Posted in Artikel, Kembang Gunung.



wayang waton – Dongeng Silsilah






BANUJAN

majlisgugurgunung.com::Banujan adalah manusia reptil yang pernah hidup di bumi sebelum manusia. Banujan membentuk kelompok2 dan masyarakat hasil dari evolusi. Mereka memiliki usia yang sangat panjang. Setahap demi setahap pencapaian kemajuan berfikir dan kecanggihan teknologi dapat dicapai. Selain itu, pengertian budaya dan kebijaksanaan pun terbentuk. Namun ironisnya seiring perjalanan kebudayaan dan peradaban mereka, senantiasa diwarnai dengan pertumpahan darah. Mereka memang sangat pandai, berwawasan luas, mengenal kebijaksanaan dan kebudayaan, namun mereka mewarisi sifat makhluk berdarah dingin yang merindukan panas dan gesekan-gesekan. Sehingga pertikaian dapat mudah tersulut hanya karena persoalan sepele. Pada suatu ketika, Banujan mengalami sebuah hari yang merubah cara hidup mereka selamanya.

Kecanggihan Banujan seakan semakin memberi peranti peperangan, mereka terlibat peperangan besar yang dahsyat. Peperangan ini sangat kompleks. Bukan sekedar peperangan antar kelompok, namun juga peperangan kepada makhluk dari luar Bumi yang memiliki teknologi yang tidak kalah canggihnya. Makhluk dari luar Bumi ini bertujuan memberi alternatif membangun peradaban yang lebih baik, namun cara mereka hadir seperti pasukan dengan membawa segelar kedahsyatan dengan bertabuh genderang perang. Para Banujan yang kuat segera mempersiapkan gelar perang mengantisipasi kemungkinan. Sayangnya para Banujan belum pernah mengalami peristiwa perdamaian secara menyeluruh dalam sejarah peradabannya. Sampai saat genting sekalipun, masih berentet kisah dendam dari kelompok yang mengintai menanti kesempatan membalas pada kelompok2 yang pernah mengalahkan. Begitu pula peristiwa kali ini, kondisi yang seharusnya merangsang persatuan mereka, ternyata disikapi secara lokal. Beberapa kelompok Banujan primitif justru termotivasi untuk melihat kekalahan kelompok Banujan yang bertempur, sebab kelompok yang bertempur ini selama ini terlalu dominan, suka mengatur, otoriter, kejam, dan tak mudah dilawan. Persenjataan dan kemampuan manipulasi gelombang otaknya sangat kuat.

Melihat kenyataan bahwa ternyata ada kelompok2 Banujan marjinal yang tidak kooperatif, tersulutlah kemarahan dari kelompok Banujan pejuang. Mereka tidak menyangka dalam kondisi yg mengancam keberlangsungan peradaban mereka, masih juga ada bahkan banyak yang tidak menyertakan diri dalam kebersamaan. Akhirnya para pejuang mengambil keputusan untuk menggunakan senjata paling berbahaya yang beresiko merusak permukaan bumi dan pasti juga banyak makhluk hidup yang musnah.

Gempuran-gempuran makhluk-makhluk luar Bumi ini bagai menjatuhkan meteor-meteor yang menghujani Bumi. Sangat dahsyat dan membuat kacau. Kondisi yang menyesakkan. Serangan bukan saja dari luar tapi juga dari dalam, bukan hanya dari atas tapi juga dari bawah. Senjata pun diaktifkan, sesaat kemudian bola cahaya sangat terang meluncur dengan cepat, makin ke atas makin berpendar dan membentuk lempeng-lempeng bundar pipih agak cembung seperti payung. Lempeng cahaya yang lebih kecil ini makin banyak jumlahnya, beberapa saat kemudian ribuan lempeng ini meledak dengan dahsyat. Betapa senjata ini memang pamungkas, para makhluk luar Bumi tumpas dan sebagian yang selamat segera pergi meninggalkan Bumi. Namun efeknya, banyak makhuk Bumi mati baik binatang maupun tumbuhan, juga kelompok-kelompok Banujan yang tidak mengenal senjata ini. Mereka ikut musnah. Sedangkan kelompok Banujan yang mengenal teknologi ini sudah punya langkah penyelamatan sejak sebelum senjata ini diluncurkan. Mereka melesak menuju kedalaman Bumi di bunker rahasia dan tak ingin lagi kembali ke permukaan Bumi yang telah rusak akibat efek ledakan senjata.

