NYUWUN JAWAH

Malam minggu terakhir pada bulan Oktober jatuh pada tanggal 27 Oktober 2018, juga menjadi malam perhelatan Majlis Gugurgunung untuk melingkar serta berdiskusi, bertempat di kediaman Mas Mundari, Ngempon, Ungaran, Kab. Semarang. Doa Wasilah oleh Mas Tyo serta Munajat Maiyah oleh Mas Jion mengawali lingkaran diskusi malam ini dengan tema yang dirembug ialah “Nyuwun Jawah”. Mbak Dewi yang baru kali pertama ikut melingkar ditunjuk sebagai moderator, sementara Mas Dian yang biasa memoderasi sedang dalam perjalanan menuju lokasi.

Mbak Dewi membacakan Mukadimah “Nyuwun Jawah”

Mbak Dewi yang notabene baru kali ini ikut melingkar di Majlis Gugurgunung mengawali dengan menceritakan pengalamannya bermaiyah. Dimana sudah beberapa kali ikut diskusi maiyahan di Suluk Surakartan serta Mocopat Syafaat (MS). Beberapa pengalamannya di MS yang paling teringat ialah betapa pentingnya menjalin silaturahim. Mbak Dewi dari Ungaran yang kerap menuju lokasi MS dengan waktu usai kisaran pukul 02.00 hingga 03.00 pagi dijalani dengan tidur di musholla, ataupun pom bensin. Setelah menjalin silaturahim dengan beberapa kawan disana, Mbak Dewi justru memperoleh bonus berupa makan, serta tempat untuk menginap. “Asalkan ada niat untuk kebaikan, seperti halnya mengaji, pasti ada jalan” begitu ungkapnya.

Tak lama berselang Mas Dian yang biasa menggawangi peran moderator pun tiba. Permintaan maaf dihaturkan pada dulur-dulur yang sudah hadir atas keterlambatannya. Langsung merespon tentang tema, dimana salah satu dhawuh pada beberapa waktu lalu ialah mengangkat tema dari kontent buku yang ditulis oleh Marja’ Maiyah yakni Syekh Muhammad Nursamad Kamba dengan judul buku “Kids Jaman Now”. Kemudian dari Tim Dapur Tema memilih salah satu sub bab untuk dikupas pada bulan Oktober ini. Sub Bab yang diangkat ialah tentang “Mengajarkan Kearifan dan Kebijaksanaan” yang kemudian dikemas dalam tema “Nyuwun Jawah” dimana mukadimmahnya telah dibacakan oleh Mbak Dewi.

Mas Dian menghaturkan permintaan maaf pada dulur-dulur yang sudah hadir atas keterlambatannya, dan langsung merespon tentang tema

Mas Dian meminta pada beberapa dulur yang baru pertama kali melingkar untuk memperkenalkan diri. Pertama ialah Mas Anton yang juga merespon tema dimana masa iklim atau cuaca akhir-akhir ini belum bersahabat. Dimana hujan menurutnya ialah pitulungan (pertolongan) Allah untuk semesta. Kemudian ada Mas Febri yang biasanya ikut kegiatan sinau bareng dan baru pertama mengikuti maiyahan sehingga belum bisa ikut merespon tentang tema. Berikutnya ada Mas Surya yang merespon tema. Dimana hujan bisa dipandang sebagai hal yang ditakuti namun bisa juga dianggap sebagai hal yang ditunggu-tunggu.

Kemudian tiba giliran Mas Agus menyampaikan beberapa hal. Seperti yang sudah biasa berjalan dalam lingkaran diskusi Majlis Gugurgunung dimana pembahasan tidak terkotakkan dalam sebuah tema sebab setiap guliran yang ada akan memunculkan gelembung-gelembung topik pembahasan yang semakin luas.

Pemaparan Mas Agus terkait tema malam ini

Nyuwun Jawah meletakkan kita menjadi tanah kerontang yang rumput pun tidak mau tumbuh apalagi pohon yang besar, yang tidak mampu menyuburkan benih namun justru bisa mematikan benih. Dengan kondisi kerontang menjadikan kita merasa ada sesuatu yang kurang basah serta mudah terbakar. Kita mencoba mengamati setiap fenomena yang kerap hadir di sekitar. Dimana seorang dengan orang yang lain sering mudah terbakar atau justru saling membakar. Terminologi ini sebenarnya sudah lazim, sebab ada masa setiap manusia untuk basah serta kering. Permasalahannya, ketika berada dalam kondisi kering akankah kita “umuk” atau bisa “sumeleh”. Ketika sumeleh akan memformat diri untuk memindai setiap kekurangan dalam diri. Kurang basah atau kurang “uluran tangan” dari langit untuk menyentuh kekeringan yang terjadi agar kembali basah dan bersahabat dengan beberapa hal. Mungkin belum akan bersahabat dengan pihak yang kurang menyenangi hujan, basah, becek dll namun kerinduan akan kekeringan ialah hujan.

Sehingga kehadiran tulisan Syekh Kamba dan Mbah Nun, yang tiap hari dihadirkan baiknya diposisikan sebagai uluran tangan dari langit agar kita tidak mudah terbakar. Sehingga dalam kondisi basah, memunculkan kondisi bagi kita untuk ditebari benih serta menumbuhkan tetumbuhan.

