REPORTASE: PASEBAN MUHARRAM

Majlis Gugurgunung pada akhir bulan September ini kembali menggelar rutinan Maiyahan pasca melebur pada edisi bulan Agustus lalu di Gambang Syafa’at. Kegiatan ini dihelat pada tanggal 29 September 2018, bertempat di kediaman Mas Mundari yakni di Ngempon, Ungaran, Kab. Semarang.

“Paseban Muharram” menjadi tema yang dipilih pada diskusi malam hari ini. Berkesesuaian pula dengan bulan ini, yakni bulan Muharram atau Suro di kalender Jawa.

Pembacaan do’a wasilah, Wirid Gugurgunung, tembang Gugurgunung, dan Munajat Maiyah.

Semua yang hadir telah duduk melingkar, hingga dimulailah kegiatan malam itu pada pukul 21.00 WIB. Diawali dengan pembacaan do’a wasilah oleh mas Ari, juga dengan Wirid Gugurgunung dan memimpin tembang Gugurgunung anggitan mbah Narto Sabdo. Lanjut dengan Pembacaan Munajat Maiyah oleh mas Jion.

Diskusi dimulai dengan pembacaan Mukadimmah oleh mas Kasno selaku moderator yang juga dibersamai oleh mas Dian untuk memandu jalannya diskusi. Semua yang hadir menyimak pembacaan mukadimmah dengan seksama. Beberapa yang hadir yakni sedulur dari Majlis Alternatif Jepara, juga sedulur dari Semarang, serta Master Zain Zamatera bersama dua kerabat dari Pagarnusa Salatiga. Namun Master Zain pada kesempatan kali ini menyampaikan permintaan maaf yang sebesarnya karena beberapa hal, baik karena beliau yang meminta maaf atas kedatangannya yang terlambat, lalu meminta do’a untuk Zamatera yang akan mendapatkan surat pengesahan dari Kementerian Kesehatan sebagai Badan Terapist resmi di Indonesia, serta beliau mohon izin untuk pulang lebih awal sebab secara mendadak harus mengejar jadwal pesawat di Surabaya untuk menghadiri kegiatan di Batam esok pagi, dimana sesungguhnya berat pula bagi beliau yang sebenarnya rindu untuk melingkar bersama Majlis Gugurgunung.

Usai sepatah dua patah kalimat disampaikan oleh Master Zain, tiba waktunya untuk mas Yoga membawakan sebuah lagu untuk menghibur sedulur yang hadir. Sebuah puisi karya Chairil Anwar berjudul “Sia-Sia” yang diaransemenkan menjadi sebuah lagu mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Kemudian mas Dian selaku moderator kembali membuka sesi diskusi. Mas Ajik menjadi yang pertama ditunjuk olehnya untuk memantik bahasan diskusi yang dapat dikembangkan lebih luas dan dalam.

Mas Ajik menjadi yang pertama ditunjuk oleh moderator untuk memantik bahasan diskusi

Tentang kata pada tema ini, yakni Paseban dimana diartikan sebagai pertemuan. Setiap hari kita mengalami proses pertemuan-pertemuan. Baik dengan alam, yakni bertemu dengan pagi ataupun malam. Juga pertemuan dengan manusia-manusia lain. Sedari bangun tidur hingga menuju kembali tidur, sebenarnya sangat banyak pertemuan yang terjadi. Namun itu semua juga tergantung pada kesadaran kita. Apakah diri kita ini menyadarinya atau tidak. Ketika dihadapkan pada sebuah pertemuan, banyak kemungkinan pada pikiran kita yang terseret ke belakang yakni masa lalu seperti sedang ada masalah hutang dlsb. Atau bahkan pikiran melompat ke depan dimana hal itu masih belum jelas, seperti besok makan apa? dlsb.

Kemudian pak Zam juga melanjutkan pembahasan. Terkait mukadimmah, muncul sebuah pertanyaan. Tercantum dalam mukadimmah bahwa, terkait pula tema ini dengan terjadinya salah musim. Manusia berperan penting dalam pengrusakan alam hingga berujung musim yang sering tidak jelas. Namun, ketika alam nanti semakin rusak hingga ujung kerusakan apakah justru akan menemukan keasliannya?

Salah seorang sedulur dari Jepara, yakni mas Anang. Juga memiliki sebuah pertanyaan untuk memantik diskusi. Bahwa alam yang baik sudah dirusak oleh manusia, sehingga alam seakan memberontak ataupun marah. Namun bagaimana cara agar alam dapat kembali sesrawungan dengan kita manusia?

Hampir senada, mas Ari juga memiliki pertanyaan. Terjadinya salah mongso dikaitkan dengan manusia sekarang yang juga sudah salah mongso. Atau salah buruan / salah yang dimakan. Manusia sekarang justru lebih memburu dunia. Namun bagaimana agar tidak terjadi “salah makan” seperti ini?

Mas Jion merespon tentang soal pranata mangsa. Dimana bumi akan menurut dengan segala cara manusia mengkhalifahinya. Sebuah kata luhur yakni Memayu Hayuning Bawana, mungkin bisa menjadi salah satu alternatif cara untuk kita sesrawungan dengan alam kembali.

Mas Agus turut merespon dari beberapa pantikan diatas. Paseban, seba diartikan sebagai sowan, mangkat, bertemu. Paseban Muharram berangkat dari bekal yang kita himpun dari setahun yang telah jalani sebelumnya. Dalam sekian rentang waktu dari lahir, senantiasa dalam rangka seba. Namun bagaimanakah seba yang baik yang perlu kita telaah lebih dalam.

