Widyakartika

Facebooktwittertumblr

Brahmana Raditya memperkenalkan diri kepada masyarakat yang tinggal di sebuah negeri yang sangat subur namun dihuni keganasan dan kebuasan. Jaman ini memasuki milenium ketiga usia bumi. Yakni ketika Bumi mulai muncul sebuah ajaran yang mengoptimalisasi atau intensifikasi ilmu batin. Awal-awal ilmu Batin digunakan untuk tujuan yang mengharapkan superioritas, namun dalam perkembangannya olah batin ini digunakan untuk menembus khazanah langit yang berguna untuk meningkatkan kualitas manusia. Maka sejak pada milenium kelima Bumi, keadaan masyarakat Bumi telah mulai terlihat form arah peradabannya. Di usia ini mulailah bermunculan beberapa orang yang menjalani upacara intensifikasi batin dengan men-sedikit-kan pemenuhan atas permintaan-permintaan raga. Puasa atau bertapa banyak dilakukan orang yang menghindari fasilitas dunia. Macam-macam cara orang memperoleh kaluwihan (kelaparan/kelebihan). Puasa ngrowot, mutih, pati geni, pendem, ngalong, ngidang, dlsb. Ketika proses ini dilakukan, suara-suara alam yang tadinya tidak terdengar menjadi lebih terdengar bahkan berbisik atau berbicara. Suara-suara itu sebetulnya berbicara sejak semula, namun raga telinga tidak digunakan untuk mendengar suara-suara batin. Sehingga perlu telinga batin pula untuk mendengarkan hal-hal yang batin.

Ketika makin banyak raga yang dibeningkan, maka fenomena-fenomena batin makin banyak terserap untuk kemudian mereka alami dan mereka bawa untuk disampaikan ke masyarakat.

Dalam fenomena yang sudah-sudah, perbuatan olah batin mereka akan bertemu dengan muslihat Smoro yang memang sakti dan kuat, atau dalam hal lain bertugas menterjemahkan secara indrawi apa-apa yang seharusnya ghaib. Namun ketika ajaran-ajaran itu juga mulai disentuh oleh pihak-pihak positif, maka turunlah makhluk langit dari golongan positif yang menjadi bandul pembanding. Maka kegiatan peruhanian raga akan menjumpai fenomena yang sepadan dengan niatnya. Jika niatnya positif, maka yang positif akan membantu memberi perlindungan. Jika niatnya negatif, yang negatif akan menciptakan ilusi yang semakin menyesatkan.

Tapi, manusia adalah makhluk yang sudah dicap sebagai sebaik-baik bentuk. Manusia juga pasti akan kembali dalam keadaan sukarela maupun terpaksa. Maka sejauh-jauh kesesatan yang dibuat untuk menjerumuskan manusia, tidak akan diberikan kesesatan jika di dalam hatinya memang untuk bertauhid.

Adalah seorang resi yang sangat tulus dan benar-benar rela mengabdikan dirinya untuk perkembangan dan kecemerlangan kualitas spiritual masyarakatnya. Dia lahir di sebuah daerah yang secara kondisi ‘memaksanya’ mengenal lingkungan dengan kompleksitas makhluk, habitat, dan dimensi. Maka dalam hal penempaan batin, dia melakukan cara seperti apa yang dilakukan oleh pendahulunya.

Bertapalah Resi ini di sebuah Gunung. Ketika Smoro sudah gagal menyesatkannya dengan ilusi keindahan seperti kepada orang yang sudah-sudah. Bagi Smoro, Resi ini ibarat ruang kosong yang tidak memungkinkannya untuk mengusik. Dia tidak memperoleh ‘benda’ apapun untuk bisa jadi landasan membelokkan sang Resi. Benda yang dimaksud adalah kepentingan jasadiah, misalnya ingin pandai, populer, sakti, berkuasa, dlsb yang urusannya agar dilihat dan diakui manusia. Benda-benda yang selembut apapun bisa diplintir untuk menjerumuskan yang bersangkutan, tapi kali ini Smoro berjumpa dengan manusia yang menghilangkan diri dari segala kepemilikan.