Andaikan ada perumpamaan tentang hujan, setiap ada uluran tangan dari langit bahwasanya tiap ilmu akan ditampakkan dalam wujud nabi, auliya’, wali, ulama dll, dalam pada itu merupakan mekanisme untuk menampakkan setiap ulurannya pada kita. Hujan berfungsi merangsang benih dalam diri kita untuk tumbuh. Dimana setiap orang masing-masing sudah memilikinya, dimana benih itu muncul dari pohon (wit) yang bernama rah, dalam bahasa jawa wit ing rah (awit-awiting urip) dimana berkembang menjadi kata fitrah.

Fitrah kita letakkan sebagai benih utama kita sebagai manusia, dimana harus kita tumbuhkan agar senantiasa menggapai cahaya. Tak baik pula kita paksakan fitrah untuk kita tumbuhkan sendiri sementara kita adalah tanah yang kering kerontang apalagi yang tidak mau menerima uluran tangan dari langit. Baiknya kita terima setiap uluran dari langit agar senantiasa terus tumbuh mengejar cahaya, menggapai langit namun terus bersyukur tumbuh di bumi.

Kita semua sangat berpotensi sebagai kafir, kufur, ingkar. Namun dalam Al Qur’an juga kafir bisa diartikan sebagai petani. Kita coba ambil kafir sebagai petani, dimana petani selalu menutupi setiap benih menggunakan tanah. Seperti halnya kita yang terbuat dari tanah, yang akan berpotensi untuk mengubur benih tadi dengan segala ambisi, plan, schedule, cita-cita dll yang dapat membuat benih fitrah tadi terhambat pertumbuhannya. Kita sangka apa yang kita miliki adalah kebenaran, sementara tiap hal tersebut kita letakkan pada hal-hal yang bersifat jasadiah. Tetapi jika kita memilih segala sesuatu yang bersifat plan, rencana, gagasan, cita-cita tidak kita naikkan posisinya menjadi ambisi, obsesi maka tiap langkah yang kita ambil akan lebih proporsional sebab langkah akan terukur untuk membuka pintu yang menghadirkan jawah atau hujan. Hujan, udan, hudan ialah hidayah, petunjuk yang siapa saja sudah dibukakan maka tak ada siapapun yang dapat menutupnya demikian pula sebaliknya. Berarti kita harus berperan aktif agar senantiasa menerima uluran langit.

Carilah apapun hal yang tidak merusak fitrah kita, juga abaikan setiap hal yang kita rasa menjauhkan atau menutupi fitrah kita. Jangan sampai terjebak dengan fenomena jasadiahnya baik dari segi popularitas, harta dll dimana hal tersebut merupakan hal yang harus kita waspadai. Justru sering kita temukan kehakikian hidup pada manusia-manusia yang tulus hidupnya seperti petani, nelayan yang terbiasa mampu mengakrabi segala macam jenis penderitaan hidup. Penggunaan nur’aini (mata cahaya) bukan sekedar mata jasad, membuat kita mampu melihat cahaya yang tersembunyi bukan sekedar melihat dari mata jasadiah saja.

Merespon Mas Surya, tentang ketakutan dan pertolongan. Pastinya kita boleh takut, tentunya kita membutuhkan pertolongan. Tetapi mungkin perlu kita tegaskan piranti utama untuk menghadirkan pertolongan tersebut ialah dengan merasa apa yang kita sangka baik belum tentu baik untuk kita begitupun sebaliknya. Lumrah ketika muncul akan ketakutan sebab hujan mungkin membuat baju kita basah, mengeluh ketika genting bocor, susah ketika akan berangkat beraktivitas dll. Namun jangan sampai dengan ketakutan tersebut mengurangi kadar cinta kita akan fenomena kehadirannya, bukan malah terjebak dalam situasi dimana kita menghentikan ketakutan tersebut hanya untuk mengeluhkan kehadirannya dengan segala permasalahannya.

Kemudian Mbak Dewi yang meminta penjelasan lebih lanjut tentang hujan yang bisa memberikan dampak buruk seperti banjir (musibah) lalu bagaimana kita menyikapinya. Direspon oleh Mas Agus bahwa kita harus memiliki metode tentang sebab-akibat. Jika ada suatu musibah, baiknya kita telaah terlebih dahulu. Musibah tersebut merupakan sebab ataukah akibat. Jika hal tersebut tergolong akibat, berarti ada penyebab sebelum terjadinya. Ukuran celaka dan tidak celaka jangan diletakkan pada tolok ukur kita sebagai makhluk. Jika kita menganggap banjir sebagai sebuah azab, berarti kita juga memilih menyalahkan hujan sebagai penyebabnya. Berarti kita menyalahi risalah nabi, dimana jin dan manusia secara mayoritas dibuat untuk mengabdi bukan supaya ingkar. Bilamana kita hidup di tengah manusia ingkar berarti kita harus siap terinjak dan bersiap untuk tidak memiliki tempat untuk menjalankan kehendak Allah saat menjalankan kehidupan. Jadi setiap kejadian yang sudah ditentukan oleh Allah harus kita pahami dengan baik.

