasti memiliki pesaing. Yang paling menang adalah yang bekerja keras. Sesama pekerja keras yang paling menang adalah yang juga kerja efisien. Sesama pekerja keras dan efisien yang paling menang adalah yang juga bekerja secara inovatif.

Jika sama-sama melakukan tiga hal siapa yang paling menang ialah yang mampu memprediksi apa yang terjadi. Hanya sedikit pengetahuan ke depan tentang bisnis mampu mempengaruhi profit.

Bisnis sama dengan permainan. Yang paling penting ialah belajar peraturannya. Maka ada yang menganalisis secara SWOT: Strength, weakness, opportunity, dan threat. Namun jika sampai permainan itu menghalangi Tuhan maka belum lengkap permainan tersebut. Banyak pebisnis yang tidak bisa memprediksi sebab banyak min haitsu la yahtasib di dalamnya. Tapi kita harus meminimalisir ketidakpastian dengan mengetahui permainan. Untuk mencari Tuhan bukanlah pada tempat yang kita anggap ada Tuhan. Namun bagaimana kita menggunakan mata, telinga dll untuk merasakan Tuhan dalam permainan apapun. Dalam memasuki bisnis, harus total. Namun bukan sekedar gambling. Bahwa nanti ada kegagalan dulu itu pasti.

Seperti halnya ketika senang terhadap wanita. Pelajari dulu bukan asal gambling. Ketahui peraturan permainan yang dia miliki. Dan juga jangan berharap dia berubah ketika nanti sudah menikah. Itulah bhineka tunggal ika. Menjadi satu bukan untuk sama. Namun ada satu entitas tujuan yang kita tuju bersama disitu. Tentang pertanyaan seputar jatidiri turut ditambahi pula oleh Mas Sabrang. Jangan terkecoh dengan persona. Jika kita melihat nabi Ibrahim, jika kita mencari sesuatu yang kita ketahui maka akan mudah mencarinya. Lebih mudah mencari jarum dalam tumpukan jerami, pakai magnet saja kata Mas Sabrang. Namun bagaimana jika kita tidak mengetahui apa yang kita cari? Pasti akan lebih sulit. Dari Nabi Ibrahim kita belajar tentang proses pengeliminasian. Sepertinya ini namun ternyata bukan. Dan seterusnya dan seterusnya. Sampai nanti akhirnya semua tidak kecuali dia. Lailaha ilallah. Maka perjalanan ini memang tidak mudah, karena banyak faktor yang kita harus “tidak-tidak kan” dulu sampai habis. Yang kamu kumpulkan adalah milikmu, namun bukan kamu. Aku bukan lah badanku, aku bukanlah akalku. Lalu yang manakah aku? Inilah pe-er masing-masing untuk mencari kesejatian. Jalani perjalananmu dengan kegembiraan dan jujur terhadap diri sendiri.

Tentang bhineka tunggal ika juga ditambahkan oleh Mas Sabrang. Kesatuan bukanlah pada fisiknya tapi dengan menjadi sebuah kesatuan entitas.

Pak As’ad tak ketinggalan untuk merespon pertanyaan ketiga. Penanya merupakan seorang guru yang menyambi berbisnis. Hematnya dibreakdown ulang terlebih dahulu sebelum melakukan penyambian tersebut. Yang dicari apakah kualitas hidup ataukah kuantitas hidup. Yang diartikan oleh Pak As’ad seperti berikut. Banyak dari kita yang tidak tercukupi kebutuhannya bukan karena pendapatannya kurang tetapi karena cara mengalokasikan dananya terkadang kurang tepat. Amtsal sederhana dari Pak As’ad, jika kita punya uang hanya satu juta lalu hilang 100ribu maka akan menjadi beban. Namun jika ternyata misal lima bulan lagi ketemu yang tersebut maka apakah menjadi bonus atau tidak. Sebenarnya seberapa banyak pengeluaran kita untuk sesuatu yang tidak urgent. Ini berhubungan dengan puasa yang diungkapkan tadi di depan. Bahwa puasa tidak memakan sesuatu yang sebenarnya halal namun tidak prioritas. Kemampuan kita untuk menganalisa kembali pada kesadaran apakah bisa berpikir sampai sana ataukah tidak. Jika tidak bisa maka, atur kembali cara pandang terhadap Tuhanmu seperti dalam QS Ar Ruum.

Menekuni sesuatu pasti akan berhasil meskipun membutuhkan waktu. Namun kesabaran kita tidak dibina dengan baik karena segala macam perhitungan kita yang menginginkan proses instan sehingga terkadang hal itu melemahkan kita untuk mencapai sesuatu. Kembali pada ukuran kesuksesan harus dibreakdown ulang. Keberhasilan nampaknya bukan harus menjadi nomor satu, tetapi kesungguhan.

