Reportase: Sinau Mulat

Pertemuan rutin majlis gugurgunung pada bulan ini jatuh pada tanggal 31 Maret 2018 bertempat di Balai Desa Klepu Ungaran, Kab. Semarang dengan tema “Sinau Mulat”.

Seperti biasa, kegiatan dimulai sekitar pukul 21.00 WIB, dengan do’a pembuka dan wasilah oleh Mas Tyo, dilanjutkan Munajat Maiyah oleh Mas Jion. Sedikit kalimat pembuka dari Mas Agus untuk mengawali diskusi, yakni pada malam ini bebarengan dengan rapat pleno Maiyah di Kadipiro dan juga tepat 40 tahun usia (hijriah) Mas Sabrang. Sedikitdo’a dipanjatkan untuk kebaikan beliau. Amin.

Tenang dan menyegarkan tatkala Munajat Maiyah dibacakan oleh Mas Jion dan diikuti dulur-dulur yang hadir malam itu.

Continue reading

Mukadimah: Sinau Mulat

Sinau Mulat – Rutinan Majlis GugurGunung Tanggal Maret 2018

MajlisGugurgunung:: Segala hal yang telah diciptakan akan kita temukan bahwa semuanya saling berpasangan. Keadaan terbagi menjadi dua bagian yakni kakawin dan reridu. Kakawin digambarkan sebagai keadaan yang indah, baik itu dipandang, didengar, dicecap dan dirasakan. Sedangkan reridu ialah sebuah keadaan yang tidak tenang, gelap, ruwet dlsb. Oleh sebab itu setiap 8 tahun disebut sebagai windu (kakawin dan reridu). Yang perlu kita maknai ialah, tiap delapan tahun kita tengok kembali ke belakang dan evaluasi langkah dalam laku yang sudah dijalankan. Apa yang lebih banyak didalamnya? Hal baik kah? Hal buruk? Kakawin? Atau reridu? Seperti bertolak belakang, Kemudian “akan kita temukan bahwa semuanya berpasangan”

Fungsi dari mengamati dan meengevaluasi langkah hidup ini agar tetap menegakkan niat menjalani hidup hanya untuk kembali kepada nol atau kekosongan. Agar memahami kekosongan sebaiknya mengerti pada letak, untuk memahami letak sebaiknya mengerti untuk evaluasi, untuk bisa evaluasi sebaiknya bersyukur telah diberi hidup, untuk bisa menjalankan kehidupan harus mengerti peran, untuk mengerti peran harus berbuat, untuk bisa berbuat harus beranjak, untuk beranjak harus ada niat. Dan sebaik-baiknya niat adalah ALIF.

Marilah duduk melingkar dalam pertemuan rutin Majlis gugurgunung yang bertempat di Balai Desa Klepu, Ungaran Kab. Semarang pada Malam Minggu tanggal 31 Maret 2018 pukul 20.00 WIB. Mari bertukar pikiran, saling mengevaluasi diri untuk menetapkan langkah ke depan.

Reportase: Malikinnas Ilahinnas

Pertemuan rutin Majlis Gugurgunung edisi bulan Februari jatuh pada tanggal 24 Februari 2018 bertempat di Balai Desa Klepu, Ungaran, Kab. Semarang. Dengan tema yang diusung ialah “Malikinnas Ilahinnas”.

Moderator pada malam hari ini adalah Mas Norman dan Mas Dian. Usai dibuka oleh moderator, dilanjutkan dengan pembacaan do’a Wasilah oleh Mas Ari dan do’a Munajat Maiyah oleh Mas Jion.

Mas Kasno sebagai perwakilan untuk menyampaikan beberapa kalimat seputar tema  sebagai pengantar diskusi. Berawal dari Bapak Maiyah, Muhammad Ainun Nadjib yang menyampaikan bahwa kata yang tepat untuk berpasangan dengan “menjadi….” tidak lain adalah “…manusia”. Sehingga entah itu presiden, polisi, pejabat dll semua itu adalah jalan untuk menjadi seorang manusia. Gugurgunung disini berperan sebagai “Musholla” yakni tempat kita berjama’ah dengan “Masjid Agung”nya adalah Maiyah dengan harapan silah-nya sampai menuju Baitullah Masjidil Haram.

