WAHYU KEPRABON

Facebooktwittertumblr

WAHYU KEPRABON - 3 Juni 2017

WAHYU KEPRABON

Mekanisme kepemimpinan natural itu menjadi pilihan para leluhur untuk memilih sosok pemimpin.

Adalah “Wahyu Keprabon”. Keprabon dari kata ke-prabu-an. Prabu artinya Tuhan. Dalam Bahasa Kawi ‘Prabhu’ memiliki beberapa arti yang mengindikasikan Sang Maha, Mighty, Powerful, Master, Lord, Owner, Capable, Abundant, Having power to, More powerful than, Match for, Excelling, Having power over, Constant, Powerful, Able, Eternally, Rich. Maka Wahyu keprabon adalah wahyu ketuhanan. Yakni sikap, polah, tindak tanduk, perkataan, kebijakan, wawasan, seseorang yang terjaga. Sebab terjaga maka sedikit saja menimbulkan efek bahaya.

Kenapa seseorang terjaga dan beberapa orang yang lain tidak?

Ada hal yang sama diberikan kepada manusia secara keseluruhan, seperti udara untuk bernafas, air untuk minum, mencuci, dlsb. Tanah untuk berpijak, sinar matahari, naungan langit, dan banyak hal kenikmatan yang diberikan cuma-cuma. Kebanyakan menikmati tanpa bersyukur, kebanyakan menikmati tapi kufur. Namun demikian ada pula diberi sesuatu secara khusus, maka ini pasti ada sebabnya bukan terjadi tanpa alasan.

Hanya sangat sedikit yang menikmati dengan rasa syukur dan menggunakan dalam batasan paling minim. Yang sangat jarang ini kemudian melahirkan anak turun, dengan tetap melanjutkan ‘tradisi’ mengenal batas dan beretika dalam menggunakan fasilitas ditengah sementara pihak yang sebagian besarnya masih gembira dengan keserakahan, suka dengan rebutan, puas dengan mengalahkan yang lain. Orang yang dilahirkan dari nasab yang lebih menjaga hidupnya kemudian menjadi terjaga, dikaruniai oleh Tuhan kepenjagaan dan karunia kesadaran yang lebih cemerlang. Dalam kondisi terjaga seperti ini, ia tidak mudah terlena pada keelokan dunia dan terus menjalin hubungan yang intim kepada Tuhan. Tidak heran dengan kekayaan karena tidak mengejarnya, tidak takjub dengan kekuasaan karena memang tidak menghendakinya. Namun justru dengan ini Tuhan menghendaki untuk memberinya amanah kekuasaan dan kekayaan. Dari sini kemudian mulailah terjadi distorsi yang membelokkan perjuangannya.

Dengan kata lain mungkin bisa diartikan bahwa ‘Wahyu Keprabon’ adalah ‘Kadar Tuhan’ dalam diri seseorang yang terakumulasi secara turun-temurun melalui jalur nasabnya. Wahyu ini tidak selalu berlanjut kepada fenomena pentahtaan dan teritori kekuasaan. Ada beberapa pihak yang dianugerahi Wahyu keprabon namun tidak untuk meletakkannya sebagai Raja.

Para Nabi adalah pihak-pihak yang menerima Wahyu ini. Ada yang menjadi Abdan Nabiya dan ada pula yang menjadi Mulkan Nabiya.

Di Nusantara, konsep berkerajaan ini telah turun temurun menjadi tradisi untuk mengatur dan menata peri kehidupan dengan konsep yang terkoneksi antara langit dan bumi. Yakni tidak melepaskan diri dari hubungan Langit, Bumi, dan diantara keduanya. Langit dan Bumi ini tidak bisa dipisahkan, Oleh sebab itu hingga ke soal pemimpin pun harus mengelaborasi keduanya. Seorang pemimpin harus memiliki syarat kepemimpinan mutlak yakni Wahyu Keprabon. Seseorang yang mendapat wahyu keprabon akan memenuhi beberapa ciri, ketika dia berbicara bisa dipercaya, ketika ia berjanji akan ditepati, ketika ia bertindak pertimbangan utamanya adalah Maslahat. Ucapan dan tingkah lakunya sepadan, bisa diterima siapapun, bisa diterima dalam strata atau semesta apapun, menyenangkan hati saat bertatap wajah. Tutur katanya indah, dan senantiasa membawa keindahan baik lahir maupun bathin.

Pemimpin ini adalah pemimpin natural, tidak perlu dipromosikan, dicitrakan, dikampanyekan, sebab masing-masing orang akan dengan sukarela mengungkapkan pengalamannya sendiri kepada oranglain tentang pengalaman dan pertemuannya dengan seseorang yang mengindahkan. Konsep kerajaan, wahyu keprabon, untuk saat sekarang agaknya sengaja sedang dihilangkan atau tertimbun pada sebuah sistem yang dianggap mampu menjawab persoalan manusia secara lebih konkret dan jitu. Namun meski demikian, konsep ini tak lantas tiba-tiba tidak berlaku hanya dikarenakan manusia tidak mengakuinya. Sebuah konsep yang baik dan diperuntukkan kemanfaatannya bagi sebanyak-banyak orang akan cenderung dijadikan target pengambil-alihan. Sebab pada sistem yang telah memperoleh kepercayaan sesungguhnya menjadi tali utama penguasaan. Sehingga ketika sebuah sistem berhasil merebut kekuasaannya akan memperoleh tali kendali dalam hal penguasaan alam, aset, dan manusianya sekaligus.

Lantas bagiamana sistem ini akan dijalankan ketika tidak ada lagi simbol-simbol jasadiah yang mengkonfirmasi masih berlakunya sistem ini? Wahyu keprabon untuk kondisi saat ini sepertinya menggunakan jalur kebersamaan bukan personal individual. Jika pada jaman dahulu dikaruniakan pada seseorang kini dikaruniakan kepada sekian banyak orang sekaligus jika memenuhi syarat dan kesanggupan. Siapapun akan menerima percikan Wahyu ini jika berhasil menata dirinya dengan baik dan beradab. Adab tutur kata, adab berjanji, adab bertindak.

 

Agus Wibowo

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel, Kembang Gunung and tagged , , , , , .