Pernah ada sebuah pabrik yang melakukan PHK besar-besaran. Ada salah seorang yang terkena efeknya hingga sangat kesusahan dengan pesangon yang tidak seberapa. Hingga ia mencoba untuk bermain kayu dibentuk seperti harley davidson. Suatu ketika ada sebuah pameran yang ia ikuti di sebuah hotel. Kebetulan owner harley davidson menginap di hotel yang sama. Hingga masa berjalan, dan seorang yang terkena PHK tadi sekarang sukses dan merambah ke lainnya. Jika coba diamati, kejadian waktu terkena PHK apakah kejadian yang susah atau senang? Lalu ketika orang tersebut sukses apakah PHK tersebut menjadi kisah yang susah atau senang? Ini bagian dimana susah dan senang adalah sebatas sudut pandang.

Waktu sudah menunjukkan lingsir wengi atau kisaran jam 1 pagi. Sebelum malam ini diakhiri, Mas Sabrang menambahkan kegembiraan dengan menyumbangkan dua buah lagu yakni Ruang Rindu dan Sebelum Cahaya yang masing-masing diiringi oleh Mas Yoga dan Mas Prisa. Meskipun permintaan adalah tiga buah lagu, namun Mas Kasno berharap satu lagu disimpan sebagai sebuah kerinduan untuk pertemuan yang akan datang. Semoga…

Sedikit cuplikan doa dan harapan Mas Sabrang semoga kita semua disini menjadi seperti yang Tuhan contohkan dengan lebah-lebah dan menjadi kumpulan yang memberi madu bukan sekedar mengisap madu. Amin.. amin.. ya robbal alamin.

 

Andhika Hendryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– KOMUNITAS TADABBUR –

Malam yang semakin mesra dan hangat dilanjutkan oleh Pak As’ad. Berbicara tentang kerumunan, ekonomi masyarakat, potluck sudah dialami langsung oleh beliau. Seorang pengusaha yang juga memandegani Suluk Surakartan hingga tiap hari berkawan dengan kerumunan.Pak As’ad mengawali dengan ketertarikan beliau terhadap gagasan Pak Kiai Mahrun tentang pembikinan pondok tahfidz namun berbeda dengan umumnya. Dimana pondok tersebut terdapat sebuah kegiatan yang berujung ekonomi. Dalam pada itu bertepatan pula dengan lokasi ini yang dipilih dengan tema “Masyarakat Lebah me-Madu”.

Jika kita sedikit tarik mundur ke belakang. Dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, ketika sedang memerangi pasar yahudi sudah jarang kita melakoninya. Biasanya umat Islam ketika melakoni sesuatu pasti akan mencari pembenaran dari ayat Al Qur’an dan hadist. Tetapi ada satu hal yang terlupakan yakni mengevaluasi secara terus menerus langkah apa yang keliru.Nabi Muhammad memerangi pasar yahudi dengan sistem ekonomi serta teknologi yang lebih baik bukan sekedar mengangkat sentimen suku, ras dan agama. Sehingga dalam waktu singkat, pasar yahudi kukutan (gulung tikar). Perlu diketahui bahwa Kanjeng Nabi melakukan hal demikian sudah sangat terencana. Dimulai dari julukan yang disandang oleh beliau yakni Al Amin jauh sebelum beliau menerima wahyu. Nampaknya satu hal yang penting diajarkan ialah untuk menjadi manusia sepenuhnya bukan karena menerima wahyunya tetapi proses pertumbuhannya tidak terlalu jauh dari realitas sehari-hari. Berdagang misalnya, maka bukan hanya sekedar berdagang namun juga harus mengerti intinya berdagang yakni manajemen resiko.

Seseorang yang bisa mengelola sesuatu dengan perhitungan meminimalkan resiko sebenarnya sesuatu yang lumrah. Tetapi sering luput oleh kita dikarenakan pola pengenalan Al Qur’an kepada kita nampaknya tidak pernah masuk pada wilayah tadabbur.Menurut Pak As’ad yang diperintahkan kepada kita ialah afala tadabbarunal qur’an. Sedangkan tentang tafsir yang perlu kita pahami bahwa sebaik-baik penafsir ialah Allah itu sendiri.Pernah ketika berdikusi dengan Syekh Nursamad Kamba, bahwa ketika bertadabbur maka sudah tidak terikat tata bahasa asalkan outputnya kemanfaatan dan tidak pula dipaksakan kepada orang lain.Sederhana saja, ketika membicarakan khamr dan maysir. Pandangan kita khamr tidak jauh dari minuman keras, sedangkan maysir tidak jauh dari kartu. Jika pengertian judi ialah tentang mengundi nasib, maka bukankah kita dalam hidup hanya berkutat soal mengundi nasib saja? Papar Pak As’ad melempar wacana.Khamr, diartikan sesuatu yang membingungkan dan dalam Al Qur’an diperintahkan pada kita untuk menjauhinya.