Maka turunlah makhluk luar bumi yang sudah pada kemampuan langit sap ke enam, artinya memiliki kemampuan memahami 6 kali lipat dunia. Sekedar intermeso;

Elemen/unsur dasar membawa 1 kecerdasan. Kecerdasan tauhid naluriah. Beberapa tumbuh-tumbuhan dan hewan membawa 2 kali lipat dari kecerdasan elemen. Manusia memiliki 3 kali lipat kecerdasan hewan, yakni kecerdasan jasad, jiwa, dan ruh. Arwah memiliki kecerdasan 4 kali lipat dari makhluk jasad/ruh (manusia). Begitu seterusnya hingga tingkat ke tujuh. Makhluk pada tingkat 6 setengah, mewariskan seluruh pengalamannya ke makhluk di tingkat ke 6. Sehingga makhluk tingkat 6 mendekati kesempurnaan pengetahuan makhluk.

Sedangkan makhluk di tingkat ke tujuh ini, berada dalam kekosongan, tanpa masa lalu, tanpa masa depan. Tapi tidak hilang. Penuh pemahaman dan sekaligus tak secuilpun ilmu dimiliki.

Kembali kepada makhluk luar bumi dari tingkat 6. Dia hanya bisa menggunakan dua metode untuk bisa ke Bumi. Pertama dia harus dilahirkan sebagai bayi, atau memasuki jasad yang sudah mampu mengembalikan kualitas jasadnya sekualitas bayi, artinya murni dan bersih dari rasa dunia. Sebab jika langsung turun, meskipun bisa secara mekanisme, tapi berbahaya bagi dirinya dan bagi makhluk bumi setempat. Dengan bentuk berbeda dan pemahaman yang tinggi, secara ironis justru bisa membuat makhluk bumi menyembahnya.

Resi tadi kemudian didatangi oleh seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Dewa Surya, Raditya, Bagawan Radi. Sang pertapa tidak langsung percaya, maka terjadilah dialog di antara keduanya.

“Siapa Dewa Surya?” Tanya sang Resi

“Kami dari Kawi (Venus) yang kini telah bertugas melayani makhluk lain dengan tinggal di matahari”[1]

“Apakah kamu tidak terbakar berada di sana?”

“Tidak, kami memiliki jasad yang berbeda dari manusia, bahkan di matahari kami justru membantu menciptakan panas yang tenang”

“Kenapa kau di sana? Kenapa kau yakin kamu sedang melayani? Apakah kau tidak berfikir bahwa kau tengah dihukum?”

“Tidak, kami bisa keluar kapan saja kami mau, dan bisa naik tingkat ketika pengabdian kami berada dalam kualitas yang memenuhi syarat”

“Kenapa kau mengaku sebagai dewa? Apakah kau mengharapkan aku mengabdi kepadamu?”

“Tentu saja tidak. Kami tidak berani menjadi sesembahan dan tidak ingin disembah. Kami sama sepertimu menuju sesembahan sejati, satu-satunya yang pantas disembah dan diberi persembahan dengan ketulusan pelayanan kita”

“Lantas kenapa kau menamakan dirimu dengan Dewa? Bukankah kau tau bahwa dewa di bumi ini diperlakukan sebagai sesembahan?”

“Tidak bisa aku menjumpai seseorang yang berbahasa dan berbudaya bumi dengan bahasa yang kami pakai. Dewa hanya upayaku untuk mengatakan bahwa yang dimaksud oleh penduduk bumi tentang dewa, adalah kami yang memiliki tugas mengawal dan menemani perkembangan ruhani makhluk bumi”

“Kenapa kau yakin? Bagaimana jika yang mereka maksud adalah bukan kalian, tapi wujud lembut lain yang benar2 berkuasa seperti dugaan para manusia?”