Bangunan-bangunan didirikan tanpa menghiraukan aliran sungai sehingga tidak memberikan tempat untuk sungai mengalir secara semestinya. Disebabkan kita yang merasa sangat sok tahu, maka ketika air tidak memiliki tempat hingga meluap, air menjadi yang disalahkan. Segala petunjuk dari langit harus kita tata terlebih dahulu kemampuan dari diri kita. Diberi banyak ya diterima tapi bukan berarti harus rakus. Ketika kita percaya Allah pasti memiliki cara untuk mengamankan dan menata segala sesuatu dengan baik, selesai masalah. Tidak perlu kita yang mengatur ini harus begini dan itu harus begitu.

Banjir yang dianggap sebagai sebuah azab di era Nabi Nuh, justru sekarang masih direkonstruksi. Ketika makhluk dunia memiliki “syahwat” yang besar terhadap dunia, dimana penguasaan manusia masih mengalahkan kekuasaan Yang Maha, maka disitulah dia harus ‘mandi junub’ untuk ‘menyiram api’ yang terbumbung meskipun tidak tampak bahkan yang ditampakkan justru bangunan yang baik, penuh ketertataan tetapi kemanusiaan lah yang terbakar disana. Maka simbolis penyiraman perlu dilakukan hingga sebasah-basahnya.

Jangan kita sangka banjir besar hanya terjadi di masa lalu. Sebab hal tersebut bukanlah dongeng, legenda yang bisa terjadi lagi kapanpun. Jaman yang kita jalani sekarang ini ialah jaman jahiliyah menuju cahaya agar mendapat cinta dari Allah. Rumus menjadi pintar ialah bagaimana cara menambahkan cinta, tanpa perlu sekolah, diklat, workshop. Segala cara Allah ialah caranya untuk menampakkan diri kepada kita melalui kebijaksanaan, kearifan, ilmu dlsb yang kita temui sehari-hari.

Menurut pemahaman Mas Agus dibuatlah fase 7 (tujuh) Nabi inti. Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Nabi dan Rasul ini disebut inti untuk mempermudah membaca visual peringatan Allah melalui pada Nabi dan RasulNya. Seperti halya gambar visual maka harus ada keyframe. Yang disebutkan di atas tadi dianggap sebagai keyframe dari awal hingga akhir jaman agar kehidupan manusia tetap terbingkai sesuai dengan kehendak Allah sedangkan Nabi yang lain menjadi inbetweener. Seperti halnya animasi yang memerlukan keyframe untuk gerak utama serta inbetweener yang diletakkan diantara gerak utama. Jadi bukan sedang berbicara siapa Nabi yang penting dan tidak penting, sebab semuanya penting.

Nabi Ibrahim dipilih karena merupakan prototype manusia modern saat ini yang memiliki kapasitas intelektualitas. Kemampuan analis yang luar biasa, keberanian, serta memiliki ketakutan dan kekhawatiran yang mirip manusia pada umumnya. Perintah penyembelihan putra tercintanya melatih kedewasaan dimana kedewasaan seseorang selalu dirasa menjadi milik pribadi tersebut. Kerelaan bahwa intelektualitas harus menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah bukan justru menjadi penghalang.

Berhala bisa berwujud popularitas, kecantikan, harta dll. Dengan cara yang intelektual harusnya menjadikan kita mampu memenggal kepala-kepala berhala tersebut. Bahkan memenggal sesuatu yang seolah kita sangat cintai. Keyframe berikutnya ialah Nabi Ismail yang mengerti bahwa Allah lebih dekat dari urat leher maka merelakan urat lehernya sendiri. Sebab urat leher merupakan syarat paling berat karena berkaitan dengan hidup untuk mendekat kepada Allah. Disimbolkan kambing sebab merupakan makhluk yang mau diatur. Namun merelakan urat leher sungguh membuat seseorang memiliki kapasitas sebagai ‘bocah angon’ yang mampu mengatur bukan hanya dirinya namun juga kepada pihak diluar dirinya. Jikapun belum sebesar mengatur kahanan minimal mengatur diri kita sendiri. Sedangkan seseorang yang memiliki keengganan menjalankan kehidupan untuk mendekat kepada Allah, alih-alih justru mempertahankan potensi kambing di dalam dirinya yang siap dikandang, dan diikat oleh tata aturan yang belum tentu membawa aturan dari Tuhan. Nabi Ismail mencontohkan keberaniannya mempersembahkan urat leher kepada Allah SWT, maka serta merta potensi kambing dalam dirinya keluar dan disembelih sata itu. Sekian tahapan hidup yang memiliki tujuan mendekat kepadaNya berguna untuk memunculkan sisi-sisi kemanusiaan dan menyingkirkan sisi-sisi ringkih dan takut kepada hasut sistem kekuasaan dunia. Setiap tetesan dari langit baiknya kita respon dengan rasa syukur yang besar agar mampu menumbuhkan dan menyuburkan apapun.