Seperti dalam QS Al Ma’idah ayat 90 yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma’idah :90)

Dan dipertegas lagi pada ayat berikutnya yang berbunyi, “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). ” (QS. Al-Ma’idah :91)

Sebuah permisalan, ketika kita berada di sebuah kota yang baru pertama kita datangi pasti kita akan kebingungan. Maka harus kita “jauhi” dengan mengambil jarak, mempelajari informasinya sehingga ketika kita memasuki kota tersebut sudah terdapat gambaran.Mengapa khamr dipasangkan dengan maysir?Sesuatu yang kita lakukan tanpa perhitungan, tanpa analogi maka sesungguhnya itu judi. Berarti itu berlaku kepada apapun. Dalam mencari ilmu, bekerja atau apapun harus ada perhitungannya dahulu meskipun tidak terlalu banyak perhitungan juga. Tetapi minimal harus ada gambaran dasar. Seakan sudah “setor” pada Allah bahwa kita sudah berpikir sehingga kita terhindarkan status dari khamr dan maysir.

Suluk Surakartan kemarin mengambil tema satu banding sebelas berawal dari uraian Mbah Nun ketika halal bihalal di sebuah perguruan tinggi. Maksudnya ialah di dalam 12 bulan terdapat 1 bulan training yakni bulan puasa, dan seharusnya 11 bulan yang lain menjadi bentuk realitas dari puasa kita selama satu bulan. Kita tahu pada bulan puasa tidak memakan dan meminum sesuatu yang sebenarnya halal. Tetapi mengapa hal itu tidak diperbolehkan?Sesungguhnya dalam seseorang bekerja juga isinya hanya demikian. Yakni tidak mengeluarkan untuk sesuatu yang sebenarnya halal-halal saja namun tidak dilakukan sebab lebih menghitung prioritas.

Sedikit bercerita Pak As’ad ketika berada di dalam ruangan ketika Mocopat Syafa’at. Ada seseorang yang mengajukan pertanyaan tentang kunci sukses. Dengan canda beliau mengatakan bahwa tidak bisa menjawabnya.Namun tentang sukses itu sendiri kita pun rancu. Tergambar secara sederhana orang sukses adalah orang dengan mobil baru, uang banyak, tidak punya hutang, tagihan lancar, bahkan ingin membeli apapun bisa meskipun kredit.Padahal itu hanyalah daun, bunga dan buah tetapi sesungguhnya kita tidak pernah mencermati bahwa itu adalah hasil dari sebuah pertumbuhan. Jika kita membicarakan pertumbuhan maka kita semua adalah tanaman-tanaman tetapi tidak sama maka berbeda pula cara pengukuran kesuksesannya tinggal dikembalikan saja pada kesadaran dirimu.

Kembali pada manajemen resiko satu banding sebelas. Ketika itu pula ada fenomena MK, Solo-Jogja, juga anjloknya harga ayam hingga dibagikan secara gratis. Hampir berlaku di semua wilayah Islam Jawa bahwa sesuatu berjalan dengan gebyar lalu setelah itu anyep. Seperti berpuasa maka gebyarnya hanya di awal-awal ramadhan saja dengan munculnya banyak quote, kata mutiara, kajian hikmah, kultum dlsb dan di akhir ramadhan menangis dimana konon dahulu kanjeng nabi menangis ketika ditinggalkan bulan ramadhan.Sesungguhnya yang kita perlu renungkan ialah bahwa banyak dari sekian peristiwa tidak kita pelajari.

Fenomena harga ayam potong anjlok sudah pernah terjadi ketika era 70an. Bapak dari Pak As’ad ketika itu sudah memiliki peternakan dengan ribuan ayam sehingga sudah sangat familiar dengan perusahaan pokphan. Perbedaannya dengan kita saat ini mengapa menjadi sangat terasa ialah kita selalu kalah dalam beberapa medan karena kita tidak pernah melakukan beberapa evaluasi tadi. Sedangkan orang yahudi pun mereka belajar dan melakukan strategi jangka pendek, menengah dan panjang jauh sebelum Nabi berhijrah tentang apa yang ditanamkan oleh nabi di Yastrib.Segala sesuatu yang kita lakukan harus ada perhitungan. Ada rencana pendek, menengah dan panjang. Ini semua yang tidak pernah kita lakukan.