Mas Agus memberikan paparan lebih luas lagi tentang tema pada malam hari ini

Kemudian Mas Agus memberikan paparan lebih luas lagi tentang tema pada malam hari ini. Dimana sudah merupakan tradisi dari Majlis Gugurgunung untuk membaca keadaan menjadi tema bahasan, yang juga melatih kita untuk mempertajam cara pembacaan keadaan dari masing-masing pribadi. Namun harus siap juga terhadap resiko dengan bacaan yang sedikit menggelitik, dan harus ditanggapi bukan untuk di”paido”, di”eyeli” dsb. Pembelajaran inspeksi diri merupakan salah satunya agar tidak menjadi represif terhadap situasi. Cara pepiling dari Allah bisa dengan cara-cara yang indah, lembut, kasar, menyakitkan dll. Dengan begitu banyaknya variant untuk pepiling sehingga justru malah membuat kita menjadi lupa.

Dari sekian tahapan pembuatan tema pada malam hari ini mengalami masa inkubasi dimana memerlukan waktu yang lebih lama. Makanya kita harus senantiasa mengingat setiap keadaan sebagai bentuk persembahan kepada Allah. Mungkin memang perguliran itu berat oleh karena itu dilengkapi dengan beberapa kisah seperti yang dibagikan oleh beberapa sedulur Gugurgunung.

Raja, diartikan sebagai malik. Akan tetapi se-Raja apapun seorang manusia tetap mengabdi kepada Rajanya Manusia atau Malikinnas. Ketika sedang berhadapan langsung dengan Allah, tidak dilihat status sebagai seorang raja atau bukan. Bahkan tidak masalah menjadi orang “ngeroto” atau orang yang tidak menonjol sebab sama posisinya dengan raja dimata Allah.

Pembelajaran yang sedikit akan baik ketika mencoba dimaknai dengan sungguh-sungguh sebab Allah sangat mengetahui tentang kapasitas. Oleh karena itu, menurut Mas Agus sedikit keliru ketika kita meminta sesuatu dalam jumlah yang banyak kepada Allah. Sebab ketika kita meminta sesuatu yang banyak dari Allah justru sebenarnya Allah bisa memberi yang jauh lebih banyak dari yang bisa kita bayangkan. Dalam pada itu juga ketika sudah biasa terhadap hal-hal besar maka juga bisa melupakan hal-hal kecil yang sesungguhnya menjadi unsur susunan dalam sesuatu yang besar tadi.

Contoh sederhana, seseorang mendapat gaji yang kecil lalu membandingkan dengan orang lain yang gajinya lebih besar. Ketika mendapat gaji yang besar maka yang dilihat adalah orang lain yang lebih besar lagi begitu seterusnya ketika tidak mampu memaknai sesuatu hal yang dianggap kecil atau sederhana. Ketika mampu memaknai hal kecil maka kemungkinan Allah akan menghadapkan kita pada sesuatu yang lebih besar, tetapi selain mengetahui fenomena kemanusiaan yang besar juga harus mampu mengetahui sesuatu yang maha besar.

Akhirnya jarak itu membuat kita menjadi lebih dekat dengan Allah. Besar kecilnya manusia yang menbedakan ialah kualitas taqwanya. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk bertaqwa, tawakal, dll hanya untuk mengetahui ternyata Allahu Akbar.