Muharram, berasal dari kata Haruma, yakni tercegah. Setiap memasuki bulan Muharram harus memiliki paugeran tentang hal apakah yang perlu untuk dilanjutkan, dan apakah yang tidak perlu untuk dilanjutkan pada tahun berikutnya. Selain itu juga perlu dipilah tentang hal apakah yang perlu untuk mulai diberlakukan dan tidak lagi diberlakukan. Meskipun diluar diri kita masih ada yang masih memberlakukannya. Sebagai contoh ialah, penggunaan pupuk kimia pada tanaman baik sayuran maupun buah-buahan. Meskipun kita sedikit sesak merasakannya, sedangkan hal tersebut terus berlanjut secara kontinue. Tetapi kesadaran yang harus dimiliki ialah bumi sudah bersusah untuk menghasilkannya. Baiknya, kita memformat diri menjadi pihak yang tidak terlibat oleh sistem nafsu. Sebab ada sistem yang dibangun oleh akal. Sistem tersebut dapat dipakai hingga level kenegaraan. Ada dua negara yang disebut oleh Mbah Nun yakni China dan Iran, dimana negara tersebut sangat memikirkan rakyatnya hingga level terkecil. Meskipun hal tersebut tidak terjadi di Indonesia, apakah kita menolak Indonesia? Tentu tidak, biarkan saja hal tersebut berlanjut. Sebab manusia terkadang perlu pembuktian.

Ada beberapa hal yang terkadang bisa tertangkap oleh Akal, ada yang terserap oleh pikiran, ada pula yang harus dibaca melalui kejadian. Contoh simulasinya, ialah ketika negara memiliki regulasi khusus tentang pupuk dan biji-bijian. Ketika hanya mampu dikonsumsi dan dimainkan oleh pihak besar dan hanya menguntungkan salah satu pihak saja, dan pihak tersebut bukanlah petani.

Apakah perlu kita melakukan kudeta? Jelas tidak. Sebab itu bukanlah pilihan yang baik. Solusi yang paling berkemungkinan baik ialah memberikannya contoh, seperti yang dilakukan oleh sedulur Majlis Alternatif di Jepara dan Petani Muda di Jogja yang menggunakan pupuk organik.

Andai, selama tujuh tahun ke depan akan terjadi kesengsaraan. Bagaimana kita menghadapinya? Apakah akan kita mengkonversikannya menjadi kekebalan ataukah justru kebebalan?

Jika terjadi kerusakan secara masif, yang itu dapat menjadi pembelajaran empiris namun sebenarnya tidak perlu terjadi jika disentuh oleh akal dan pikiran. Qiyamah, juga memiliki arti kebangkitan. Ada yang dibangkitkan berarti ada pula yang ditumbangkan. Tinggal pihak mana yang akan kita pilih, pihak yang akan dibangkitkan ataupun pihak yang akan ditumbangkan.

Dari beberapa uraian tersebut, jangan pula menganggap diri kita bukan sebagai faktor dalam perusakan-perusakan. Namun tergantung perusakan mana yang kita pilih. Petani mencangkul pun juga terlihat merusak tanah, namun menghasilkan nilai fungsi yang lebih besar.

Harapan seorang petani sebagian besar ialah, hasil panen bagus, melimpah, dan laku mahal. Namun ketika hal tersebut tidak terjadi, apakah mereka akan berhenti berdo’a? Tidak, sebab dalam pada itu sangat berkemungkinan do’a-do’a tersebut dikumpulkan dan menunggu momentum untuk memanen setiap do’a dan usaha yang sudah dijalaninya. Inilah sikap berserah, Namun tentu saja, momentum tersebut tidak akan tercapai apabila kita pasif, sebab tidak mungkin bisa hanya dengan leyeh-leyeh bisa mengunduh hasil.

Kemudian bahasan diskusi berlanjut pada gambar awan yang terpampang di poster. Bersama kita mentadaburi, bahwa semua adalah pertanda bagi orang yang berpikir. Hal tersebut ialah fenomena yang menjadi trigger akan tema Paseban Muharram kali ini.

Awan tersebut nampak terlihat jelas di puncak gunung Ungaran. Nampak beberapa awan yang hampir sama terlihat di beberapa gunung sekitaran Jawa Tengah, bahkan juga di Gunung Gede Jawa Barat serta Gunung Agung Bali. Pranata mangsa yang kerap kali berubah-ubah, bahkan terbolak balik pada sekian lama ini mungkin akan terdapat perbaikan untuk ke depannya. Sedikit hal yang mendasari ialah ada beberapa pihak yang sudah mau dandan atau memperbaiki diri, serta lingkungan. Dari lahan tandus telah mulai muncul kecambah. Meskipun hanya sebagai bidak dalam permainan catur, namun merupakan salah satu pihak yang memiliki peran utama dalam permainan tersebut sebab memiliki potensi akan harapan yang besar. Ketika satu bidak telah sampai di ujung perjalanan, ia mampu untuk memilih akan menjadi apakah dia. Bebas memilih, asal tidak menjadi “Ratu”.

Titah ataupun ilmu akan sesuatu yang dahulu mungkin pernah dimiliki leluhur tentu masih akan terjaga. Baik titah maupun ilmu semua berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dimana pasti akan bernaluri kembali kepadaNya. Tubuh manusia mungkin boleh mati, hancur dan terurai. Namun titah maupun ilmu yang dimilikinya tentu akan kembali kepada Sang Maha Pemilik Ilmu dan masih berkemungkinan untuk ditransfer kembali kepada kita entah dengan bentuk mekanisme apapun.

Kisaran waktu pukul 23.30 WIB, mas Khafid diminta untuk membacakan puisi karyanya, dengan diiringi petikan gitar oleh mas Yoga.

Lirik penuh arti serta pembawaan yang mantap pun mendapat apresiasi dari sedulur-sedulur yang hadir.

Usai disela musikalisasi puisi, mas Dian turut mengajukan sebuah pertanyaan yang masih terkait dengan diskusi malam ini. Dimana dalam waktu dekat-dekat ini banyak terjadi bencana alam. Seperti gempa di Lombok serta tsunami yang menerpa saudara kita di Palu dan Donggala. Apakah hal ini juga merupakan sebuah bentuk proses perbaikan alam seperti yang dimaksud tadi? Namun direspon oleh mas Agus bahwa tidak perlu mengkaitkan hal-hal tersebut, sebab prioritas utamanya ialah menjaga kemanusiaan. Tidak mampu untuk memberikan bantuan secara fisik, namun lakukan apa yang bisa kita lakukan bahkan dalam bentuk do’a sekalipun.