Coba kita tengok di Bali. Mengapa sedemikian terjaga juga dengan angka kriminalitas cenderung minim. Sebab mereka dikenalkan tentang dosa secara lebih nyata yang disebut dengan karma. Tetapi dalam pandangan cendekia agama hanya dikatakan bahwa ngapusi dosa, korupsi dosa, zina dosa. Sebenarnya apa ukuran dosa? Meter? Kubik? Bulan? Atau tahun?Sehingga dosa seakan seperti ilusi, maka orang melanggar pun dengan begitu mudahnya sebab tidak ada perhitungan yang jelas. Sementara tidak mungkin bahwa suatu ajaran yang datang dari Tuhan yang menguasai semua keilmuan tidak memberikan deskripsi yang jelas.

Seperti orang berhaji. Orang musyrik dilarang pergi haji, sementara tidak boleh menuding orang lain musyrik. Lalu bagaimana untuk melakukan pelarangan? Sementara berhaji merupakan sesuatu yang bersifat material, jelas visa nya, pintu masuknya, naik pesawatnya dll. Lalu bentuk pelarangannya berstandar sesuatu yang tidak boleh menyalahkan orang lain. Maka apakah sebenarnya musyrik itu?

Di dalam QS Ar Ruum terdapat sesuatu penggambaran yang bisa kita cermati. Musyrik atau menyekutukan Tuhan menurut Pak As’ad ialah seseorang yang meninggalkan partnership dan merasa mampu melakukan segala sesuatunya sendiri. Padahal apa yang diciptakan Tuhan pasti dualitas dan berpasangan. Begitu juga kita di Maiyah. Jika mengatakan di dalam Maiyah itu cair maka juga harus percaya bahwa di dalam Maiyah ada sesuatu yang padat. Berarti ada yang musyawarah dan ada yang tidak musyawarah, ada yang hirarkis ada pula yang tidak.

Mencermati surat An Nahl, jelas bahwa satu-satunya hewan yang diberi wahyu ialah lebah. Dan jelas dikatakan bahwa lebah membuat sarang di bukit-bukit dan di pohon-pohon. Di rumah Pak As’ad terdapat tawon jenis lanceng. Tawon lanceng memiliki manajemen yang luar biasa yakni memisahkan kotoran, lilin dan madu.

Kembali pada pondok tahfidz yang akan dibentuk maka menjadi tambahan “tanggung jawab” bagi Mas Agus untuk menginisiasi. Sebab di Maiyah sudah sepakat untuk bertadabbur. Padahal kunci berkembang dalam hal perekonomian atau apapun maka tidak ada jalan lain selain tadabbur. Lepaskan segala standarisasi yang telah ditanamkan pada kita dan bikin standarisasi sendiri. Kita mengenal orang Jawa dulu, kita mengenal Nabi Muhammad. Hampir setiap benda diberi nama untuk apa? Yakni standarisasi. Hampir di setiap negara industri pasti memiliki standarisasi sendiri. Ada standarisasi teknologi dll untuk berdaulat pada sesuatu yang diyakini.Pahami Al Qur’an dengan tadabbur realitas kehidupan sehari-hari. Ketika kita yakin pada dualitas yang diciptakan Tuhan maka tidak mungkin Tuhan hanya membicarakan langit di sana.Kembali pada An Nahl, jika kita perhatikan lebah seperti profil orang-orang yang melakukan industrialisasi sendiri secara personal. Mereka mengolah putik bunga di dalam dirinya sendiri dan keluar menjadi madu. Hubungannya dengan kerumunan ialah, kerumunan yang paling baik ialah kerumunan lebah. Masyarakat lebah tidak pernah ngomong saja tetapi terus berproduksi.

Masyarakat lebah juga merupakan masyarakat yang sangat hirarkis, menjalankan langsung perintah yang bersifat top down. Jika kita mencoba melihat China sebagai raksasa yang luar biasa, maka dapat pula kita lihat penanaman kepatuhan yang luar biasa dari pemimpinnya untuk rakyatnya. Pemimpinnya mengatur semua lini kehidupan sampai hal terkecil sekalipun. Contoh kecil ketika membeli barang yang sangat murah pun bisa diantar sampai depan rumah tanpa ongkos kirim. Disana tidak ada kekayaan pribadi tanpa adanya acuan kemanfaatan bersama.Demikan halnya dengan Iran. Negara yang sudah diembargo bertahun-tahun lamanya namun masih bisa tetap eksis. Setiap jajaran masyarakat tahu diri. Jika dia adalah karyawan maka hanya menjalankan perintah tanpa banyak bertanya. Entah disuruh menanam apa, membersihkan apa namun jelas kemanfaatannya. Hal ini yang dilakoni Kiai-Kiai sepuh jaman dulu.Metode demikian sangat cocok untuk dikembangkan di pondok, asalkan visi Kiai nya jelas. Bagai negara “China kecil” atau “Iran kecil” menurut Pak As’ad.