Di dalam fenomena sholat, adzan, penyebutan Allahu Akbar senantiasa di repetisi terus menerus. Anjuran untuk kita hingga saat ini ialah takbir, berarti memang diri kita sangat mudah terperangkap untuk merasa besar. Ketika kita merasa besar maka akan sulit untuk mengakui yang maha besar. Baik di dalam diri maupun diluar (yang terlihat, terdengar maupun tercium) akan mengandung unsur jebakan karena dengan yang kita lihat, apakah dengan demikian menjadikan kita mampu menggunakannya untuk mengakui bahwa Allah maha besar dan semakin memiliki kesadaran bahwa kita ini mengabdi.

Menanggapi bahwa Gugurgunung ini adalah Musholla, dimana Musholla itu ialah tempat untuk sholat maupun sholawat. Oleh karena itu disini selalu ada sholawatannya, begitupun juga di simpul-simpul yang lain. Berarti bisa kita anggap pula bahwa masing-masing simpul adalah Musholla-musholla. Sempat disinggung pula Maiyah sebagai Masjid Agungnya, padahal yang masih berjalan ialah Maiyah berperan untuk tidak menonjol/ngroto meskipun seiring berjalannya waktu menjadi semakin roto/rata tersebar hampir di setiap kota, ini berarti fenomena-fenomena mushola semakin banyak, orang yang sholat semakin banyak, orang bersholawat makin banyak. Dan semoga senantiasa kita mendapat hidayah agar diperkenankan untuk menjadi makmum di Masjidil Haram, sebuah tempat yang sangat menganjurkan usaha aktif dari kita untuk mencegah dari perbuatan fasik, mungkar. Yang menjadi dipersyaratkan untuk umroh dan berhaji ialah untuk semua orang yang masih hidup, maka ketika kita mampu menjaga setiap langkah kita dari perbuatan fasik dan mungkar maka semakin mendekatkan langkah kita kepada Masjidil Haram untuk senantiasa memenuhi panggilannya.

Sebuah fenomena lagi yakni dari perjalanan Mas Jion yang harus bergesekan di jalan ketika akan berangkat tadi. Ketika fenomena tersebut dihadapi sebagai fenomena kemanusiaan saja maka pasti yang dikedepankan ialah posisi untung dan ruginya. Akan tetapi ketika itu diletakkan sebagai hadiahnya Allah, meskipun bukan sesuatu yang kita anggap manis bahkan justru pahit, sepet dsb, Insya Allah hal tersebut juga merupakan salah satu langkah untuk memproklamirkan diri untuk memenuhi panggilannya. Aku mendekatimu dengan kasih sayang meskipun engkau mendekatiku dengan fenomena yang mencengangkan dan sebagai bentuk yang tampak kurang mengenakkan. Ku terima semua ini ya..Allah karena tidak ada hal buruk dari engkau, tidak ada yang bathil. Hal ini merupakan fenomena yang harus kita serap bersama-sama untuk semua yang ada disini.

Tidak ada satupun manusia yang ingin dirinya mengalami peristiwa yang tidak enak. Namun apakah ada seorang yang tidak menemui ketidak-enakan di dalam hidupnya baik itu sekecil apapun bentuknya.

Semakin berkembangnya maiyah, semakin memberikan informasi kepada kita bahwa hidayah ini juga dapat kita jadikan sebagai hudan atau petunjuk dalam fenomena uluhiyah (intim, rahasia, hanya kita yang mampu meenbaca) dan rububiyah (perilaku, perkataan yang masih bisa kita sampaikan kepada orang lain). Andaikan proses mencerna Allahu Akbar tidak hanya dalam lima waktu sehari, kalau bisa setiap membuka mata, kalau tidak bisa minimal lebih dari 5 waktu.

Seperti halnya syahadat, bukan hanya kita membacanya namun juga dalam perilaku kita harus bersyahadat. Semakin luas cakrawala kesaksian kita terhadap Allah, maka kita akan dibuat menjadi “kaya”. Segala kondisi apapun entah enak ataupun tidak mengenakkan, entah itu sempit ataupun lapang, baik itu berat ataupun ringan dsb.