Allah ialah Cahaya Diatas Cahaya. Berarti meletakkan wajah Allah dengan penuh cahaya. LIGHT. Love, senantiasa mengedepankan rasa cinta. Semakin mencintai sesuatu yang kita benci maka kualitas cinta kita akan meningkat karena tidak ada tuntutan didalamnya. Cinta sudah bekerja dengan caranya sendiri untuk menyambut cinta. Inspiration, memposisikan diri seolah berada dalam wilayah yang memberikan inspirasi seperti halnya matahari. Tanpa berencana memberikan inspirasi namun banyak yang terinspirasi olehnya. Greatness, Allah maha agung (adzim) berarti kita harus merukuk, bukan menjadi tegak. Karena bukan kita yang memiliki keagungan, kita merukuk agar muncul bukan dengan keagungan kita namun keagungan Allah. Highness, a’la. Memposisikan diri dalam posisi bersujud. Bercermin dengan tanah yang rela diinjak namun tetap menumbuhkan. Ketinggian pun hanya milik Allah bukan milik kita. Dimana kita mampu ber”sujud” disitulah kita mendirikan “masjid”. Totality, ukuran totalitas yang kaffah bukan dimata manusia. Bukan total sebagai raja, khalifah namun total sebagai abdi. Bukan mengabdi kepada sistem manusia namun sistem kita hamparkan lebih luas agar lebih menebarkan cahaya seperti Allah yang menebarkan cahaya di semua makhluk.

Suasana makan bersama

Diskusi masih terus berjalan, hingga waktu menunjukkan kisaran pukul 00.30 WIB. Menu khas gunung senantiasa menjadi penutup kegiatan bermajlis di Gugurgunung. Namun sebelum itu doa penutup dipanjatkan oleh Mas Tyo. Lingkaran-lingkaran diskusi kecil masih berlanjut hingga pukul 02.00 pagi. Hingga masing-masing berpamitan untuk kembali menjalani tugas dan peran yang berbeda namun senantiasa berharap mendapat uluran dari langit yang sama. Sekian reportase kali ini semoga bermanfaat.

 

Andhika Hendriyawan

NYUWUN JAWAH

Marja’ maiyah Syech Muhammad Nurshamad Kamba dalam tahun ini menyampaikan bulir-bulir bening ilmu yang bisa dinikmati kesegarannya bagi banyak pihak, bukan hanya kepada lingkup keluarga Maiyah saja namun juga kepada segmen sosial yang bisa jadi notabene belum cukup ‘basah’ dengan Maiyah.
Bisa dikatakan, bahwa buliran-buliran ilmu beliau laksana butir-butir kesegaran dari langit guna membasahi bumi. Buliran itu antara lain diterbitkannya “Sejarah Otentik Nabi Muhammad” yang merupakan kitab referensi penting dari tulisan Prof. Dr. Husein Mu’nis yang oleh beliau Syech Kamba telah disulih bahasakan ke Bahasa Indonesia. Kemudian juga sebelumnya, terbit pula tulisan beliau bersama Sudjiwo Tedjo dalam buku bertajuk “Tuhan Maha Asyik” dan yang paling bungsu adalah buku beliau  yang berjudul “Kids Zaman Now menemukan kembali Islam”. Bagi gugurgunung deretan tulisan-tulisan beliau sangat mengandungi muatan cinta, terlebih lagi salah satu buku pustaka gugurgunung berjudul “Desa Purwa” pun turut dihantar oleh dhawuh yang bijak dan mendalam oleh Syech Kamba.

Bulan ini, sebagai sedikit wujud cinta kami kepada Syech, kami ingin mengangkat tema berangkat dari buku-buku atau tulisan-tulisan beliau. Bahwa tulisan beliau tentu tidak akan cukup satu malam saja diurai dan diserap maka dipilihlah satu bab dalam buku “Kids Zaman Now …” yang berjudul “Mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan”. Kami tetap tahu bahwa untuk satu tema ini saja tak bisa rampung disinaoni dalam semalam. Perjalanan untuk terus memahami kearifan dan kebijaksanaan ini akan terus berlanjut dalam setiap langkah kehidupan dalam pergantian siang malam dan pada putaran musim. Memang demikianlah sepertinya cara belajar, hujan semalam tak lantas menjadi jawaban kesuburan bagi keseluruhan sisa rentang masa. Akan tetapi harus ada guyuran hujan lagi dan lagi pada periode-periode hidup selanjutnya, sabab pasti akan mengalami kekeringan lagi dan kekerontangan kembali. Sebab itulah kami menempatkan diri bagai tanah kerontang yang sinau rindu untuk disapa kerinduan sang hujan yang menghantarkan basah. Nyuwun jawah melalui salah satunya buliran-buliran bening dalam tulisan Syech Kamba.

Dalam Bahasa Jawa disebut sebagai “Nyuwun Jawah” arti bebasnya adalah : “meminta hujan”. Bahwa tidak ada fenomena pertumbuhan di bumi tanpa melibatkan langit. Hal ini bisa diartikan secara jasadiah sebagai hujan yang harfiah yang kemudian menumbuhkan bebijian. Atau bisa juga dimaknai non harfiah bahwa uluran langit kepada bumi bisa berupa ilmu, keteladanan, utusan, pencerah, pemandhu, penuntun, ataupun pamomong.