Uraian Pak As’ad ini kemudian disambung dengan tanggapan oleh Mas Sabrang. Menurut Mas Sabrang, meskipun negara China bisa menjadi salah satu protipe berkomunitas, namun ada hal yang boleh jadi menjadi PR bersama yakni tidak seperti China maupun seperti Iran melainkan seperti lebah yang seolah meletakkan kepemimpan dalam standar hirarki abdi dan Tuhan. Selengkapnya nantikan bagian berikutnya.

 

 

Andhika Hendryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– MANUSIA –

Kemudian Mas Aniq diminta untuk urun roso tentang tema malam hari ini. Menurut Mas Aniq, mengelaborasi tentang lebah juga merupakan hal yang tidak mudah. Namun dicoba untuk sedikit menguruni cuplikan-cuplikan.Melihat lebah ada satu kata yang terwakili yakni kerumunan yang membawa manfaat. Berkumpul, membuat rumah lalu menghasilkan madu yang bermanfaat. Sebagai salah satu miniatur ciptaan Allah dapat menjadi ibroh untuk manusia. Ketika manusia berkerumun apakah membawa manfaat atau tidak. Ketika menjadi kerumunan, komunitas, atau publik kita sebut apakah akan menjadi publik yang bermanfaat atau tidak. Maka kerumunan manusia di dalam Al Qur’an disebut An Nas. Di dalam Al Qur’an pula juga terdapat manusia yang bermacam-macam. Ada yang disebut Al Anam, Al Basyar, Al Waro, Al Bariyah, dan Al Insan. Bentuk jamak untuk mewakili semuanya disebut An Nas. Menurut pandangan Mas Aniq, Al Anam merupakan manusia yang dilihat dari segi biologis. Misalkan manusia membutuhkan sandang, pangan dan papan. Membutuhkan asupan raga seperti makan, minum, tidur dll.

 

     Al Basyar merupakan manusia yang dilihat dari sosiologis atau bebrayan. Al Basyar bisa diartikan menumbuhkan kegembiraan, kebahagiaan. Maka kanjeng nabi disebut khoirul basyar. Nabi Muhammad merupakan sebaik-baik manusia yang menumbuhkan kebahagiaan, kegembiraan dan bebrayan yang baik. Seperti ketika di pondok ketika seorang santri memberikan sesuatu maka disebut gisyaroh, atau aweh bebungah (membagikan sesuatu untuk kegembiraan orang lain).

 

     Al Waro. Manusia yang dilihat dari sisi psikologis. Apakah seseorang mampu memotivasi, menumbuhkan jiwanya atau tidak.

 

     Al Bariyah, manusia yang dipandang dari segi intelektualitas. Dalam An Nahl terdapat beberapa pokok pemikiran misalkan tadzakkarun. Alladzikri ialah orang-orang yang dititipi “dokumen-dokumen keilahian”, mereka mampu menangkap realitas, atau apapun tajalli Allah masuk ke dalam frekuensi dirinya. Ada yang namanya gelombang pemahaman. Maka di Al Qur’an tertulis, jika ingin bertanya maka bertanyalah pada Alladzikri. Fas’alu alladzikri in kuntum la ta’lamun. File rohani yang paling penting ialah yang berhubungan dengan Allah, maka waladzikrullahiakbar.

Apapun yang berhubungan dengan realitas maka puncaknya adalah Allah. Dalam sangkan paraning dumadi, maka dumadinya adalah Allah. Allah sendiri pun realitas meskipun tak bisa dilihat, dibayangkan dll. Tan keno kinoyo sopo, tan keno kinoyo ngopo. Maka dalam Al Ikhlas, qul huallahu ahad. Hu sebagai simbol yang tidak tampak dan tidak terdefinisikan. Karena jika terdefinisikan maka akan menjadi terbatas. Maka jangan terpaku pada sebuah definisi. Tetapi untuk mempermudah maka disebut ahad dan shomad. Dia yang tunggal dan mengisi ruang, yang mampu memasuki ruang-ruang kejiwaan dalam diri manusia. Berasal dari kata wallahu, atau zat yang menghenyakkan (semacam terkejut).

 

     Al Insan. Manusia yang dipandang dari segi spiritualitas. Terdapat daya spiritualitas untuk menuju sangkan paraning dumadi.