Coba kita diibaratkan sebagai seorang Chef, kita memasak, mengelola menjadi hidangan yang asyik dengan kesadaran utama bahwa tempe yang sudah dihadapan kita akan gagal menjadi tempe jika kita memiliki angan-angan memakan daging. Hal tersebut tidak ringan bahkan justru berat tetapi Insya Allah akan menjadi asyik dan indah.

Makan bersama sambil melakukan obrolan ringan. Beralaskan selembar kertas minyak, menikmati tiap suapan.

Kemudian memasuki sesi perkenalan karena ada beberapa yang hadir baru pertama kalinya. Salah satunya ialah mas Ghoyab.

Usai perkenalan memasuki pergantian hari, oleh karena itu diberi jeda dengan makan bersama terlebih dahulu. Nasi putih, nasi jagung, ikan asin, sambal, kerupuk, dan pisang semua sudah tertata apik ditengah-tengah lingkaran diskusi. Makan bersama sambil melakukan obrolan ringan. Beralaskan selembar kertas minyak, menikmati tiap suapan. Waktu yang terus berjalan, menjadi pengiring dalam hangatnya persaudaraan. Tidak terasa waktu sudah lebih dari tengah malam. Sambil diskusi ringan, masih melanjutkan diskusi yakni pembuatan draft poin-poin usulan piagam maiyah.

Sekitar pukul 02.00 pagi, selesai sudah kegiatan rutinan Majlis Gugurgunung. Ditutup dengan do’a, salam, dan akhirnya semua berpamitan untuk melanjutkan kehidupan di tengah masyarakat, berbekal tetesan ilmu yang didapat. Sekian reportase, semoga bermanfaat.

 

Andhika Hendriyawan

 

Mukadimah: MALIKINNAS ILAHINNAS

Mukadimah – MGG Feb 2018 – MALIKINNAS ILAHINNAS

Mulai dari orang yang satu kemudian berkumpul menjadi orang yang banyak atau bisa disebut kawulowarga, keluarga. Berawal dari diri (wargo) menuju kulowargo (luar diri terdekat), dan menggandeng kulowargo-kulowargo yang lebih luas. Terus bertambah hingga menjadi kumpulan kawulowarga. Secara lebih luas dapat digambarkan sebagai sebuah kerajaan dimana masing-masing saling mengerti ikatannya karena mempunyai galih yang sama. Kerajaan disini mungkin bisa jadi ejawantah dari bebrayan agung dengan prinsipnya yakni memayu hayuning diri, memayu hayuning sasomo, memayu hayuning bawono.

Di dalam sebuah lingkup wilayah kerajaan ada wilayah yang dibebaskan/dimerdekakan dari segala macam pajak, karena di daerah tersebut ada salah satu warga/tokoh yang dianggap mampu untuk ngemong _kulowargo_ wilayah tersebut. Biasanya adalah para satrio pilih tanding atau resi dan wilayahnya bernama daerah Perdikan. Didalam bermaiyah kerap kali dianjurkan supaya kita terus menerus berupaya menjadi Manusia. “Menjadi…., pasangan kata yang paling tepat adalah manusia”.Continue reading

Reportase: Songolasan Majlis Gugurgunung Januari 2018

Songolasan Majlis Gugurgunung pada bulan Januari 2018 diadakan di kediaman Mas Tyo, tepatnya di kota Temanggung. Dengan menggunakan dua buah mobil dari Ungaran, Wadyobolo Gugurgunung berangkat sekitar pukul 20.00 WIB. Diharapkan pembahasan pada malam hari ini akan lebih optimal termasuk untuk menggodog tema besar tahun 2018.

Dibuka dengan pembacaan do’a wasilah oleh Mas Kasno dan dilanjutkan dengan pembacaan munajat Maiyah oleh Mas Jion. Mas Norman sebagai moderator memimpin jalannya diskusi, dengan Mas Kasno sebagai pemantik awal.