“Sejarahnya tidak seperti itu. Dulu sebelum manusia menjadi pengganti. Kami telah turun dan mengajarkan kepada makhluk bumi, mereka sangat memuja matahari dan mulailah menjadi mitologi tentang makhluk berkekuatan lebih dari mereka. Struktur-strukturnya mereka rangkai sedemikian rupa sehingga menjadi kumpulan dewa-dewa. Tapi bahasa yang mereka gunakan tidak sama dengan kalian. Maka ketika manusia menjadi pengganti, pemahaman itu dibahasakan sesuai dengan lidah manusia dan mengalami sekian penambahan dan pengurangan. Hal ini bisa terjadi sebab ada punggawa pendamping manusia yang berasal dari makhluk sebelumnya. Sedangkan penambahan dan pengurangan, dilakukan oleh Smara yang sesungguhnya sangat paham mekanisme bumi dan langit. Dengan keterlibatan Smara, segala hal yang bersifat dewa semakin terletak tidak terjangkau dan unggul jauh di atas rata-rata manusia. Smara bagaikan kaki kiri, sedangkan aku bagai kaki kanan. Jika Smara menggiring manusia terbuai dalam ilusi dan imajinasi keinginan nafsunya. Maka aku bertugas memfasilitasi untuk menjadi alternatif lain menuju peningkatan ruhani yang lebih tinggi, justru dengan menepiskan keinginan2 yang menjadi ikatan pada hati yang tidak berangkat menuju hakekat. Aku mencoba hadir sebagai teman bicara dan pendapat untuk menyadarkan hati untuk tidak senantiasa tertambat pada dunia yang sementara. Tambatan yang baik adalah tambatan yang tidak goyah, tidak lekang, tidak pudar, tidak lapuk, tidak mati, dan tidak bergantung kepada apapun karena tambatan itu sudah paling kuat dari yang selainNya. Bahkan Dialah yang memberi atau membagi kekuatannya kepada segala titah makhluk”

“Baiklah, aku mulai mengerti. Dan ketahuilah, meski mungkin aku tidak sepandai kamu. Tapi aku bergantung dan tertambat hanya kepada yang kau sebut ‘satu-satunya’ itu. Aku bahkan pada saat ini tidak akan bertahan jika tidak disantuninya dengan kekuatan. Tidak akan aman dari keterpelesetan juga, jika bukan Dia yang memberi perlindungan. Maka aku yang bergantung kepadaNya ini mempercayaimu. Sedangkan jika kau menyalahgunakan kepercayaanku maka urusanmu bukan kepadaku, tapi kepada yang menghidupkan dan mematikanku dan kepada yang menghidupkan dan mematikanmu”

“Aku sangat mengerti saudaraku, dan begitulah memang seharusnya kita semua berpegang”

“Satu hal lagi, aku tidak mau menyebutmu dewa. Itu mengganggu jiwaku”

“Tidak mengapa, panggil aku apa saja”

“Baiklah, aku panggil kamu Raditya

“Tentu saja saudaraku, aku akan datang kepadamu dengan nama itu jika kamu memanggilnya”

“Lantas, apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau hanya ingin memperkenalkan diri saja?”

“Saudaraku wahai resi wandkeytka (wantaka widyakartika), aku ingin menggabungkan diriku bersamamu untuk membantu saudara-saudara yang lain dalam lingkunganmu. Aku akan pergi kapan saja kau memintaku pergi, dan akan kembali datang saat kau memintaku datang”

Sang resi menyetujuinya. Kejadian itu diperkirakan pada era yang tidak berjauhan dengan peristiwa kenabian, Nabi Sis. Sehingga masyarakat terbangun dalam dua lini, yakni lini Kawi dan lini ajaran Tauhid yang dibawa oleh Nabi Sis. Meskipun keduanya sama-sama, tapi metodenya berbeda. Dalam metode kawi, diperkenankan untuk mengetahui hal-hal ruhani lebih cepat dari jamannya, sebab dicari oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari dan tidak lagi terikat pada kepentingan duniawi. Sedangkan lini Nabi Sis, harus lebih berhati-hati dan menahan diri karena pertimbangan pemahaman secara general masyarakatnya. Lebih setahap-setahap dan sesuai pemahaman berfikir masyarakatnya. Dimana setiap tahap jaman akan ada utusan lain demi mengiring dan mendampingi perkembangan peradaban manusia.

Meskipun di sisi lain, ada juga garis dari lini Nabi Sis yakni Sayid Anwar yang memilih jalur khusus sebagai satu warna lagi yang melengkapi warna-warna pergaulan Bumi.

