Posted in Artikel, Kembang Gunung.



TIRAKAT IV : FITRAH






FITRAH - 25 Juni 2017TIRAKAT IV : FITRAH

Setiap insan dihadirkan ke dunia dalam keadaan kudus dan fitri. Bayi adalah perwujudan cahaya, senyumnya menyenangkan, tidurnya mengundang cinta kasih, tangisnya menghibakan, ketidakberdayannya melatihkan daya tahan. Segalanya menjadi positif, tercahayai. Bayi itu tunduk pasrah, tenaganya mungil dan segala ungkapan-ungkapannya diwakilkan lewat tangisan, tapi semua orang menyayangi. Tangisannya itu seakan tidak sedang ditujukan pada manusia, ia ditujukan kepada Tuhan. Kemudian ayah bundanya atau siapapun di sekitar lingkungannya merasa iba dan perlu mengambil peran sebagai kesempatan mengabdi kepada Tuhan. Seakan menaruh kasih mendalam dan ikut merasakan derita sang bayi yang tengah memanggil Tuhan tanpa sahutan. Ternyata, Tuhan menyahutnya. Ternyata Tuhan mendengarkan dan mengulurkan ‘tanganNya’ kepada si jabang bayi. Dengan cara menggerakkan hatinya orang yang bertuhan untuk menggunakan telinga, mata, hati, dan tangan kakinya menjawab keperluan si bayi.

Jabang bayi itu, jangankan senyum dan keriangannya, pipis dan eeknya saja tak membuat petaka meskipun ia lakukan ditempat yang (bagi yang lebih dewasa) tidak pada tempatnya. Bayi tetap mendapat pelayanan yang penuh welas asih. Inilah bayi yang kita semua pernah mengalami masanya. Kemanakah kiranya pancaran pesona si jabang bayi itu kini? Ada yang terjaga namun tidak sedikit pula yang terhempas tergeser selera dan pesona dunia. Puasa adalah momentum untuk sedikit terlepas dari jeratan selera agar kita punya kesempatan pula untuk menengok sudah sejauh apa kita tinggalkan si jabang bayi yang bercahaya itu.

KATA ANGIN KEPADA NAFAS

Kau ibarat bayi, maka ketika menjumpaimu hanya rasa sayang yang muncul. Andaikanpun, aku terluka atau tersayat olehmu maka rasanya segera terguyur permaafan karena cintaku kepadamu lebih mencengkeram. Karena aku sayang, maka aku cemburu, karena aku cemburu maka aku rindu, karena aku merasa paling merindukanmu maka aku merasa kau kepunyaanku dan disaat sadar kau tak memerlukan kerinduanku, aku terkulai malu. Aku ingin menimangmu tapi kau bukan bayi, kau telah mendewasa. Maka aku timang kehormatanmu dengan tidak merendahkanmu. Aku ingin menciumimu, tapi kau bukan pula si mungil yang imut meski kau pun menggemaskan tapi menciummu adalah keliru, maka aku mengendus aroma keinginan dan kebencianmu, selera dan antipatimu, kesenangan dan kesedihanmu, kegembiraan dan kekecewaanmu, ketenangan dan kekeruhanmu. Aku pilah dan bagi dengan perhatian besar agar kemudian dariku untukmu hanya kau hirup yang terbaik seperti keinginanmu, yang men-selerakan-mu, yang menyenangkanmu, yang menggembirakanmu, yang mana itulah kesempatanku terhirup mengaromai hasrat dan gairah hidupmu. Hingga kemudian hidupmu penuh dengan kesenangan dan kegembiraan, caramu menghirupku semakin memburu, semakin seakan kau terburu waktu. Aromamu semakin sangit dan makin tak kutemukan bayimu. Kau pun akan padam ketika aku tak lagi mau mengampirimu.

Telah sampai pada seri ke 30, juga merupakan tirakatan ke 30. Semoga gunung-gunung kedirian tergugur, keangkuhan terkikis, kesombongan tertunduk.

Setiap tulisan yang saya buat sesungguhnya sama sekali bukan untuk oranglain, karena terutamanya adalah saya sendiri yg memerlukan membaca, mempelajari, dan melanjutkannya menjadi “tulisan” laku dalam hidup. Sedangkan dalam hidup, susunan aksara dan kalimatNya saja yg berlaku, bukan aksaraku ataupun kau, mealainkan aku dan kau manunggal menjadi aksara dalam kalimatNya.

Kita kembali menjadi manusia yang jujur seperti sejak semula Tuhan menciptakan. Kita sesungguhnya hanya memerlukan bersikap jujur dalam hidup. Kita tidak butuh kedirian, yang membutuhkan adalah ‘ketakutan kita’ yang khawatir tidak terlihat karena merasa hidup di antara gunung yang menjulang dan besar. Kita tak membutuhkan ‘keangkuhan’, yang membutuhkannya adalah ‘kekhawatiran kita’ yang takut tak dianggap ada, karena kita menyangka hidup bersama berhala yang tak punya indra dan penghayatan. Kita tak memerlukan kesombongan, yang membutuhkannya adalah ‘kekerdilan kita’ yang menyangka bisa setara dengan Tuhan. Selanjutnya mari kita jadikan jimat puasa ini sebagai bekal pengendalian diri hingga 11 bulan berikutnya. Selamat kembali ke Fitrah. Kembali ke Jabang bayi yang Suci, Sudi, Sujana. Mohon Maaf lahir dan Bathin.

Wa billahi taufiq wal hidayah wassalamu ‘alaikum warah matullahi wa barakatuhu.

Romadhon 1438 H / 1 Syawal 1438 H

Agus Wibowo

Facebooktwittertumblr