Sedikit pembahasan yang pernah dibahas beberapa waktu lalu ialah tentang “dandan”- atau biasa diartikan sebagai fenomena memperbaiki. Juga dandan erat kaitannya dengan kecantikan, santika, ayu dsb.

Masih teringat pula dengan kisah tentang Samin Surosentiko yang pada jaman dahulu jumlahnya relatif tidak banyak dan bahkan menurut kabar masih bertahan hingga saat ini. Samin surosentiko yang juga mengandung kata santika didalamnya dimana pada masa kolonial berani untuk menolak membayar pajak.

Pantikan kedua dari Mas Norman sendiri, dimana dengan tema besar tahun lalu yakni Pamomongan dan pada tahun ini yakni kasantikan yang nantinya menggunakan referensi Al Qur’an dan hadist. Pergantian tema besar ini diartikan oleh Mas Norman bahwa setelah diemong maka harus dibundeli dan menjadi impresi dalam diri kita yang bertujuan untuk melangkah lebih jauh ke depan. Idealnya yang mungkin akan kita tuai saat di alam berikutnya, sedangkan disini kita hanya bisa untuk mempersiapkan diri.

Berikutnya adalah respon dari Mas Agus. Didalam mempersiapkan diri untuk melangkah ke depan maka perlu untuk melihat ke belakang. Selain perjalanan makro yang ditempuh ada pula perjalanan individual. Proses terbentuknya Majlis Gugurgunung harus dicermati sebagai bagian dari sejarah. Mas (Semilir) Bayu, yang merupakan salah satu perintis di Majlis Gugurgunung memiliki hajat yang bertepatan dengan waktu untuk Gugurgunungan di malam minggu terakhir. Oleh sebab itu, meskipun belum dapat dipastikan bisa hadir atau tidak namun tentang pertemuan rutin Majlis Gugurgunung di malam minggu terakhir alangkah baiknya ketika kita mampu untuk mengoptimalkan pembahasan pada malam hari ini.

Tema besar pada tahun ini adalah tentang Santika yang masih seakar kata dengan santi, saint, santo, santoso, susanto. Santo berarti membawa sifat rohani yang tenang, suci. Santo nantinya dikembangkan menjadi sinter dan santa.

Peradaban manusia umumnya merindukan keindahan rohani yang bersifat universal. Kerinduan tersebut merupakan miliknya Allah yang dititipkan dibawah alam sadar agar senantiasa merindukan keindahan universal. Kesucian Keindahan.

Pada beberapa waktu lalu di Demak, Mas Agus sempat menyampaikan tentang sebuah terminologi bahasa. Bahasa adalah daya ungkap kita yang berasal dari perangkat dalam, seperti halnya radio yang mampu menangkap frekuensi yang tepat dan akhirnya dapat bersuara. Namun ketika radio tersebut dimatikan maka tidak akan mampu untuk menangkap frekuensi dan akhirnya juga tidak mampu bersuara. Wujud rohani bisa dibahasakan dengan frekuensi, gelombang ataupun vibrasi. Dalam hal ini terdapat kecenderungan persamaan bahasa antara satu dengan yang lain karena menangkap frekuensi yang sama. Misalkan kata-kata bijak, dimana hampir semua bangsa memiliki kesamaan meski berbeda bahasanya. Disini kita mulai menggapai tentang universalitas agar tidak mengabaikan informasi-informasi yang lebih lembut dengan satu kesadaran bahwa Allah Maha Tahu, dan banyak yang tidak kita maknai. Hal tersebut dapat kita artikan bahwa sesungguhnya kita tidak mengetahui apa-apa.

Perkembangan bahasa atau kata-kata yang keluar itu disebut sebagai “kembang”. Kembang, ketika tidak sama dengan frekuensi hati maka menjadi tidak artikulatif. Kembang ada bahasa bangsa, bahasa keilmuan dll.