Mukadimah Majlis gugurgunung,

Edisi Oktober 2018 “NYUWUN JAWAH”

REPORTASE: PASEBAN MUHARRAM

Majlis Gugurgunung pada akhir bulan September ini kembali menggelar rutinan Maiyahan pasca melebur pada edisi bulan Agustus lalu di Gambang Syafa’at. Kegiatan ini dihelat pada tanggal 29 September 2018, bertempat di kediaman Mas Mundari yakni di Ngempon, Ungaran, Kab. Semarang.

“Paseban Muharram” menjadi tema yang dipilih pada diskusi malam hari ini. Berkesesuaian pula dengan bulan ini, yakni bulan Muharram atau Suro di kalender Jawa.

Pembacaan do’a wasilah, Wirid Gugurgunung, tembang Gugurgunung, dan Munajat Maiyah.

Semua yang hadir telah duduk melingkar, hingga dimulailah kegiatan malam itu pada pukul 21.00 WIB. Diawali dengan pembacaan do’a wasilah oleh mas Ari, juga dengan Wirid Gugurgunung dan memimpin tembang Gugurgunung anggitan mbah Narto Sabdo. Lanjut dengan Pembacaan Munajat Maiyah oleh mas Jion.

Diskusi dimulai dengan pembacaan Mukadimmah oleh mas Kasno selaku moderator yang juga dibersamai oleh mas Dian untuk memandu jalannya diskusi. Semua yang hadir menyimak pembacaan mukadimmah dengan seksama. Beberapa yang hadir yakni sedulur dari Majlis Alternatif Jepara, juga sedulur dari Semarang, serta Master Zain Zamatera bersama dua kerabat dari Pagarnusa Salatiga. Namun Master Zain pada kesempatan kali ini menyampaikan permintaan maaf yang sebesarnya karena beberapa hal, baik karena beliau yang meminta maaf atas kedatangannya yang terlambat, lalu meminta do’a untuk Zamatera yang akan mendapatkan surat pengesahan dari Kementerian Kesehatan sebagai Badan Terapist resmi di Indonesia, serta beliau mohon izin untuk pulang lebih awal sebab secara mendadak harus mengejar jadwal pesawat di Surabaya untuk menghadiri kegiatan di Batam esok pagi, dimana sesungguhnya berat pula bagi beliau yang sebenarnya rindu untuk melingkar bersama Majlis Gugurgunung.

Usai sepatah dua patah kalimat disampaikan oleh Master Zain, tiba waktunya untuk mas Yoga membawakan sebuah lagu untuk menghibur sedulur yang hadir. Sebuah puisi karya Chairil Anwar berjudul “Sia-Sia” yang diaransemenkan menjadi sebuah lagu mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Kemudian mas Dian selaku moderator kembali membuka sesi diskusi. Mas Ajik menjadi yang pertama ditunjuk olehnya untuk memantik bahasan diskusi yang dapat dikembangkan lebih luas dan dalam.

Mas Ajik menjadi yang pertama ditunjuk oleh moderator untuk memantik bahasan diskusi

Tentang kata pada tema ini, yakni Paseban dimana diartikan sebagai pertemuan. Setiap hari kita mengalami proses pertemuan-pertemuan. Baik dengan alam, yakni bertemu dengan pagi ataupun malam. Juga pertemuan dengan manusia-manusia lain. Sedari bangun tidur hingga menuju kembali tidur, sebenarnya sangat banyak pertemuan yang terjadi. Namun itu semua juga tergantung pada kesadaran kita. Apakah diri kita ini menyadarinya atau tidak. Ketika dihadapkan pada sebuah pertemuan, banyak kemungkinan pada pikiran kita yang terseret ke belakang yakni masa lalu seperti sedang ada masalah hutang dlsb. Atau bahkan pikiran melompat ke depan dimana hal itu masih belum jelas, seperti besok makan apa? dlsb.

Kemudian pak Zam juga melanjutkan pembahasan. Terkait mukadimmah, muncul sebuah pertanyaan. Tercantum dalam mukadimmah bahwa, terkait pula tema ini dengan terjadinya salah musim. Manusia berperan penting dalam pengrusakan alam hingga berujung musim yang sering tidak jelas. Namun, ketika alam nanti semakin rusak hingga ujung kerusakan apakah justru akan menemukan keasliannya?

Salah seorang sedulur dari Jepara, yakni mas Anang. Juga memiliki sebuah pertanyaan untuk memantik diskusi. Bahwa alam yang baik sudah dirusak oleh manusia, sehingga alam seakan memberontak ataupun marah. Namun bagaimana cara agar alam dapat kembali sesrawungan dengan kita manusia?

Hampir senada, mas Ari juga memiliki pertanyaan. Terjadinya salah mongso dikaitkan dengan manusia sekarang yang juga sudah salah mongso. Atau salah buruan / salah yang dimakan. Manusia sekarang justru lebih memburu dunia. Namun bagaimana agar tidak terjadi “salah makan” seperti ini?

Mas Jion merespon tentang soal pranata mangsa. Dimana bumi akan menurut dengan segala cara manusia mengkhalifahinya. Sebuah kata luhur yakni Memayu Hayuning Bawana, mungkin bisa menjadi salah satu alternatif cara untuk kita sesrawungan dengan alam kembali.