Mas Rizal dari Semarang juga menggendong pertanyaan yang masih berkaitan dengan Muharram atau Suro. Jaman dahulu tidak ada yang menikah pada bulan suro, namun era saat ini justru banyak yang melakukannya. Direspon pula oleh mas Agus bahwa, alasan leluhur untuk tidak menikah di bulan Suro ialah bulan ini merupakan bulan berkabung Rasulullah. Dimana cucu kesayangan Rasulullah mengalami fenonena yang menyedihkan yakni dibunuh, dan dipenggal kepalanya. Para leluhur mencoba untuk mendekat dengan Rasul termasuk memahami apa yang membuat rasul bersedih, sehingga agaknya kurang pas di bulan berkabung ini justru digunakan menjadi fenomena untuk berpesta atau berbahagia.

Do’a penutup menjadi pertanda bahwa usai sudah diskusi malam hari ini. Namun cangkrukan masih belum usai, sebab menu khas gunung yang selalu dirindukan senantiasa menjadi penutup dalam tiap acara majlisan Gugurgunung. Lingkaran-lingkaran kecil masih terbentuk, dengan bahasan ringan menjadi suguhan untuk saling ditukar satu sama lain untuk menambah sekelumit informasi tentang kemanusiaan, sebab sebaik-baiknya “menjadi” ialah Menjadi Manusia.

Sekian reportase edisi September 2018 dengan Tema “Paseban Muharram”, semoga bermanfaat.

Andhika Hendriyawan

PASEBAN MUHARRAM

Paseban mempunyai arti “Pertemuan”, menengarai pertemuan dengan Tahun baru 1440 H.

Konon, Paseban merupakan tradisi penting yang sering dilaksanakan oleh para Leluhur. Kesempatan tersebut biasanya digunakan untuk membahas hal hal penting yang bersifat Universal. Salah satu diantaranya adalah membahas tentang “Pranata Mangsa”

 

Pranata Mangsa

Pranata = Tatanan, aturan, ketentuan

Mangsa = Masa, Musim

merupakan sistem penanggalan atau kalender yang dikaitkan dengan aktivitas khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata Mangsa ini memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan  atau aktivitas tersebut  di atas maupun persiapan diri menghadapi fenomena (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu. Continue reading

MENGANYAM

Berawal dari sebuah ucapan yang terkesan guyonan, namun dihitung sebagai sebuah janji oleh salah seorang penggiat di Majlis Alternatif Jepara. Hingga membuat kami berdua akhirnya kesampaian juga melingkar dalam sebuah simpul di bagian utara Pulau Jawa ini.

Adzan Isya’ selesai dikumandangkan, motorpun sudah menanti di halaman untuk kami ber-tancap gas dari Semarang menuju Jepara.

Waktu menunjukkan hampir pukul 21.00 WIB dan sampailah kami di sebuah rumah yang berada tepat di depan Balai Desa, sambutan hangat mulai terasa dari satu dua sedulur yang kami temui di depan rumah tersebut. Untuk sejenak kami menunggu di beranda sebab di dalam terdengar orang-orang sedang membaca Al Qur’an dimana setelah kami telusuri memang setiap kali lingkaran Majlis Alternatif diawali tepat pukul 20.00 WIB dengan kegiatan khataman Al Qur’an yang menjadi salah satu fokus kegiatan dari Majlis Alternatif.

Usai sudah khataman Al Qur’an dilanjutkan dengan sholawatan untuk mengharapkan syafa’at dari kanjeng nabi besar Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam. Khidmatnya acara juga dengan harapan meng”hadir”kan Rasulullah di tengah-tengah kami semua.. amin.. ya robbal ‘alamin.

Kemudian, memasuki sesi diskusi. Kurang lebih 30an orang berada dalam ruangan tersebut. Pria wanita, baik dewasa sampai anak-anak melingkar dalam satu lingkaran paseduluran. Diskusi dengan tema “Para Pekerja Malam” yang dimoderasi oleh Mbak Dewi yang juga sambil memperkenalkan satu persatu sedulur yang baru pertama kali turut melingkar.

Dengan tema “Para Pekerja Malam”, memunculkan berbagai respon. Ada yang seketika berpendapat seperti kupu-kupu malam, hingga pembicaraan menjadi sedikit melebar termasuk sedikit kisah yang diceritakan oleh seorang jama’ah disana yang prihatin bahwa sempat melihat wanita malam di sekitar kampung tempat tinggalnya.

Keprihatinan bahwa seorang wanita yang harusnya menjadi tiang negara/cagak negoro atau sebagai pelaku utama pembentuk generasi, justru melakukan hal seperti itu.

Keprihatinan lain juga muncul kepada pekerja dengan shift malam di pabrik-pabrik. Hingga tidak sempat atau mungkin menjadi kurang untuk memberikan perhatiannya kepada keluarga khususnya anak. Umum diketahui bahwa cuti melahirkan yang mampu didapat oleh seorang buruh wanita maksimal hanyalah 3 bulan dengan pembagian 1,5 bulan pra dan 1,5 bulan pasca melahirkan. Padahal ASI eksklusif yang harus diberikan oleh seorang ibu kepada bayi adalah 6 bulan. “Lalu sisanya menyusu kepada siapa? Sapi? Anak orang atau anak sapi?” Demikian celoteh Dian (salah seorang penggiat di Majlis Gugurgunung).

Mbak Rosa yang masih berstatus pelajar menanggapi bahwa sebagai seorang pelajar, maka pekerjaan di malam hari ialah belajar. Masih senada dengan yang disampaikan oleh Mas Rizal yang mengatakan tentang malam digunakan untuk tidur namun jika pikirannya masih bekerja maka disebutnya sebagai sebuah pekerjaan. Pak Eko juga menyebutkan di dalam Al Qur’an tertulis bahwa malam digunakan untuk beristirahat.

Menurut ilmu medis modern, dikatakan bahwa tidur yang paling baik ialah jam 10 (sepuluh) malam sampai jam 1 (satu) pagi, dimana menjaga metabolisme tetap seimbang. Bahkan Nabi pun mengajarkan hal serupa yang sudah pernah dilakukannya sejak dahulu. Dimana beliau membagi malam menjadi 3 bagian. Bagian yang pertama digunakan untuk keluarganya, bagian kedua dipergunakan untuk dirinya sendiri yakni tidur, dan bagian terakhir dipergunakannya untuk beribadah.