Di kedalaman perut Bumi, para Banujan yang tersisa kembali memulai membangun peradaban dengan teknologi advance mereka. Waktu berlalu, jutaan tahun kemudian para Banujan di dalam Bumi telah lebih terintegrasi, lebih toleran, lebih bijaksana, juga lebih canggih dalam pencapaian-pencapaian teknologi baik internal maupun eksternal. Pada kemudian hari, ada yang datang kembali ke Bumi serombongan makhluk dari luar Bumi yang beriring-iring. Tapi, jutaan pengiring ini kemudian pergi dan tinggal sendiri salah satu dari mereka. Para Banujan di dalam Bumi menjadi mengerti bahwa permukaan Bumi telah mulai bisa kembali dihuni. Tapi mereka terlanjur menyesuaikan dengan kondisi baru dan tetap memutuskan tinggal di dalam Bumi. Meski demikian, para Banujan yang unggul telah berani keluar ke permukaan Bumi untuk berjemur pada sinar matahari asli, bukan artifisial seperti yang mereka buat.

_______________

GARENG

Para Banujan yang unggul sekaligus bertujuan mencari tahu siapa dan apa misi satu makhluk itu yang berani datang ke Bumi. Apakah dia mata-mata? Atau pengembara antar galaksi? Atau tahanan yang diungsikan? Apapun tujuan makhluk ini, tetap saja Banujan tak bisa tinggal diam. Mereka berkewajiban menjaga Bumi dari gangguan-gangguan luar. Maka, para Banujan yang unggul berjaga di beberapa sudut Bumi, jika mereka bertemu makhluk itu tentulah akan dibuat perhitungan.

Benarlah, pada akhirnya salah satu Banujan berhasil berjumpa dengan makhluk tadi. Tidak lama terjadi dialog, kedua makhuk ini bertempur. Ternyata makhluk yang baru datang ini jauh lebihunggul dan sakti dari yang diperkirakan. Banujan unggul tadi pun mengalami cedera parah. Banujan memohon ampun dan bersumpah setia. Oleh makhluk antah berantah tadi si Banujan unggul dimaafkan dan disembuhkan luka-lukanya. Diketahuilah akhirnya bahwa makhluk tersebut menyebut dirinya dengan nama : Samara/ Smara/ Smoro/ dan masih banyak lagi yang arti besarnya ‘mendewasakan’. Kemudian oleh Smara, Banujan unggul tadi dinamai Gareng yang artinya berketetapan hati / konsekuen. Berita kekalahan ‘Gareng’ memukul hati Banujan yang satu, dia tidak menyangka seniornya dapat dikalahkan. Padahal kemampuan teknologi internalnya sudah sangat luar biasa.

_______________

Banujan di kemudian hari berfungsi sebagai pendamping peradaban manusia setelah Adam turun ke Bumi. Smoro di kemudian hari banyak dikenal dengan berbagai macam interpretasi dan sebutan. Pada awal2 peradaban turun juga ke Bumi makhluk dari luar Bumi yang telah lulus dari ‘Idol territory’ / Dunia Arca / Arcapada / Dunia simbol. Dia mengejawantah sebagai kontributor ajaran dasar yg dipakai hingga sekarang dengan berbagai macam sayap ajaran. Ajaran dasar itu salah satunya berupa Pasaran. Namun di belahan dunia lain ajaran ini berkembang menyimpang bahkan sangat berbau mitologi. Jaman Nabi Nuh adalah jaman sangat modern dan canggih jauh dari bayangan citra modern dengan wajah yg kita lihat sekarang. Manusia berkomunikasi jarak jauh, berpindah dari satu tempat ke tempat lain adalah hal yg bisa dicapai secara umum.