Mas Agus turut merespon dari beberapa pantikan diatas. Paseban, seba diartikan sebagai sowan, mangkat, bertemu. Paseban Muharram berangkat dari bekal yang kita himpun dari setahun yang telah jalani sebelumnya. Dalam sekian rentang waktu dari lahir, senantiasa dalam rangka seba. Namun bagaimanakah seba yang baik yang perlu kita telaah lebih dalam.

Muharram, berasal dari kata Haruma, yakni tercegah. Setiap memasuki bulan Muharram harus memiliki paugeran tentang hal apakah yang perlu untuk dilanjutkan, dan apakah yang tidak perlu untuk dilanjutkan pada tahun berikutnya. Selain itu juga perlu dipilah tentang hal apakah yang perlu untuk mulai diberlakukan dan tidak lagi diberlakukan. Meskipun diluar diri kita masih ada yang masih memberlakukannya. Sebagai contoh ialah, penggunaan pupuk kimia pada tanaman baik sayuran maupun buah-buahan. Meskipun kita sedikit sesak merasakannya, sedangkan hal tersebut terus berlanjut secara kontinue. Tetapi kesadaran yang harus dimiliki ialah bumi sudah bersusah untuk menghasilkannya. Baiknya, kita memformat diri menjadi pihak yang tidak terlibat oleh sistem nafsu. Sebab ada sistem yang dibangun oleh akal. Sistem tersebut dapat dipakai hingga level kenegaraan. Ada dua negara yang disebut oleh Mbah Nun yakni China dan Iran, dimana negara tersebut sangat memikirkan rakyatnya hingga level terkecil. Meskipun hal tersebut tidak terjadi di Indonesia, apakah kita menolak Indonesia? Tentu tidak, biarkan saja hal tersebut berlanjut. Sebab manusia terkadang perlu pembuktian.

Ada beberapa hal yang terkadang bisa tertangkap oleh Akal, ada yang terserap oleh pikiran, ada pula yang harus dibaca melalui kejadian. Contoh simulasinya, ialah ketika negara memiliki regulasi khusus tentang pupuk dan biji-bijian. Ketika hanya mampu dikonsumsi dan dimainkan oleh pihak besar dan hanya menguntungkan salah satu pihak saja, dan pihak tersebut bukanlah petani.

Apakah perlu kita melakukan kudeta? Jelas tidak. Sebab itu bukanlah pilihan yang baik. Solusi yang paling berkemungkinan baik ialah memberikannya contoh, seperti yang dilakukan oleh sedulur Majlis Alternatif di Jepara dan Petani Muda di Jogja yang menggunakan pupuk organik.

Andai, selama tujuh tahun ke depan akan terjadi kesengsaraan. Bagaimana kita menghadapinya? Apakah akan kita mengkonversikannya menjadi kekebalan ataukah justru kebebalan?

Jika terjadi kerusakan secara masif, yang itu dapat menjadi pembelajaran empiris namun sebenarnya tidak perlu terjadi jika disentuh oleh akal dan pikiran. Qiyamah, juga memiliki arti kebangkitan. Ada yang dibangkitkan berarti ada pula yang ditumbangkan. Tinggal pihak mana yang akan kita pilih, pihak yang akan dibangkitkan ataupun pihak yang akan ditumbangkan.

Dari beberapa uraian tersebut, jangan pula menganggap diri kita bukan sebagai faktor dalam perusakan-perusakan. Namun tergantung perusakan mana yang kita pilih. Petani mencangkul pun juga terlihat merusak tanah, namun menghasilkan nilai fungsi yang lebih besar.

Harapan seorang petani sebagian besar ialah, hasil panen bagus, melimpah, dan laku mahal. Namun ketika hal tersebut tidak terjadi, apakah mereka akan berhenti berdo’a? Tidak, sebab dalam pada itu sangat berkemungkinan do’a-do’a tersebut dikumpulkan dan menunggu momentum untuk memanen setiap do’a dan usaha yang sudah dijalaninya. Inilah sikap berserah, Namun tentu saja, momentum tersebut tidak akan tercapai apabila kita pasif, sebab tidak mungkin bisa hanya dengan leyeh-leyeh bisa mengunduh hasil.

Kemudian bahasan diskusi berlanjut pada gambar awan yang terpampang di poster. Bersama kita mentadaburi, bahwa semua adalah pertanda bagi orang yang berpikir. Hal tersebut ialah fenomena yang menjadi trigger akan tema Paseban Muharram kali ini.

Awan tersebut nampak terlihat jelas di puncak gunung Ungaran. Nampak beberapa awan yang hampir sama terlihat di beberapa gunung sekitaran Jawa Tengah, bahkan juga di Gunung Gede Jawa Barat serta Gunung Agung Bali. Pranata mangsa yang kerap kali berubah-ubah, bahkan terbolak balik pada sekian lama ini mungkin akan terdapat perbaikan untuk ke depannya. Sedikit hal yang mendasari ialah ada beberapa pihak yang sudah mau dandan atau memperbaiki diri, serta lingkungan. Dari lahan tandus telah mulai muncul kecambah. Meskipun hanya sebagai bidak dalam permainan catur, namun merupakan salah satu pihak yang memiliki peran utama dalam permainan tersebut sebab memiliki potensi akan harapan yang besar. Ketika satu bidak telah sampai di ujung perjalanan, ia mampu untuk memilih akan menjadi apakah dia. Bebas memilih, asal tidak menjadi “Ratu”.