Lagu Indonesia Raya yg dinyanyikan bersama dan dipimpin oleh Mbak Ikrom

Di sela sesi diskusi, Mbak Ikrom diminta menyanyikan lagu “Indonesia Raya” yang diikuti oleh seluruh hadirin dengan berdiri. Kemudian dilanjutkan dengan Mbak Ikrom menyanyikan lagu “Deen Assalam”. Selain perform berupa sajian musik, Mas Hisyam juga diminta membacakan puisi buatannya. Sastra indah dalam setiap kalimat, sarat makna, serta penghayatan dalam pembacaan membawa pendengar menikmati puisi tersebut.

Memasuki diskusi sesi kedua, suasana menjadi serius. Pembahasan tetap santai namun menjadi lebih visioner, dengan memasang indikator cita-cita bersama.

Beberapa kegiatan yang menjadi fokus kegiatan dari Majlis Alternatif yakni, kegiatan Andum Bebungah, sebuah kegiatan untuk membagikan kebahagiaan pada penghapal Al Qur’an. Selain itu juga dari Majlis Alternatif mengadakan rutinan khataman Al Qur’an, semoga hal ini menjadi salah satu keseriusan untuk lebih mendekat kepada pencipta Al Qur’an itu sendiri. Bahkan dianjurkan pula kepada sedulur-sedulur disana untuk membeli Al Qur’an untuk dibaca dan diwariskan kepada anak turun. Sebab menurut Mas Wahid dianggap ketika membaca Al Qur’an warisan maka juga mewarisi bacaan Al Qur’an dari pembaca sebelumnya.

Selain kegiatan tersebut, ada pula sebuah program kegiatan Kampus Sawah, dengan tema “Makan Bersama Kanjeng Nabi” yang rencana akan digelar pada bulan Maulid. Sebuah kegiatan tanam-menanam bermacam-macam sayuran untuk nanti dipanen dan dikumpulkan serta dimasak dan dimakan bersama tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam. Tanaman-tanaman yang ditanam di pekarangan rumah, serta dengan tangan-tangan sendiri untuk mencoba menjadi manusia berhati petani. Diskusi terus berjalan dan dipungkasi hingga pagi menjelang.

Kami yang sengaja ingin berlama-lama di Karangrandu tak ingin segera pulang. Pergantian kelir dari gelap terus kami kawal dengan tanpa tidur. Bubur serabi terbungkus daun pisang menjadi teman mengobrol pagi ini. Kami diajak berjalan-jalan menuju lokasi Kampus Sawah.

suasana kehangatan pagi

Sesuai dengan namanya, yakni sepetak sawah dengan gubug yang berukuran cukup besar dari biasanya berada di pinggirannya. Hembusan angin, aliran sungai, dengan puluhan bebek berenang diatasnya. Kampus Sawah, kami juga berkesempatan untuk mengunjungi “Rumah Bahagia”. Dimana rumah tersebut diharapkan dapat menambahkan kebahagiaan bagi orang-orang yang memasukinya.

Makan bersama dikampus sawah

Awalnya Rumah bahagia adalah rumah pribadi Mas Kaffi. Untuk memudahkan  penyebutan lokasi, maka dipilih kata “Rumah Bahagia”. Sebuah rumah yang mengharuskan semua orang yang berada di dalamnya untuk tidak boleh susah. Salah satu yang mendasari adalah karena maraknya industri  rumah sakit/klinik kesehatan yang tersebar tiap beberapa radius kilometer saja. Kenapa harus rumah sakit, Kok tidak dikembangkan menjadi rumah bahagia saja???

Adapun kegiatan saat ini adalah sebagai sekretariat KAMPUS SAWAH dan INDOKAFF. Tiap Senin sampai Jumat pagi diadakan Sinau Bareng Kampus Sawah disini. Ketika sore dan malam biasanya untuk diskusi umum. Demikian seputar tentang “Rumah Bahagia”.

suasana hangat di rumah bahagia

Masih berlanjut di tempat ini, usai dibuka dengan pembacaan Al Fatihah dimulai dengan forum pagi. Dimana forum pagi, siang dan malam biasa diadakan di tempat ini. Beberapa kegiatan yang dibahas disini ialah Indokaff, Kelas Inspirasi, termasuk juga Majlis Alternatif dan Kampus Sawah. Indokaff ialah produk-produk seperti sabun cuci, sabun pel, parfum dll yang dibuat sendiri oleh Mas Kaffi dengan bantuan sedulur-sedulur lain.

Ketika kami bertanya tentang Kelas Inspirasi, “saat ini baru berisi 2 (dua) siswa namun 3 (tiga) tahun lagi mungkin sudah menolak siswa” kelakar Mbak Dewi. Lebih lanjut tentang kegiatan ini ialah, kegiatan tentang sekolah non-formal bagi siapa saja yang mau untuk mengikutinya.

Masih banyak hal yang sebenarnya menjadi pembahasan, bahkan hanya sangat sedikit yang tertuliskan disini. Sedikit mengambil ungkapan dari Mas Agus Wibowo, bahwasannya “Kegairahan kegiatan konstruktif yang terjadi di karangrandu benar-benar merupakan tabungan energi murni, tidak berbentuk, tidak memiliki warna, hanya terang, tidak akan busuk, awet dan bisa diunduh untuk menyingkirkan kegelapan (kesempitan berpikir), bisa diwariskan untuk anak turun yang supaya anak turun tidak sempit dalam berpikir dan pintar meneruskan menabung cahaya”.

Sekian pengalaman yang dapat kami bagi di Majlis Alternatif, dengan sejumlah distorsinya mohon dimaafkan, dimana sekian distorsi ini dapat kita kikis dengan mempelajarinya secara langsung di sana. Sekian reportase kali ini, semoga bermanfaat.

 

Andhika H

REPORTASE: DOLANAN ING NJABA

Pertemuan rutin Majlis gugurgunung pada bulan Juni jatuh pada tanggal 30 Juni 2018, bertempat di Balai Desa Klepu, Ungaran, Kab. Semarang. Bertemakan “Dolanan ing njaba” diskusi dimulai sekitar pukul 20.30 WIB, dengan masih suasana padhang bulan (terang bulan) memancar di langit yang gelap.