Ketika berkumpul dari kesemuanya maka jadilah An Nas yakni perkumpulan dari individu-individu. Setiap kerumunan bisa berdampak positif ataupun negatif. Bisa bermanfaat ataupun sebaliknya. Apakah perkumpulan tersebut berjenis kehambaan waro, insan, bariyah atau anam atau tidak menjadi penting untuk diidentifikasi. Gejala seperti ini sudah berlangsung sejak jaman Nabi Adam. Di jaman nabi Musa terdapat tiga lawan. Fir’aun, Haman dan Qarun. Nabi Musa juga memiliki partner yakni Nabi Harun dan Nabi Khidlir. Nabi Harun merupakan Nabi yang lihai berdiplomasi. Nabi Khidlir melawan Qarun dengan konsep gotong-royongnya. Ketika rakyat menggunakan konsep ekonomi gotong-royong maka Qarun akan lenyap sendiri dengan hartanya. Inilah pentingnya menjadi kerumunan yang baik. Kerumunan lebah yang menghasilkan madu. Madu yang diperas dari rumah atau sarangnya. Menurut Mas Aniq maka akan menjadi wal Asr atau sebuah perasan. Maka jika manusia menjadi sari maka menjadi manusia yang baik, dan rugi jika hanya menjadi manusia ampas.

Maka belajarlah menjadi kerumunan Nas yang berdampak positif. Bahkan dalam surat An Nas, untuk menangani manusia harus menggunakan tiga potensi Allah. Robbun, Malik dan Illah. Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut berkahnya bumi kecuali ada orang yang dhalim. Jika ada kedhaliman yang terstruktur dan kesalehan yang tidak terstruktur maka kalahlah kesalehan. Jika sel-sel kesalehan tidak dirangkai secara struktur maka akan kalah dengan kedzaliman yang terstruktur.

 

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– POTLUCK – SWABOGA –

Sebuah “puasa” yang cukup panjang untuk menghadirkan mas Sabrang. Meskipun dalam setiap rutinan Mas Sabrang berusaha dihadirkan dalam bentuk nilai namun pada malam hari ini akhirnya berbuka juga. Bukan sekedar berpuasa namun rutinan kali ini juga bagai hari raya sebab menghadirkan beberapa tokoh. Tibalah giliran Mas Sabrang untuk diminta memberikan respon tentang Tema malam hari ini. Mas Sabrang pernah memberikan sebuah kata pengantar pada salah satu pustaka gugurgunung yang ditulis oleh Mas Agus. Ialah tentang potluck. Banyak istilah lain seperti halnya kenduren.

Potluck merupakan konsep turunan dari berkumpul-kumpul, pesta dlsb namun ada peraturan khusus dimana bukan hanya satu orang yang menyediakan makanan untuk semua orang namun justru masing-masing orang datang membawa makanan lalu diletakkan diatas meja dan boleh dimakan bersama semuanya. Merupakan konsep yang sangat indah sebab semua memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan mencicipi apa yang dipersembahkan oleh orang lain. Serta tidak ada kewajiban untuk menghabiskan, tidak ada pula kewajiban untuk menyenangi salah satu suguhan saja. Sebuah pengalaman dari Mas Sabrang ketika berada di luar Indonesia, saat ber-potluck hanya menyuguhkan nasi goreng. Dikarenakan mereka jarang memakan nasi, maka justru laris dihabiskan oleh semua yang datang. Bukan karena enaknya tetapi justru karena uniknya. Potluck bukan masalah baik, buruk tetapi lebih kepada keikhlasan dalam memberi. Jika memang sesuatu yang diberikan dirasa kurang baik namun masih bisa dinikmati keihklasan dalam pemberiannya. Jangan takut ada yang suka dan tidak suka, sebab Tuhan pun ada yang menyukai ada pula yang tidak menyukai atau tidak mempercayai. Nabi Muhammad pun ada yang tidak suka dan tidak mempercayainya.

Hampir tidak ada hal yang universal disukai oleh semua orang. Namun justru ada beberapa hal yang hampir tidak disukai secara universal. Seperti sakit, hampir setiap agama, golongan dll tidak menyukai apapun deskripsi dari sakit. Namun ada pula yang “menyukai” kesakitan karena dia memiliki konsep yang lebih besar dari kesakitan. Misalkan kesakitan dikeroki, bagaimana jika yang mengeroki adalah orang yang kita sayang. Maka akan ada pemaknaan yang berbeda dan konsep yang lebih besar dari semua tersebut. Sebab kesemua itu hanyalah sementara saja. Yang abadi bukanlah “ngeroki”nya tetapi yang abadi adalah cintanya. Potluck bukan urusan prestasi. Suguhan yang habis lebih cepat bukan berarti menjadi ranking satu, sebaliknya suguhan yang tidak termakan maka bukan pula menjadi prestasi yang buruk. Sebab yang membuat kadang kita tidak sadar ialah membuat tolok ukur dalam kehidupan kita sendiri. Sehingga menderita pun juga dalam tolok ukurnya sendiri. Tidak ada lomba motor tetapi membanding-bandingkan merk motor. Tidak dalam lomba hape tetapi iri ketika merk hape teman lebih bergengsi.