Sebelum Nabi Nuh, pada zaman Nabi Adam ada satu putra yang bernama Nabi Sis. Ajaran uluhiah mengalami dua cabang dan keterlibatan Smoro dalam hal ini besar. Pada jaman Nabi Musa ada pengenalan kembali bahwa ajaran yg seakan menyimpang ini memiliki fungsi yang menjadi lengkap sebagai pasangan, seperti halnya Nabi Musa dengan ajaran kitab dengan Nabi Khidir dengan mekanisme lebih Ghaib. -Wallahu a’lam bishawab-

_______________

Banu Jan (Bani Jin) pada kemudian hari dipahami sebagai sesuatu yang ada namun tak nampak, sehingga muncul istilah Jin, Gen, Genius, dlsb. Identifikasi ghaib menjadi tergeneral karena manusia makin menjasad makin tidak terpelajar dalam khazanah Ghaib. Padahal ada golongan ‘ada/berjasad’ tapi bersembunyi dengan menggunakan model kamuflase fungsi dan gelombang otak, sehingga mereka tampak tidak ada karena kehadirannya tidak terkonfirmasi otak.

Ada yang memang ‘tidak berjasad’ yang tidak aktif karena hanya sebagai pendamping dan penyelaras per individu manusia yang sebenarnya hidup dalam berbagai level gelombang dan frekuensi. Ada yang Ghaib dan tak berjasad dan bisa mengkontribusi secara konkret, seperti membuat bangunan atau transportasi. Ada Ghaib yang memang dalam tingkat mengganggu sebagai jenis yang butuh persemayaman, sering digunakan untuk membantu hal2 mistik. Ada Ghaib yang tidak dikuasai manusia maupun Jin untuk melihat kecuali manusia pilihan, namun mereka membawa dan membantu kehidupan secara nyata namun tak nampak kecuali setelah mewujud dalam jasad Ada Ghaib yang benar2 tidak lagi manusia bahkan yang dikatakan sebagai makhluk ghaib pun tidak mampu menjelaskan lagi, ini Ghaib yang rahasia.

_______________

BAGONG

Bagong : “Romo-romo, yen gek lego wektumu aku kandani sak temene aku iku mo”

Semar : “hmmm.. mbegegeg ugeg ugeg sadulito tholeee… mmmmm mbell mbell. ora udan ora angin, pitakonmu koyo dudu bagong”

Bagong :”aku iki bagong temenan mo, wah jare dewo ngejowantah, niteni anake dewe wae gak iso”

Semar : “hehehhe… mesthi wae kowe iku bagong putroku sing paling tambeng, hiyoh le, mengkene tak wedhar sliramu”

___Bumi gonjang-ganjing..langit kelap-kelap katon.. naliko Semar badhe ambabar

kawontenanipun Bagong,wonten bledek guntur sesamberan___

Semar : duh tholee thole.. iki piye? bledeg podho nyaru wuwus anggonku arep cecaturan

Bagong : iku tegese omonganmu bakal di sarujuki mo

Semar : mmmm mbegegeg ugeg ugeg.. iso kosok baline thole

Bagong : Wis rasah kakean dugaan mo, critakno wae aku iki.. iki penting dimangerteni bongso

Semar : Wooh pancen bocah ndableg,, karo wong tuwo ora toto.. hehehhe.. ngger ngger yoh yoh tak critakne

Kedua tokoh punokawan berubah wujud & tempat, sesaat setelah Semar mengajak Bagong memejamkan mata Semar berubah menjadi bola sinar yang begitu benderang sedangkan bagong berubah menjadi wujud yang abstrak wujud yang tidak keras dan tidak lunak, tidak cair tidak pula padat, Semar dalam wujud barunya menghadirkan lidi lidi ditancapkan dan berdiri tegak. Karena sinar benderang itu, lidi yang ditancapkan menghasilkan bayangan. Bayangan itulah Bagong

Semar : Thole weruhaniro, yen ing kene sliramu mung sadermo wanging hyang, wewayang, memayang

Semar : iki ono sodo, sodo yoiku husodo, husodo iku ateges eling, ugo mbenerake utowo netepake sabanjure ngadekake Dene wewayang iku amung jejer batur, pono, pawono, ora nono, asor ndlosor mung sadermo perangan perantining Hyang dene Hyang iku yoiku Kang Hanyengkuyung, Kang Handarbeni, Kang Hamiwiti Kang Hamungkasi Hyang iku kang sapantese kaatur sembah, husodo diwiwiti lan dipungkasi seko roso kang tunggal.