Untuk mengawali acara, dimulailah pembacaan doa tawasul oleh Mas Ari, dan dilanjutkan Munajat Maiyah dipimpin oleh Mas Jion.

Moderator malam ini ialah Mas Dian, menanggapi sedikit tentang tema, dalam dolanan jadilah orang yang paham arti dolanan. Dalam sepakbola dicontohkannya, bahwa itu sesungguhnya hanyalah permainan namun dijadikan sebagai kompetisi. Kiper liverpool yang membuat blunder pada saat final liga champion pasti akan dikenang sebagai pemain yang buruk penyebab kekalahan hingga generasi anak turun, dimana sebenarnya itu hanyalah bermain.

Kemudian oleh Mas Dian, Mas Kasno selaku tim tema diminta untuk memberikan preambule terkait tema, serta pembacaan mukadimah. Namun, sebelum itu Mas Kasno meminta pada sedulur-sedulur untuk menghadiahkan Al Fatihah untuk pencipta tembang dolanan “Padhang Bulan” yakni R.C. Hardjasoebrata.

Sedikit cerita dari pengalaman Mas Kasno tentang lagu ini, yakni lagu ini pernah dibawakannya dalam lomba sewaktu SMP kelas 3 dan mendapat juara ketiga. Kebetulan juga malam ini dihadiri oleh teman Mas Kasno sewaktu SMP yakni Mas Hendra. Seorang kawan yang hampir tidak pernah mengobrol sewaktu SMP dulu justru dipertemukan di cangkrukan malam hari ini.

Kemudian, sesi perkenalan untuk beberapa sedulur yang baru pertama kali melingkar yakni Mas Hendra dan Mas Edi. Hadir juga malam ini, Mas Hermanto, yang sudah cukup lama tidak ikut melingkar. Alhamdulillah, kabar gembira juga dibawakan oleh Mas Hermanto bahwa istrinya mengandung 7 bulan.

 

Bermain keluar kotak (out of box)

Kemudian, Mas Ari juga diminta menanggapi tentang tema, bahwa “dolanan” diartikan seperti piala dunia sekarang, dimana perlu persiapan bertahun-tahun untuk melakukan pertandingan yang hanya 2 kali 45 menit itu. Dan kata yang kedua adalah “neng njobo” diartikannya seperti out of box, jadi dalam hal-hal tertentu kita berani keluar dari kotak untuk melakukan sebuah permainan di mana arahnya adalah untuk mentadaburi misalnya seperti yang diungkapkan oleh Mas Kasno. Dalam mentadaburi ini, tafsir-tafsir yang lama bukan berarti kita tinggalkan tapi sedikit memulai mencoba untuk mengetahui tafsir yang baru tentang Al Qur’an. Begitu juga dengan perilaku kita sehari-hari terhadap jiwa semisal Mas Ari secara pribadi terus terang kalau di lingkungan kampung itu lebih tertutup karena memang sudah menjadi satu anggapan negatif di masyarakat dimana Mas Ari dianggap sesat karena sering membakar menyan dirumahnya dan dibiarkannya tanpa meluruskan apapun. Dolanan ini seharusnya difungsikan untuk mencari teman.

 

Permainan Suka dan Duka

Berikutnya Pak Hasan yang berkeseharian sebagai guru turut menanggapi tema, lagu yang sudah dinyanyikan bersama-sama tadi dicoba dipetakan dengan keterbatasan yang ada pada diri kita. Pak Hasan mempertanyakan tentang latar belakang apa pengarang lagu itu sampai memunculkan sebuah ide lagu dolanan seperti itu. Pada suasana kebatinan yang seperti apa? dan apa maksud yang diharapkan dari pengarang dengan adanya lagu itu? Sebab itu menjadi bekal sebuah pemetaan kita. Karena Pak Hasan yakin seorang pengarang atau penggagas itu memunculkan sebuah ide tersebut atas dasar suatu maksud dan tujuan tertentu. Harus kita ketahui sisi suasana kebatinan munculnya lagu yang perlu kita gali dan dalami. Kemudian setelah kita dalami latar belakangnya baru kita lihat realita setelah lagu tersebut ada, sebab efek lagu bagi anak-anak tentang pemahaman lagu untuk anak-anak di suasana riang, suasana ceria dan kemudian diikat dengan sebuah tali yang disebut dolanan bareng-bareng.

Pertanyaan dalam benak Pak Hasan, mengapa lagu itu dikaitkan dengan Padang Bulan jadi seolah-olah pengarang lagu itu punya maksud dolan neng njobo tapi dikaitkannya dengan malam justru tidak ada dikaitakannya dengan siang sebagai waktu bermain seperti sekarang pada umumnya. Pada anak-anak versi dulu dengan sekarang sudah jauh beda kalau zaman dulu, nenek moyang kita suka melek pada malam hari. Namun generasi sekarang jarang ada yang seneng melek. Kemudian, Bagaimana jadinya antara dolanan Neng Wayah awan dengan dolanan ing Wayah bengi, itu apakah sama?

Lanjut Pak Hasan, Allah berfirman “wa-annahu huwa adhaka wa-abkaa” bahwa Allah menciptakan manusia dengan paket yang indah yakni dengan senyum juga dengan sedih, mungkin Tuhan pun juga tidak ingin hambanya itu stres atau depresi.

 

Pengembaraan Diri

Dilanjutkan oleh Mas Dian, bahwa Islam masuk kesini pun kebanyakan juga dengan metode dolanan. Wayang, gamelan, serta permainan-permainan tradisional yang dianggap sederhana dan remeh namun justru menjadi siasat yang paling ampuh.

Kemudian Mas Hendra juga diminta untuk merespon terkait tema. Dimana dolanan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak yang didalamnya tanpa batasan-batasan suku, agama, warna kulit dll namun bertujuan untuk bersenang-senang. Sehingga dolanan ning njobo ini, menghindarkan diri dari pengkotak-kotakan yang kini kerap terjadi, dikatakan juga untuk pencarian jatidiri sebab anak-anak keluar dari zona nyamannya dia di rumah untuk bebas berekspresi serta mengajarkan pula tentang pengembaraan. Ditekankan pada malam hari sebab dalam kegelapan itu kita jangan takut dan khawatir. Dalam masyarakat Jawa meyakini beberapa malam yang dianggap spesial meskipun setiap malam itu baik. Dalam lagu ini diajarkan pula bahwa malam ialah waktu yang baik untuk bermain, karena dianggap dapat bersinergi dengan alam, rembulan dll yang mestinya lebih luas daripada sekotak handphone yang kini digunakan pada era digital.