 

Potluck dipilih oleh Mas Sabrang sebab ada irisan yang besar dengan maiyah. Di maiyah memiliki konsep sinau bareng. Masing-masing membawa pengetahuannya, kerendahan hatinya namun semua tidak harus diterima dan diakui. Karena terkadang kita lupa ada garis tengah antara percaya dan tidak percaya yakni garis belum tahu. Sehingga akan susah mengakui dan mempercayai. Fenomena “belum tahu” dapat kita rekam terlebih dahulu untuk kita alami di ke depannya. Sebab segala sesuatu yang belum pernah kita alami, maka kita belum benar-benar tahu. Maka di dalam Islam menggunakan istilah bersaksi bukan hanya mempercayai, dan salah satu syarat kesaksian adalah dengan sebuah pengalaman. Seperti halnya saksi di pengadilan, maka ia harus benar-benar tahu bukan hanya sekedar “dengar-dengar”. Apakah pengalaman itu lewat indera seperti mata, telinga atau bahkan lewat jiwa dan seterusnya itu merupakan pertanyaan berikutnya. Namun yang terpenting ialah mengalaminya.

 

Mas Sabrang, seorang yang sudah sangat berpengalaman manggung di depan orang banyak. Pernah pula memiliki kegelisahan tentang baik buruk, benar salah pada awal-awal manggung. Bahkan kadang sebuah kesalahan dapat dianggap sebagai kesengajaan artistik, sehingga bukan salah tetapi merupakan sebuah percobaan dalam musik. Apapun argumentasinya asalkan yang tersampaikan ialah keindahan dan keikhlasannya. Sehingga marilah kita mulai kegiatan berkumpul ini dari banyak dimensi baik dimensi pemikiran, dimensi ilmu, dimensi keikhlasan juga dimensi kemauan mendengar dan menghargai siapapun yang menyampaikan apapun di atas panggung yang terpenting outputnya ialah kemesraan, kebahagiaan dalam kebersamaan yang panjang.

 

 

Andhika Hedryawan

MASYARAKAT LEBAH ME-MADU
– 8 (Delapan) Tawaran Gaji dari Tuhan –

Menilik sebuah kasus lumrah yang ada di sekitar kita. Terdapat gaji yang didapat dari profesi, oleh Mas Agus dianggap sebagai gaji aminah. Apakah kita pernah berpikir jika Allah memberikan dua tugas tersebut berarti mestinya ada dua gaji yang kita terima. Selain gaji profesi juga ada gaji peran untuk fungsi kita di dunia yang diletakkan Allah pada fitroh diri kita.Ada delapan gaji peran yang bisa kita ambil, sekaligus untuk memindai peran apakah yang sesungguhnya kita ambil di dunia. Di Jawa dulu ada delapan pilar dimana jika pilar ini lengkap di masyarakat maka akan menjadi masyarakat yang teguh dan saling mengisi satu sama lain.

 

Pertama, tipikal Janma tani yakni jika orang lain di sekitar kita merasa ayem tentrem, aman sandang pangan maka kita akan berperan membantu di wilayah tersebut. Entah membuat lahan pertanian, peternakan dlsb. Inilah janma tani, dimana berperan untuk mendapati orang lain di luar dirinya aman di wilayah pangan.Kedua, janma undhagi. Janma tentang teknologi, kreatifitas. Maka pihak seperti ini mendapat gaji oleh Allah ialah ketika ia mendapati pihak-pihak selain dirinya menjadi kreatif, lebih mudah menjalankan tugasnya dlsb. Maka dia mempermudah orang lain dengan teknologi dan pemikiran yang dia kreasikan.Ketiga janma ujam dudhukan. Ialah janma yang berkonsentrasi di wilayah pengobatan dan kesehatan sehingga manusia di wilayah ini akan memperoleh gaji dengan mendapati orang lain selain dirinya menjadi sehat wal afiat, segar bugar untuk menjalankan aktifitasnya.Keempat janma baruna. Janma ini bisa masuk dalam ilmu falaq, ilmu perbintangan, ilmu astronomi, navigasi kelautan dlsb. Maka dia akan memiliki kebahagiaan ketika orang lain selain dirinya mendapatkan petunjuk-petunjuk.Kelima janma prajurit. Indikatornya ialah ketika ada orang lain yang kehidupannya aman, selamat, tidak terancam lahir batinnya. Sehingga tidak ada rong-rongan dari pihak luar. Maka dia akan menugasi dirinya dengan cara mengamankan lingkungan sekitarnya meskipun bukan keharusan baginya menjadi aparat sebab ini soal jiwa yang diperankan sesuai fitrohnya.Keenam janma mitra. Janma yang sangat senang ketika masyarakat yang dia temui menjadi masyarakat yang rukun, harmonis, saling berhubungan dan bekerja sama satu dengan yang lain. Sehingga dia akan melakukan upaya untuk merukunkan masyarakat.Ketujuh janma panyarik, Janma yang memiliki karakter dalam minat menemukan masyarakat yang makin berwawasan, mengalami perluasan cakrawala dan khazanah keilmuan.Kedelapan janma kawi, janma yang memperoleh gaji ketika masyarakat yang dia temui menjadi berwawasan menyeluruh yakni masyarakat yang mengetahui sangkan paraning dumadi. Sangkan adalah dari, paran itu saat dimana kita berperan, dan dumadi ialah awal mula kejadian. Pihak yang menggeluti di wilayah rohani.