Kemudian mereka berdua kembali ke alam semula dan Bagong tetep masih bingung kata-kata

Semar PETRUK

Banujan unggul yang mengetahui kekalahan Gareng segera mempersiapkan diri untuk menghadapi Smoro. Meskipun dahulu dirinya dan Gareng memiliki sejarah pertikaian yang panjang dan saling adu kekuatan, namun pada saat harus membela Bumi semua itu harus dilupakan dan bersatu mengusir musuh. Bahwa setelah musuh dikalahkan perhitungan kekuatan itu hendak dilanjutkan adalah urusan lain.

Tapi, ternyata Banujan yang satu ini pun tak mampu melawan Smoro, apalagi terlihat seniornya telah bersama Smoro. Tanpa banyak perlawanan dia tunduk dan mengabdi pada Smoro. Oleh Smoro, Banujan ini dinamai Peturug. Paturug berarti Penantang yang bijaksana. Kini namanya Petruk.

_______________

NABI ADAM

Tibalah saat Adam diturunkan, para Banujan yang tersisa ternyata tidak hanya yang di dalam Bumi. Namun ada beberapa gelintir yang bertahan dengan kondisi payah. Yakni golongan Banujan yang sakti yang memindahkan diri pada jasad monyet. Ditambah reaksi kimiawi efek senjata, munculah jenis2 makhluk baru yang kemudian menjadi Buto, Denowo, Rasekso, Wanara, Kunara, dlsb.

Satu hal yang menjadi misi para makhluk luar Bumi saat itu adalah ingin membantu menata kehidupan dunia menjadi lebih baik. (Sebenarnya ini terjadi hingga sekarang). Nah ketika itu, sudah ada beberapa keanehan yang diakibatkan dari kedatangan ‘pasukan langit’ ini. Yakni monyet-monyet yang masih sangat binatang, tiba2 menjadi tumbuh akal pikirannya, bahkan ada yang jadi sangat spiritual. Ini terjadi karena memang terjadi pemindahan suksma besar2an dari suatu Arcapada yang lain, yang kiamat sebelum waktunya. Planetnya bener2 tidak bisa digunakan dan seluruh penghuninya mati. Para ‘makhluk langit’ sangat prihatin terhadap kondisi ini, sebab ruhani mereka belum bisa dianggap sempurna. Setelah planet itu mulai aman dan bisa didekati, berbondonglah para ‘makhluk langit’ turun membantu mengentaskan para suksma untuk diletakkan pada raga baru dan kehidupan baru guna menyempurnakan ruhaninya. Sebab di dunia belum ada penghuni Humanoid yang bisa diejawantahi suksma ini. Maka suksma ini diejawantahkan pada jenis2 kera besar. Teknologi yang mereka bawa juga advance sehingga jangan heran jika sampai saat ini manusia masih belum bisa ketemu Yeti atau Bigfoot

_______________

PUNOKAWAN

Kemudian setelah berjumlah 4 (Semar, Gareng, Petruk, Bagong), Smoro menamakannya sebagai ponokawan/punokawan, sahabat fana. Tugas pertama yang dilakukan adalah meruwat para buto dan menggelar wilayah paling timur sebagai tempat yang menjadi awal peradaban ‘kawitan’. Timur ini indikasinya adalah terbitnya matahari. Karena efek senjata yang merusak ekosistem, sebagian besar bumi beriklim sangat dingin, bahkan ada yang berselimut es. Hanya wilayah timur yang paling hangat dengan temperatur yang stabil karena menjadi wilayah garis edar matahari. Buto-buto diruwat dengan sastra jendra. Banyak yang kemudian sadar diri dan berhenti menjadi buas dan mulai menata batiniah. Ada juga yg tetap membinatang namun tidak berani melawan ponokawan yang dipimpin Smoro.