Mas Jion pun malam hari ini diminta turut merespon tentang tema, dimana malam hari ini meskipun tidak dalam jumlah yang besar namun terasa dalam kebahagiaan yang berlimpah karena kita semua disini mau berkumpul untuk keluar dari rumah. Itu pun juga disebut sebagai dolan, dan pulang membawa sesuatu dalam rangka membawa diri diluar rumah.

 

Waspada

Tema dolanan ing njaba, mengingatkan Mas Jion pada sebuah kidung Asmarandana, “ojo turu sore kaki”. Ada kesamaan didalamnya yakni suasana malam hari, dan dengan bersabar dan tawakal semoga mendapat limpahan berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian tiba Mas Agus yang merespon tema. Mas Agus merasa sangat senang bahwa tema malam hari ini menjadi kaya akan sudut pandang, serta masing-masing pendapat yang saling berkaitan satu sama lain dan sulam menyulam. Berangkat dengan gelas kosong sehingga lebih mudah terisi pada malam hari ini.

 

Bermain di alam Dhahir

Dolanan ing njaba, dalam bahasa krama yakni “dolanan wonten njawi” yang setelah dibahasa Indoensiakan bisa berarti “Dolanan di Jawa”. Mengapa Jawa? Sebab sejak jaman dahulu kita sudah menjadi bangsa yang dikenal bahkan sampai Yunani. Oleh Yunani kita disebut sebagai Zabaje, Saba, Zabadio, Taopo, dll. Namun pihak luar dengan gigih mendoktrin generasi muda Jawa untuk meyakini bahwa kita adalah bangsa yang muda, atau diistilahkan lahir wingi sore dan tidak berkaitan dalam perguliran peradaban hingga saat ini.

Sebelum dolanan ning njaba (bermain di luar) berarti kita pernah dolanan ning njero (bermain di dalam). Dimana? Yakni ketika di alam rahim atau kandungan. Namun saat bermain di dalam itu pasti beres sebab belum ada jarak dengan kondisi kedirian kita sebagai manusia. Di sana kita masih yakin bahwa kita adalah abdi gusti Allah. Sehingga tidak mungkin sampai membikin ormas, parpol di dalam perut ibu.

Bermain di dalam ini bertujuan untuk mengenali asma, serta sifat-sifat Allah yang menjadi bekal ketika besok dilahirkan.

Uniknya, ketika bermain di dalam ini kita seperti sedang merekonstruksi kehidupan nabi Adam di alam firdaus, lalu di goda dengan keasikan-keasikan dunia, digoda dengan hawane ndyuno (hawa dunia). Hawa ini juga bisa diartikan sebagai hembusan keindahan di luar. Ketika ibu sudah merasa tidak nyaman dengan kandungannya yang makin besar, bayi seakan ingin keluar seolah tidak jadi. Peristiwa tersebut sebagai simbol terjadi keragu-raguan di dalamnya. Apakah ingin terus di alam rahim atau ingin segera lahir. Kejadian itu seakan-akan mengulang peristiwa ketika Nabi Adam AS merasa ragu-ragu ketika dibujuk oleh Siti Hawa.

Adegan berikutnya ialah lahir, dhahir, metu, mijil, keluar. Mana yang lebih baik keluar atau tetap di alam rahim? Karena kodrat kita keluar dari alam rahim maka dikatakan Mas Agus yang terbaik adalah keluar ke alam dhahir. Konsep bermain, ada dalam firman Allah yakni kehidupan di dunia itu hanya sendau gurau belaka. Meskipun ketika ditagih hutang serius juga, kelakar Mas Agus sambil tertawa.

Bermain di dunia berarti harus ada konsekuensi keduniaan, selain kiper yang diceritakan oleh Mas Dian, hal serupa pernah terjadi dulu di piala dunia Brazil yang bernama Barbosa yang disalahkan ketika Brazil kalah dalam final. Mengapa tidak ada piala akhirat? Padahal lebih asik jika ada, sebab piala akhirat tidak perlu ada istilah-istilah top scorer, underdog, prestige dll yang menghambat kita untuk mendapatkan kegembiraan dalam dolanan. Dimana seolah pengkotak-kotakan itu sedang intens menjalari sisi kehidupan.

Misalkan dunia ardla ini adalah sebuah rumah besar. Di dalamnya terdapat pelajar yang harus menemukan cara untuk bebrayan yang paling asik dan indah sebatas yang bisa dicapai oleh tiap-tiap siswanya. Ada yang menggunakan metode untuk mencapai kebahagiaan harus dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada yang menggunakan metode aturan atau syariat, ada yang menggunakan metode kesenian, ada yang menggunakan metode kebudayaan, tetapi kebanyakan masing-masing pelajar ini belum benar-benar siap untuk bermain di luar. Sehingga ketika keluar maka langsung pasang kuda-kuda untuk memastikan bahwa lawannya berada dalam barisan yang sama atau tidak. Kawan atau lawan. Sehingga para pelajar itu tidak segera bermain melainkan saling menaruh curiga. Tiba-tiba seorang ibu yang mengawasi anak-anak bermain berkata dari beranda rumah. Ia berkata kepada anak-anak tentang : “anggapan yang menurutnya benar harus digenggam di dalam diri dan harus ditunjukkan dengan cara yang paling baik dan utama dengan tiap-tiap cara yang dibawa masing-masing cara untuk bebrayan dolanan bersama. Tidak ada gunanya memiliki ilmu pengetahuan tapi tidak memiliki pengetahuan untuk mekanisme kerjasama. Tidak ada gunanya memahami syariah tapi tidak mengerti tata cara untuk bersambung dan bertaut. Tidak ada gunanya mengerti seni tapi tidak mengetahui indahnya jalinan dan aneka warna yang terhampar. Tidak berguna pula mengerti kebudayaan tapi tidak menunjukkan budaya yang paling mendasar dalam kehidupan yakni sikap budi luhur dan andhap asor. Ketika semua merasa baik dan benar, jangan adu kebenaran tapi ujilah kebenaranmu dengan menunjukkan kebaikan. Yakni dengan cara tidak menyakiti, mencederai yang lainnya. Bermainlah dengan menunjukkan kebaikan pada hal apa yang kamu yakini. Cara menunjukkannya juga bukan dengan omongan tapi dengan berlomba dalam perilaku utama bukan berkompetisi dan adu mulut”

Jika kita kembalikan pada kehidupan kita sehari-hari, maka sangat senang ketika mengatakan diri kita yang paling benar dan indah, tapi belum karuan baik dalam hal bebrayan.