Titah ataupun ilmu akan sesuatu yang dahulu mungkin pernah dimiliki leluhur tentu masih akan terjaga. Baik titah maupun ilmu semua berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dimana pasti akan bernaluri kembali kepadaNya. Tubuh manusia mungkin boleh mati, hancur dan terurai. Namun titah maupun ilmu yang dimilikinya tentu akan kembali kepada Sang Maha Pemilik Ilmu dan masih berkemungkinan untuk ditransfer kembali kepada kita entah dengan bentuk mekanisme apapun.

Kisaran waktu pukul 23.30 WIB, mas Khafid diminta untuk membacakan puisi karyanya, dengan diiringi petikan gitar oleh mas Yoga.

Lirik penuh arti serta pembawaan yang mantap pun mendapat apresiasi dari sedulur-sedulur yang hadir.

Usai disela musikalisasi puisi, mas Dian turut mengajukan sebuah pertanyaan yang masih terkait dengan diskusi malam ini. Dimana dalam waktu dekat-dekat ini banyak terjadi bencana alam. Seperti gempa di Lombok serta tsunami yang menerpa saudara kita di Palu dan Donggala. Apakah hal ini juga merupakan sebuah bentuk proses perbaikan alam seperti yang dimaksud tadi? Namun direspon oleh mas Agus bahwa tidak perlu mengkaitkan hal-hal tersebut, sebab prioritas utamanya ialah menjaga kemanusiaan. Tidak mampu untuk memberikan bantuan secara fisik, namun lakukan apa yang bisa kita lakukan bahkan dalam bentuk do’a sekalipun.

Mas Rizal dari Semarang juga menggendong pertanyaan yang masih berkaitan dengan Muharram atau Suro. Jaman dahulu tidak ada yang menikah pada bulan suro, namun era saat ini justru banyak yang melakukannya. Direspon pula oleh mas Agus bahwa, alasan leluhur untuk tidak menikah di bulan Suro ialah bulan ini merupakan bulan berkabung Rasulullah. Dimana cucu kesayangan Rasulullah mengalami fenonena yang menyedihkan yakni dibunuh, dan dipenggal kepalanya. Para leluhur mencoba untuk mendekat dengan Rasul termasuk memahami apa yang membuat rasul bersedih, sehingga agaknya kurang pas di bulan berkabung ini justru digunakan menjadi fenomena untuk berpesta atau berbahagia.

Do’a penutup menjadi pertanda bahwa usai sudah diskusi malam hari ini. Namun cangkrukan masih belum usai, sebab menu khas gunung yang selalu dirindukan senantiasa menjadi penutup dalam tiap acara majlisan Gugurgunung. Lingkaran-lingkaran kecil masih terbentuk, dengan bahasan ringan menjadi suguhan untuk saling ditukar satu sama lain untuk menambah sekelumit informasi tentang kemanusiaan, sebab sebaik-baiknya “menjadi” ialah Menjadi Manusia.

Sekian reportase edisi September 2018 dengan Tema “Paseban Muharram”, semoga bermanfaat.

Andhika Hendriyawan

PASEBAN MUHARRAM

Paseban mempunyai arti “Pertemuan”, menengarai pertemuan dengan Tahun baru 1440 H. Konon, Paseban merupakan tradisi penting yang sering dilaksanakan oleh para Leluhur. Kesempatan tersebut biasanya digunakan untuk membahas hal hal penting yang bersifat Universal. Salah satu diantaranya adalah membahas tentang “Pranata Mangsa”.

Pranata Mangsa

Pranata = Tatanan, aturan, ketentuan

Mangsa = Masa, Musim

merupakan sistem penanggalan atau kalender yang dikaitkan dengan aktivitas khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata Mangsa ini memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan  atau aktivitas tersebut  di atas maupun persiapan diri menghadapi fenomena (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu. Continue reading

MENCARI DEWAN SEPUH

Mencari…….

Kesadaran yang perlu dibangun untuk “mencari”,  salah satunya adalah kesadaran bahwa ada sesuatu yang “hilang” dan semangat yang dibutuhkan dalam sebuah pencarian, adalah semangat untuk menemukan kembali apa yang telah hilang.

Mari kita data, apa apa saja yg mulai hilang dari diri kita, dan lingkungan sekitar kita, baik pada lingkup kecil sampai luas. Mari juga kita teliti, apa apa saja penyebab dari sekian banyak kehilangan tersebut. Upaya mencari di tengah tengah fenomena upaya upaya penghancuran/pengrusakan adalah sesuatu yang berat dan sulit, namun harus terus ditempuh, sebelum segala sesuatunya benar benar hilang.

Dewan Sepuh ….