Para makhluk yang membuas itu seakan direndahkan dalam kondisi yang tidak jauh beda dari ditenggelamkan ke dalam bumi. Yakni pikiran dan hatinya tenggelam oleh keinginan perut dan yang bahkan di bawahnya lagi. Kondisi bumi yang dingin menjadikan kurang pangan dan kelangkaan sumber bertahan hidup. Jadilah mereka saling mengadu kekuatan dan saling memangsa.

Kedatangan Smoro mengingatkan kembali garis kemakhlukan mereka, tugas dan peran mereka, dan tujuan hidup mereka sambil mengutip informasi kitab yang pernah mereka para Banujan kenal. Di salah satu peringatannya dikatakan “peradaban mereka akan ditenggelamkan Manon ketika sudah ada tanda, dan salah satu tandanya adalah monyet bisa bicara, kemudian langit dibelah cahaya yang dari cahaya itu akan mengakibatkan gulita, hingga saat putih memantulkan terang akan semakin didinginkan wajah bumi untuk balasan bagi Banujan yang memuaskan hawa panas”. Maka tatkala benar2 ada monyet bisa berbicara bahkan bertingkah laku advance, para Banujan mengerti bahwa dunia kekhalifahan mereka tanda mendekati hari akhir. Sayang hanya Banujan pejuang yang menyikapi secara serius tanda-tanda ini, meskipun ada juga pendapat nyinyir bahwa perjuangan Banujan pejuang seperti kegiatan menentang takdir dan niscaya tanpa hasil.

BABAD HAWA

Ketika melihat kondisi lapangan yang begitu komplek yang terjadi pada Bumi, Smoro merasa iba atas kemungkinan lambatnya spiritualitas manusia. Tapi job desc-nya bukan menjadi Nabi, Rasul, atau pemimpin, ataupun Khalifah. Oleh sebab itu rencana disiapkan sejak awal. Sebab, meskipun banyak yang bisa dilakukan. Smoro tidak boleh melanggar rencana dasar, tidak bisa melanggar hukum Tauhid. Misal, dia bahkan sesungguhnya bisa menjelma menjadi ganteng rupawan, atau menjelma menjadi gagah dan matang, atau menjelma menjadi tua dan bijaksana, bahkan menjelma menjadi perempuan cantik. Tetapi segala hal itu tidak perlu dilakukan untuk sekedar menunaikan kehendak dan keinginannya. Dia akan melakukan itu jika berguna dalam rangka membangun ruhani para khalifatullah.

Dengan kesaktiannya bersama dengan ponokawan, Smoro lantas menggelar pulau ‘permadani’ untuk kedatangan Adam. Sebuah pulau yang dilengkapi dengan hawa. Sebagai jasad Adam, manusia pertama ini harus menikahi Siti Hawa. Sebagai Khalifah, Adam harus mengkhalifahi hawa dunia. Keadaan ini kita warisi hingga sekarang, sebab memang langkah2nya seperti itu (aturan permainannya).

Pulau penuh hawa ini seperti kawah condrodimuko yang hanya bisa direnangi para ksatria. Segala pelajaran seakan terkumpul di sini untuk kemudian bisa digunakan setatal dua tatal ke penjuru bumi. Karena pulau ini cantik tapi juga buas, ramah tapi juga mengancam, hangat tapi mampu membakar, dingin tapi tak membeku, wangi namun juga penuh bau bangkai, terang tapi juga mengantongi rahasia-rahasia kelam. Nabi Adam turun secara terpisah dengan Siti Hawa. Beliau menangis akan segala yang terjadi, namun semua telah tertulis. Sehingga manusia pertama yang juga Nabi ini sesungguhnya sekedar menjalankan titah.

Adam dan Hawa akhirnya bertemu kembali di dunia dan merintis kembali kehidupan baru dengan cara-cara manusia. Mereka kemudian memiliki putra-putri kembar. Saatnya Smoro menjalankan rencananya. Seperti halnya ketika menarik Adam ke Bumi, Smoro menggunakan Hawa sebagai pintu masuk mempengaruhi Adam. Ketika telah saatnya menikahkan, Siti Hawa kembali dibisiki bahwa pendapatnya dia harus juga didengar dan dilakukan, selama ini pendapat Adam saja yang dipakai. Hawa lupa bahwa memakan buah quldi yang berakibat hingga sejauh ini adalah pendapatnya, namun Adam enggan membahasnya. Intinya Hawa tidak setuju dengan cara Adam mengawinkan anaknya yang disilang seling. Karena sejak dlm kandungan sudah dijodohkan, dan yang hamil adalah Hawa, maka Hawa yang berhak menentukan peraturan bagi putra-putrinya.