Jika kita ingin mengambil salah satu dari delapan gaji tersebut atau bahkan bisa mengambil lebih dari satu maka bisa kita bayangkan masyarakat yang saling bantu membantu dengan takaran utama yakni keridhoan Allah. Hal ini yang terkadang tidak jumbuh dengan isu profesi dimana misalkan ketika ada orang sakit justru senang sebab penjualan obat menjadi lancar sehingga meskipun ia berada di wilayah ujam dudhukan namun tidak menjalankan perannya, atau senang membuat isu rucah di masyarakat demi mengegolkan sebuah proyek tertentu sehingga meskipun ia berada di janma prajurit sebagai aparat namun tidak pula menjalankan perannya, dlsb.

Maka tidak selalu sama peran ke-aminah-an dengan peran ke-abdullah-an. Misalkan seorang programmer mestinya berada di wilayah janma undhagi, namun ketika programmer diisi oleh janma tani maka akan membuat program yang mengedukasi, atau janma mitra maka akan membuat program yang menyenangkan, menghibur atau janma prajurit maka dia justru akan membuat security system. Sehingga tidak selalu sama, sebab jiwa yang ada di dalam tidak selalu persis dengan apa yang kita perankan di dunia. Maka mari mulai kita pindai, manakah gaji dari Allah yang menarik untuk kita ambil. Jika sudah menemukan, maka tekuni dengan sungguh-sungguh sehingga profesi tersebut akan menjadi piranti yang berwarna untuk pengabdian kita kepada tuhan.

Dalam mukadimmah juga sudah tercantum bahwa Allah tidak akan berhenti mengutus malaikatnya ke dunia untuk menemani hambanya yang mau memperingatkan bahwa Allah maha esa dan meningkatkan ketakwaan agar manusia tidak tergesa-gesa menentukan hari akhir. Jika ada hari awal kita memulai sesuatu sampai purna maka akan menjadi hari akhir. Tetapi tidak bisa kita putuskan kapan hari akhirnya. Hari akhir sesungguhnya selalu berada di dalam kekuasaan Allah. Sehingga tidak bisa kita mengatur waktu, kita hanya bisa mengisi waktu. Sehingga hanya Allah yang bisa mengatur waktu. Kita hanya mengoptimalkan waktu dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.Jika Allah akan mengirim malaikat kepada hambanya, maka kategori seperti apakah yang akan dikirimkan malaikat ini. Di dalam An Nahl sudah disebutkan beberapa ayatnya.

Ada sembilan catatan menurut Mas Agus. Tafakkarun yakni pihak yang senang memikirkan kekuasaan Allah melalui fenomena-fenomena jasadiah yang dia temui.Ta’qilun yakni orang yangsenantiasa mengetahui kebenaran lain yang tidak harus ditengarai dengan tanda-tanda jasadiah. Seperti burung yang terbang, kenapa? Padahal banyak unggas yang punya sayap juga namun tidak bisa terbang. Tetapi akal ini harus terakomodir untuk mengendalikan nafsu. Jangan malah terbalik menjadi mengakomodir nafsu dan mengendalikan akal sebab justru akan menjadi ngakali.Tadzdzakkarun Dimana kita harus mengambil pelajaran dari sesuatu dengan syarat yakni harus ingat. Sebaik-baik mengingat ialah mengingat Allah. Senantiasa kita harus kaitkan ingat menjadi fenomena terjaga bukan sekedar fenomena lumrah yang kita pahami sebagai layaknya manusia.Tasykurun Ialah orang-orang yang bersyukur. Dengan kita diberi penglihatan, pendengaran, hati dlsb untuk memudahkan hidup kita.

Hal inilah yang ditangkap oleh Mas Agus untuk menjadi indikator-indikator ketika kita memang ingin menjadi pihak yang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan kiriman-kiriman malaikat dimana malaikat tersebut membantu kita untuk memiliki keberanian untuk menyampaikan keahadan Allah dan ketakwaan. Sadar atau tidak sesungguhnya kita hanya ingin mengabdi kepada Allah.Harapannya adalah ketika beranjak kesana kita akan berjalin sebagai masyarakat yang saling bermanfaat satu dengan yang lain dengan tetap menjunjung sisi keadilan.

 

Andhika Hedryawan