Sejenak kita kembalikan pada awal mula berdirinya Majlis Gugurgunung. Ketika Al Qur’an diturunkan di muka bumi, tidak ada satupun yang berani untuk menerimanya termasuk gunung-gunung, langit dll, dan hanya manusia yang berani. Ada lagi kalimat yang mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu gelap dan bodoh. Gelap dan bodoh ini adalah landasan utama kita ber-gugurgunung, istilah yang sudah jarang digunakan disini yakni jama’ah assiltu (anus). Maka diam-diam jika kita rela menjadi dubur maka kita pun sanggup untuk menjadi muka, tangan, kaki dll. Kembali pada gelap dan bodoh itu, patut dicurigai bahwa jangan-jangan firman Allah turun kepada kita ketika kita merasa diri kita ini gelap dan bodoh.

 

Tembang Dolanan Padhang Mbulan

Dalam hal lagu dolanan di atas, gelap dan bodoh itu terepresentasi cukup indah, berikut diuraikan oleh Mas Agus.

“Yo prokonco dolanan ing njaba”, ayo teman-teman kita bermain yang pantas (njobo/njowo). Jawa disini bukan sebagai kata benda namun sebagai kata sifat atau karakter sehingga orang yang tidak bersuku Jawa pun, jika mampu menunjukkan sikap diri dalam sifat-sifat kebaikan maka sering disebut njowo, njawani. Bermain yang pantas sebab memahami tata cara yang utama.

“Padhang bulan, padhange kaya rina”, Syarat utamanya harus ada malam. Gelap, yang segala hal menjadi tampak pendek, sempit, dan dangkal. Dalam malam juga ada rembulan yang bisa juga disebut condro. Siang ada matahari, suryo. Maka ada istilah pasuryan dan panyondro. Pasuryan terletak di muka sebagai karakter eksternal, sedangkan panyondro terletak di dalam hati, sebagai karakter internal. Berarti cara bermain yang njowo itu ialah, bermain yang menggunakan hati. Maka berhati-hati pula dalam bermain, bergembira bersama dalam bermain. Padhange kaya rina, (terangnya bagai siang) ialah ketika menggunakan hati yang baik maka gelap akan tersibak. Hati yang baik tanpa penyakit seolah adalah manusia paripurna, pergaulan dan cara bergaulnya penuh cahaya. Manusia yang sudah purna berkumpul. Disana tidak akan melihat kesalahan orang lain saja namun juga membaca kesalahan orang lain untuk melihat kesalahan diri sendiri. Apa yang terlihat diluar itu sebenarnya adalah pasuryan diri kita sendiri. Manusia purna ini diibaratkan dalam purna-ma (purnanya manusia). Purnama hanya sebulan sekali, namun konsep ini bisa kita pakai dengan meletakkan malam sebagai konsep pemahaman yang lebih luas. Malam, menyebabkan jarak pandang pendek, serta daya kita memetakan sesuatu menjadi tidak luas, bisa jadi hal ini dikarenakan kita tidak menpercayai adanya rembulan dalam hati masing-masing yang bisa menjadi cara menyaksikan keluasan dan kedalaman secara benderang bagaikan ketika siang. Jadi ketika Allah memerintahkan untuk mengingat(dzikir) berarti kita tahu rule of game nya adalah bahwa kita ini pelupa. Apa yang kita pahami dalam alam rahim seperti apa pun kita sudah lupa, bahkan berkedip dalam sehari pun kita lupa jumlahnya. Maka dianjurkan pada kita untuk memahami asal-usul atau sangkan paran. Jangan sampai sangkan paraning dumadi ini terselimuti oleh kegelapan.

“Rembulane sing ngawe-awe”, dapat kita sambungkan pada utusan Allah yakni nabi dan rasul. Kita kenal istilah wahyu, ndaru dll semua itu adalah cahaya. Wahyu berasal dari kata WAHananing (Kendaraan atau sarana) HYU (hayu atau indah). Kendaraan untuk memperindah yakni dengan cahaya. Maka nabi dan rasul pun dibersamai dengan wahyu atau cahaya. Nabi besar kita Muhammad Rasulullahu ‘Alaihi wassalam mendapat julukan shobi’in yang jangan-jangan bertautan dari kata shoba, yang secar pengucapan mirip dengan Saba (nama lain peradaban Jawa lama). Mengapa disebut demikian? karena, Nabi dianggap meninggalkan ajaran lama yang populer di jazirah Arab dan sekitarnya untuk menuju ajaran baru dengan sarana pewahyuan. Dengan kehadiran Nabi Muhammad, Allah sedang mengirimkan cahya terang benderan bagi ummat yang gulita dan sang cahaya tersebut dengan penuh kelembutan mengundang (ngawe-awe) untuk bersama berkerumun dalam cahaya.

“Ngelingake ojo podho turu sore”, bahwa sang utusan dengan penuh kasih sayang senantiasa mengingatkan kita untuk tidak terhanyut kegelapan, tertipu kesempitan, terjebak kedangkalan, sehingga mudah putus asa bagai orang yang belum waktunya tidur namun sudah tidur terlalu dini. Utusan ini harus ditarik sejak awal mula peradaban hingga penghujung peradaban.