Nabi Adam mengatakan bahwa anak itu terjadi karena ada benihnya, dan benih itu perlu wadah sebaik-baiknya. Siti Hawa tersinggung karena dia dengan rahimnya hanya dianggap wadah. Akhirnya dengan nada tinggi dia menantang suaminya untuk membuat bayi sendiri untuk membuktikan siapa yang benar. Mereka berdua pun sepakat dan berupaya dengan caranya masing-masing. Hingga waktu yang ditentukan sang bayi berhasil diridhoi Allah dan ditiupkan ruh, dan bayi itu bukan upaya Siti Hawa melainkan hasil upaya yang dilakukan Nabi Adam. Bayi itu sangat pekik. Sedangkan upaya Siti Hawa hanya menjadi darah kental.

_______________

SIS/SETH

Bayi ini kemudian dinamai Sis. Yang kita mengenalnya sekarang sebagai Nabi Sis (nama Kawi : Satya yang artinya benar, murni, kebenaran sejati, asli, hakiki, dlsb). Nabi Sis tumbuh besar, berpengetahuan, berwawasan, bijaksana. Sangat mirip dengan Nabi Adam. Nabi Adam pun sangat menyayangi putranya yang tak memiliki kembaran ini. Namun siapa sangka bahwa darah kental yang bajang dari Hawa diupayakan oleh Smoro untuk menjadi bayi dan dimohonkan Ruh atas nama Keadlian Allah. Maka jadilah bayi ini tumbuh dan besar di bawah didikan Smoro. Bayi ini dinamai Delajah karena ketika berupa darah, dia terombang-ambing di aliran air, terhempas kesana-kemari dan menjelajah kemana-mana. Sedangkan atas keinsyafan Siti Hawa yang tak mampu membuktikan argumentasinya, dia memohon ampun dan berjanji untuk senantiasa tunduk kepada suaminya. Atas perkenan Allah, pada kehamilan berikutnya Siti Hawa pun kembali mengandung atas benih Nabi Adam, dan ketika lahir ternyata hanya tunggal dan berjenis kelamin perempuan. Putri cantik ini dinamakan ‘Mulat’ yang berarti introspeksi atas keadaan diri. Sejak saat itu secara rutin Siti Hawa selalu mengeluarkan darah pada periode tertentu di setiap bulan, untuk mengingatkan ketidakpatuhannya kepada utusan Allah. Hingga para wanita dewasa sekarang pun akan mengalami hal serupa sebagai ‘monumen peringatan’ akan insiden darah kotor, yakni melalui menstruasi. Pada saat demikian dilarang seorang suami mensetubuhi istrinya. Sedangkan ketika perempuan tengah mengandung yakni menyimpan benih laki-laki, maka darah itu tidak keluar.

Di kemudian hari Dewi Mulat dan Nabi Sis dinikahkan. Pada saat Nabi Sis masih belia, dia diajarkan banyak hal oleh Nabi Adam. Diceritakan tentang sebuah taman yang begitu harmonis, sangat kaya akan pepohonan dan buah, bunga, dan aneka satwa. Kondisi gersang pulau hawa waktu itu bukan akibat ketidaksuburan tanah. Melainkan efek dari iklim dingin dan tercerabutnya hampir semua kehidupan paska ledakan senjata pamungkas Banujan.

_______________

BENIH TAMAN SURGA

Nabi Sis begitu terpukau dan penasaran akan cerita tentang taman surga itu. Maka kemudian dia berdoa untuk diberikan biji2an dari surga untuk ditanam di Bumi. Doa pun dikabulkan, dan jadilah pulau Hawa ini menjadi hijau subur makmur, wangi dan meriah. Beberapa binatang pun menyertai sebagai penghuni rimba. Jika dahulu Bumi dikhalifahi Banujan yang dasar desainnya Reptil, maka binatangnya pun seputar kehidupan reptil, seperti saurus, komodo, dan lainnya. Sedangkan kini khalifahnya adalah manusia sehingga binatang-binatangnya pun rata-rata adalah berdarah panas.