Resi pertapa bernama Wantaka ini kemudian menggunakan nama Brahmana Raditya.

_______________

Brahmana Raditya kemudian mengajarkan banyak hal-hal mendasar. Tentang bahasa dan tulisan. Perlu diketahui, bahwa sebelumnya mayoritas bahasa yang dipakai masyarakat adalah bahasa burung, yakni berupa lengkingan, teriakan, siulan, erangan, atau gerengan, ditambah isyarat bahasa tubuh dan gestur. Pemakai bahasa ini kebanyakan dari jenis manusia kera, raseksa, yaksa, kunara, kunari. Untuk jenis humanoid keturunan Nabi Adam as bahasa yang digunakan sudah berupa kalimat dan kata yang umumnya bervowel A. Tapi komunikasi batin masih lebih dominan diaplikasikan. Untuk keturunan Nabi Adam yang membangkang, mereka mengembangkan bahasa burung yang berupa siulan atau lengkingan. Karena ada beberapa pasang yang membangkang, maka bahasa burung menjadi lebih banyak pengguna daripada bahasa lumrah humanoid. Kemudian berangsur-angsur bertambahnya masa, tumbuhlah istilah dan sebutan-sebutan standar dengan intonasi seperti lagu atau menembang. Tapi jenis komunikasi ini tidak primitif, karena masing-masing paham sehingga tetap menghasilkan pencapaian-pencapaian yang baik dari sisi pemahaman maupun tidak kurang dari sisi informasinya.

Resi Raditya memperkenalkan tembang, karena dia menganggap semua orang akan sepakat dengan keindahan kembang yakni sekar atau bunga. Jadi bahasa pitutur ibarat bunga yang harga dan hinanya tergantung wanginya makna, berwarnanya kata, mekar dan segarnya susunan kalimat, dan menarik hati karena memahami takaran, tidak terlalu menonjol tidak pula terlalu rendah. Apalagi memang budaya menembang sudah tidak asing bagi telinga. Sang Resi juga mengajarkan secara bertahap filsafat-filsafat kehidupan yang dinamakan Sangkan Paran atau lebih dikenal sebagai Sangkya.

Pengaruh dari ajaran yang dibawa Resi Wantaka atau Brahmana Raditya ini menjadi cepat menyebar. Mudah diterima karena metode tembang dan hasta janma. Dalam kurun waktu kisaran 100 tahun kemudian, ajaran Brahma Raditya menjadi pijakan dasar bagi makhluk2 yang berdaulat. Selain manusia, ada Janma Raseksa, dan Janma Wanara yang mampu berdiri sebagai kerajaan. Manusia memiliki dua ciri perkembangan kedaulatan. Yakni kedaulatan yang meletakkan dasar ajaran dari Brahmana Raditya sebagai yang utama. Dan kedaulatan yang memproses diri dengan mengembangkan ajaran dari Nabi Sis. Upaya pembedaan ini dilakukan oleh Smara agar hal yang bermuara satu itu tampak berlainan dan kemudian berpontensi menciptakan permusuhan. Sedangkan ajaran ‘kiri’ yang dipioniri oleh Sayid Anwar, berkembang dalam dua jenis dimensi, yakni dimensi tak kasat mata dan dimensi kasat mata. Dunia makin menuju pada tatanan yang membangun dengan cara yang beragam.

Pada akhirnya muculah resi resi yang kemudian menjadi pihak yang menurunkan raja-raja, dan juga ada resi resi yang tetap melakukan upaya kaluwihan yang mengembangkan perbaikan Ruhani dan tata spiritual masyarakat. Salah satu serat pengangan para Resi adalah Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

[1] KAWI :

berbakat dengan wawasan, tercerahkan, bijaksana, cerdas, trampil, pengetahuan, cerdik, bijaksana, kendali, penembang, penyair, orang bijak, rendah hati, jiwa dalam filsafat Sangkhya (filsafat Hindhu), manusia yang memiliki pekerti, pemikir, bersiasat tempur, cerdik, pemimpin, nama planet Venus, bijak, burung hantu, peramal, pamomong, penyair, nabi, matahari, pria cerdas

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel, Kembang Gunung and tagged , , , , , , , , , , , , , .