Terdapat sekian fase dari bahasa yakni bahasa murni yang berisi tentang kesucian, keindahan, kasantikan dimana bahasa murni ini semakin lama akan semakin terhijab menjadi bahasa bangsa-bangsa atau kabilah yang berisi tentang ideologi. Namun ada bahasa yang tidak terhijab, tetap murni dan diungkapkan secara sama oleh semua manusia hingga saat ini tanpa peduli latar belakang budaya, agama, bahasa, dlsb. Semua pernah dan akan terus menyuarakan kata-kata murni ini, maka kategori kata-kata tersebut tak berpakaian budaya, agama, atau kembangan lain yang membatasi. Seperti bayi yang tak berpakaian dan berikutnya disini disebut sebagai bahasa telanjang. Bahasa telanjang merupakan fitrah bahasa yang tidak hilang dan tetap dipakai oleh bangsa apapun contohnya : sendawa, teriak, menguap dll. Perbedaan-perbedaan dari bahasa-bahasa tersebut bukan pada fitrahnya tetapi lebih kepada penulisannya atau peng-aksara-annya.

Berikutnya, masih ada lagi bahasa yang lebih terjaga lagi sebab tidak bisa diaksarakan dan yang ada hanya kebeningan bahkan tak bersuara. Ialah : air mata merupakan bahasa yang paling jujur namun memiliki daya ungkap yang sangat beribu-ribu kata tanpa kata-kata. Karena bahasa ini paling murni maka banyak yang menunggangi kemurnian ini untuk menyentuh hati oranglain. Begitulah awal mula bahasa, tadinya murni sebagai alat ungkap yang membantu untuk saling bersentuhan dari hati ke hati menjadi alat untuk bergesekan dan perseteruan di kemudian hari. Air mata dengan segala kekayaan daya ungkapnya tidak kehilangan ‘efek sentuhan’ tersebut. Jikapun ada yang kemudian memanipulasi air mata dan menggunakannya untuk kepentingan pribadinya, orang itu dengan tangis palsunya yang tidak murni. Sedangkan air mata dan lelehannya tetap tampil secara murni.

Tujuan dari pembahasan kasantikan ini ialah, bukan untuk mencapai kemurnian tetapi agar supaya menyadari bahwa diri kita ini tidak murni dan berusaha untuk lebih mendekat pada kemurnian. Hal ini merupakan salah satu fenomena “eling lan waspodo”  karena kemurnian dan kesucian hanya milik Tuhan.

Oleh karena itu jadilah pribadi yang otentik. Pribadi otentik ini bukan lantas harus selalu berbeda dengan oranglain. Setiap pribadi pasti akan menjumpai kesamaan dan perbedaan. Apabila terdapat perbedaan, coba telaah apakah yang disampaikan memiliki kesamaan maksud. Jika setiap orang mampu memperkaya persamaan-persamaan kasantikan pada sebanyak-banyak perjumpaan yang tidak jarang disembuyikan dengan bungkus perbedaan, maka akan semakin luas dirinya karena menemukan penggabungan dengan keluasan. Dengan adanya hal tersebut maka akan terjadi penggabungan diri dalam kasantikan. Mungkin kita bukan satu lukisan utuh dalam sebuah kanvas. Akan tetapi jika kita mau memberi satu torehan warna dan bergabung dengan warna-warna lainnya maka akan terbentuk suatu lukisan yang utuh.

Kakawin merupakan salah satu contoh bahasa kasantikan. Karena sebelum adanya kebudayaan tembung, kebudayaan yang berkembang adalah kebudayaan tembang.

Pembahasan terus berlanjut, juga beberapa kisah, cerita yang dibagikan oleh Mas Agus serta direspon oleh sedulur yang lain. Hawa dingin di Temanggung tidak menyurutkan semangat untuk saling berdiskusi dan bertukar pikiran. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Segera sedulur-sedulur berpamitan usai ditutup dengan do’a, dan segera kembali ke Ungaran. Sekian reportase kali ini semoga bermanfaat. Amin.

 

Andhika Hendryawan