Bumi tempat Nabi Sis tinggal kini menjadi hijau dan subur. Berkaitan dengan itu, Nabi Sis mendapat petunjuk dari ayahanda bahwa :

“Apa yang ada dunia ini adalah permainan, kesedihan bisa menjadi karunia pertolongan dan kebahagiaan bisa menjadi ujian. Sehingga keadaan akan terus berbolak-balik dan tidak tetap sifatnya. Semuanya sementara dan bukan dunia tempat abadi. Maka, ketika engkau berbahagia atas apa yang kau lihat segeralah bertawakal sebab besertanya akan beriring ujian.

Kini, bumi telah menjadi hijau, subur, penuh buah, bunga dan binatang. Namun ketahuilah, semua yang diwujudkan itu membawa titah ruhani yang keadaannya tidak nampak jika tidak kamu kuak, tidak kau baca. Mereka ibarat cambah yang tumbuh menjadi wujud raga sedangkan semula dia bermula dari ghaib yang kau tidak punya penggambaran jasadnya. Lihatlah air. Lihatlah tanah. Lihatlah angin. Lihatlah api. Air tidak berwujud sekedar membawa basah. Begitupun juga tanah, angin, api, dan segala bentuk yang lain. Temukanlah pesan apa dari segala yang diwujudkan itu, mereka dibuat untuk menyampaikan pesan sekaligus membawa hawa. Hawa ini ibarat angin yang meniupkan bisikan keindahan sementara ini seakan abadi.

Ibarat air yang menenggelamkan dalam kesejukan dan kesegaran namun sekaligus memerangkapmu untuk tak mampu bernafas di dalamnya. Ibarat api yang membakar geloramu agar rakus untuk merasa sanggup melahap apa saja. Namun sesungguhnya semua ada batas. Lihatlah tanah, meski dia luas dan mampu menyajikan segala rasa dan pesona, namun dia tak tak mampu menghadirkan cahaya. Tapi jangan juga kamu menjadi gelisah dan sedih, terimalah segala anugrah dan karunia keindahan ini sekaligus beserta anugrah ilmu dan karunia keindahan hikmah. Tidak akan dibebankan kepadamu sebuah tanggungan tugas jika kamu tidak sebagai yang sanggup menyangganya.”

Kemudian Nabi Sis bersujud kepada Allah. Dia mengerti bahwa sebagai putra Adam, dia adalah khalifatullah di muka Bumi,begitu pula anak keturunannya kelak. Maka segala hal yang indah ini sekedar ujian, keindahan yang pasti akan hancur dimakan usia. Bunga yang indah dan wangi sangat pendek umurnya. Dia kemudian layu dan gugur. Begitupun dunia dengan segala keanggunannya, hanyalah sementara.

Dengan demikian maka Nabi Sis terlatih sebagai pemimpin sebab mumpuni dalam membaca dan mengaca diri. Dari Nabi Sis memang Nabi Adam berdoa agar anaknya ini menurunkan generasi yang menjadi pemimpin dan lebih ulung dibanding anak Nabi Adam yang lain. Karena pada akhirnya Nabi Sis yang matang dan tertempa sebab berhadapan secara akurat terhadap kombinasi keindahan dan ketidak-indahan. Hutan belantara yang subur hasil upaya nabi Sis, membuat para Denawa, Buto, Wanara, Dhemit, Peri Prayangan berdatangan. Mereka seperti rombongan pengungsi yang berbondong-bondong pergi ke tempat lebih baik.

Sejak Bumi selama jutaan tahun gersang dan sedikit sekali makanan. Tiba-tiba seperti ada gudang makanan yang melimpah ruah. Nabi Sis yang bertugas menjaga keseimbangan, harus mengatur semuanya dengan bijaksana.

Insya Allah Bersambung dengan judul :

Nabi Sis & Bangsa Wanara

Facebooktwittertumblr

Leave a Reply