Nabi pertama yang diakui oleh hampir semua manusia ialah Nabi Adam, masa dimana belum ada Jawa, China, Arab dll. Namun apakah sama Islam yang dibawa oleh Nabi Adam dengan Islam yang sekarang? Untuk sampai disana, maka harus memperluas jarak pandang kita. Agar kita tidak terjebak dalam pemikiran kekinian jaman now, tapi coba merefleksi kejadian pada masa Nabi Adam. Pada jaman tersebut “PR” nya masih sedikit, yakni hanya tentang keakuan. Semisal kisah tentang Qabil dan Habil membawa peristiwa tentang kepemilikan, kedirian, keakuan. Sekarang sangat sulit untuk tidak merasa memiliki, terutama tentang hidup. Namun Nabi Ismail telah memberi pelajaran pula untuk menyerahkan hidup hanya untuk Allah. Mudah mengatakan Nabi Ibrahim adalah penyabar, bertawakal namun pasti sangat berat jika kita bayangkan bahwa peristiwa perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismalil dijalani oleh seorang bapak kepada anak yang sangat disayanginya. Sementara Nabi Ibrahim adalah seorang yang cerdas, pemikir yang logis, researcher, bukan orang yang terjangkit halusinasi. Peristiwa cinta dan kepemilikan mengalami pendewasaan, dan bentuk cinta yang solid ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam peristiwa yang diabadikan sebagai hari Idhul Adha.

Peristiwa demi peristiwa Kerasulan adalah khazanah yang memperluas area kesadaran dan pemahaman kita. Ini laksana luasan cahaya yang membuat kita lebuh mudah mendapatkan petunjuk dan pandangan hidup. Maka sangat pantas jika kita harus bersuka cita dan bergembira atas karunia nan luas ini demi menghadapi kondisi yang gelap gulita ini. Jaman sekarang hijab sudah 7 lapis, maka penting untuk mengenali pencahayaan untuk menyibak kegelapan tersebut.

Di jaman setelah Nabi Muhammad, tidak bisa kita mengklaim pribadi-pribadi Muslimin, Mukminin, Mukhlisin, Muttaqin, dlsb hanya ada pada era setelah karasulan rasulullah Muhammad. Namun hal ini sudah ada sejak jaman sebelum Nabi Muhammad bahkan sejak era ummat Nabi Adam. Allah memberikan ilmu, kepada siapapun yang sanggup membeningkan dirinya. Sebab semua ilmu Allah adalah ilmu yang bening.

Baiknya kita coba luaskan pemahaman dolanan ning njaba ini agar menyibakkan kegelapan, serta cahaya yang kita dapatkan mampu kita implementasikan dalam kehidupan bebrayan. Sehingga dalam bersendau gurau kita tidak saling menyakiti satu sama lain.

 

Bergerak dan dinamika universal

Mas Mundari yang alhamdulillah dapat melingkar malam ini juga turut menambahkan bahwa pada malam bulan purnama setiap manusia haruslah bergerak atau mengeluarkan keringat seperti yang digambarkan dalam poster yakni anak-anak bermain diluar rumah dibawah purnama. Seperti halnya setiap bulan purnama, hewan-hewan menjadi lebih aktif bahkan lebih galak. Entah itu hewan peliharaan ataupun hewan liar.

Kemudian dilanjutkan Mas Rizal, yang menceritakan tentang sedulur sikep yang juga menjadi skripsinya. Satu hal yang menjadi tujuan sedulur sikep ialah “mbenekke ati mbecikke ucap” (memperbaiki hati, memperbaiki ucapan). Disana keselarasan alam sangat dibangun, pernah suatu ketika ada yang di wilayahnya merusak alam. Balasan dari alam ialah banjir, hingga mengalami gagal panen 7 (tujuh) kali. Namun mereka tidak marah, atau kecewa namun justru bersyukur karena hanya sawah yang terimbas, bukan ke manusianya yang karam. Sebab bagi masyarakat Sikep ada lagi yang lebih menderita daripada mereka yakni supir-supir truk yang terjebak banjir. Satu langkah untuk meminta maaf kepada alam ditempuh dengan membagikan makanan berupa nasi sekitar 700 (tujuh ratus) bungkus kepada supir-supir truk yang kelaparan sebab terjebak banjir. Mereka menganggap agama mereka adalah agama Adam, satu sama lain sedulur tidak boleh saling menyakiti.

Juga ada Mas Ihda yang diperjalankan lagi kesini dan menemukan arti dalam kehidupan alam rahim, sebab alhamdulillah istrinya juga sedang hamil. Berasal dari surga, melalui alam rahim kita dikeluarkan ke dunia. Bahkan pernah mendengar sebuah kalimat bahwa kita 99% pasti ke surga karena kita berasal dari sana, 1%nya tinggal mau atau tidak saja.

Kembali Mas Agus menambahkan tentang bergerak pada malam purnama. Hal ini berarti tentang motorik, namun selain itu juga psikisnya disentuh. Selain pergerakan fisikal namun juga tentang pergerakan perasaan. Seperti metode permainan di malam bulan pernama, anak-anak yang memiliki memori indah dalam kebersamaan dengan bermain bersama diharapkan akan merasa rindu untuk merasakan kebersamaan terus menerus, jika kerinduan ini dilatih sejak kecil maka akan terbawa terus sampai dewasa.

Syukur alhamdulillah dari Mas Agus atas kehamilan istri dari beberapa sedulur disini, Mas Hermanto, Mas Ihda, Mas Kasno, Mas Hajir, juga Mas Yud. Mas Agus membayangkan bahwa bayi-bayi yang baru lahir sesungguhnya membawa rembulannya masing-masing, namun tak jarang kita justru menjadi awan mendung yang menghalangi cahaya mereka. Kita memaksa anak untuk jadi pohon bayam padahal seharusnya menjadi pohon jati begitupun sebaliknya.

Diskusi dijeda dengan menu khas gunung yakni nasi jagung yang dinikmati bersama-sama sebagai kebiasaan dari Majlis Gugurgunung. Diskusi ditutup sekitar pukul 01.30 WIB. Masing-masing kembali dengan membawa apa yang didapatkannya, dengan harapan meningkatkan kadar cahaya rembulan yang ada di dalam hati masing-masing untuk diaplikasikan sebagai kemanfaatan dalam kehidupan bermasyarakat, sesuai dengan peran dan dolanannya masing-masing. Sekian reportase kali ini semoga bermanfaat.

 

Dhika Hendryawan