Berangkat dari meneliti sesuatu yang hilang kemudian beranjak pada fenomena kerusakan dan kehancuran. Maka kini coba kita berangkatkan dengan satu bekal ayat yang meski tidak secara eksplisit berbicara tentang dewan sepuh namun mudah-mudahan bisa menuntun kita memahami tentang apa itu relevansi Dewan Sepuh, bagaimana memilihnya, dst ….

Berikut ayatnya :

  1. 38:28 (Surah Shad)

” Patutkah Kami menganggap orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang orang yang berbuat maksiat?

Mari kita tadaburi ayat tersebut dengan pancatan pertanyaan berikut :

Taqwa dan Maksiat, mana yang lebih tua ? Bila kita teliti dari proses penciptaan, Taqwa tercipta lebih dahulu, berarti Taqwa lebih tua. Meskipun sesungguhnya kita tak mampu mengukur tingkat ketaqwaan seseorang, namun kita tetap berada dalam sebuah anjuran untuk memproduksi kemanfaatan sesuai daya jangkau dan nalar yang bisa kita pahami, dimana kemanfaatan tersebut diniatkan untuk menyambung kemesraan kepada Tuhan. Supaya sebagai ciptaan Tuhan, kita sedang mengakui dan membuktikan bahwa Tuhan tak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.

Bila dikaitkan sama pengertian pada bahasan bulan sebelumnya, salah satu cara nggayuh Taqwa yaitu dengan cara puasa. Nah, puasa yang baik itu yang bagaimana?

Intinya tidak menyia nyiakan. Maka kemudian akan timbul pertanyaan :

  • Bagaimana cara berpuasa waktu ? adalah dengan tidak menyia-nyiakan waktu
  • Bagaimana berpuasa terhadap makan ? adalah dengan tidak menyia-nyiakan makan
  • Bagaimana berpuasa bicara ? adalah tidak menyia-nyiakan bicara
  • dan seterusnya..

Jadi puasa adalah tentang efisiensi, tentang kemanfaatan, tentang kendali. Jika penyia-nyiaan adalah serta-merta merupakan perilaku sia-sia, maka sia-sia adalah batal atau batil. Pada kondisi batal, meskipun seseorang masih bisa meniru gerakan sholat dan berada di tengah jamaah namun sesungguhnya sedang menjalankan perilaku jasad saja dikarenakan tidak memenuhi syarat rukun sesuci.

Sebuah fenomena (saripati)

Dari rabaan dan irisan-irisan di atas, maka sebagai saripati awal tentang Dewan Sepuh adalah sekumpulan orang yang mengedepankan manfaat. Manusia/tokoh yang disebut sepuh adalah manusia yang Taqwa, yang tindak-tanduknya senantiasa mengakurasi kemanfaatan, efektif dan efisien, baik terhadap diri sendiri maupun kepada yang lainnya. Tidak sia-sia, tidak batal apalagi batil.

Orang beradu pendapat tentang batal dan tidak batal, lalu berlanjut menjadi perdebatan atas perlunya wudhu lagi atau tidak, Mbah Nun pernah menyampaikan, kurang lebih :

Wudhu kui solusi, ketika kita sedang bingung batal opo ora, perlu wudhu opo ora, hla mbok yo wudhu wae, wong wudhu kui apik …. Kui solusi, dudu malah diperdebatkan” Wudhu itu solusi, ketika kita sedang bingung batal atau tidak, perlu wudhu atau tidak, hla mbok ya wudhu lagi, kan wudhu itu bagus … itu solusi, bukan malah diperdebatkan.

Manusia/tokoh yang disebut sepuh bukan ditilik semata dari tolak ukur ia lahir lebih dahulu atau belakangan, melainkan karena pada seberapa benderang laku lampahnya untuk tetap ingat dan waspada pada awal/pada pulang. Apabila ada purnama, seterang apapun purnama ia akan sirna kecemerlangannya dengan mendung tebal atau gerhana. Purnama ibarat iman, dan amal saleh, benderang dan dirindukan. Sedangkan mendung tebal ataupun gerhana adalah perilaku yang menghendaki mengedepankan kegelapan dan membelakangkan cahaya. Dewan Sepuh adalah orang-orang yang senantiasa meneruskan tradisi pepadhang dengan menguji, mengajari (patatar), dengan nasehat dan kebijakan, mengingatkan secara telaten (patitir), dan dengan memberi contoh perilaku (patutur). Tentu saja tatar, titir, dan tutur tentang bentuk ketaqwaan kepada Tuhan.

Majlis gugurgunung bulan ini mengajak memikirkan dan menyadari atas suatu aset yang sesungguhnya mulai terbenam, siap tenggelam dan hilang. Salah satunya adalah fenomena masyarakat yang semakin enggan mengakomodir yang sepuh, juga enggan menjadi sepuh, namun tetap berharap dunia mengingat, mengenal, mengikuti dan kelak mengenangnya. Rata-rata menempuhnya dengan jalur sosial maya. Mari terus kita dadar diri guna memenuhi kebutuhan keseimbangan tua-muda dalam peradaban. Silakan hadir di MGG bulan Juli untuk menambah catatan kecil pada mukadimah ini menjadi catatan yang lebih lengkap lagi, sebagai referensi pencarian kita bersama untuk menemukan kembali “Dewan Sepuh” yang bisa jadi tidak harus berada di luar sana.