Posted in Artikel, Kembang Gunung.



TIRAKAT III : BHARATAYUDHA






BHARATAYUDHA - 24 Juni 2017TIRAKAT III : BHARATAYUDHA

Disebut Pandawa adalah karena anak turun Pandu, sedangkan untuk Kurawa adalah karena anak turun Kurupati. Namun jauh sebelum Kurupati atau Destarata, tersebut pula seorang raja yang sangat berbudi pekerti luhur yang rela mengorbankan dirinya. Dialah Sang Kuru adalah raja yang kemudian menurunkan baik Pandawa maupun Kurawa. Maka yang disebut sebagai Pandawa pun sesungguhnya adalah Kurawa jika menarik sebagai anak turun dari Kuru. Namun dalam pewayangan yang dikenal sebagai Kurawa adalah putra Harya Kurupati yakni Destarata. Maka untuk Kuru yang menurunkan Pandawa dan Kurawa sebut saja Kuru Sepuh. Sedangkan Kuru (Harya Kurupati) yang hanya melahirkan Kuwara sebut saja Kuru Anom. Semua tokoh ini ada di dalam diri, mari kita memindainya. Kuru adalah ungkapan untuk menyebut ‘Kurus’, ‘Kurang’, ‘Kere’, ‘Kering’, sesuatu yang tidak genap, ganjil, mengandung kekurangan.

Kuru menjadi kurus kering karena penyerahan dan pengabdian dirinya kepada Tuhan. Kuru sepuh ini sangat pandai berserah diri, ia rela berkorban demi mendapat karunia kasih dari Tuhan untuk dirinya dan semua anak turunnya. Kuru sepuh inilah hati yang fitrah, senantiasa fakir hadapan Tuhan. Tapi perjalanan masih akan berlangsung, Kuru sepuh kelak melahirkan 2 kubu. Kubu pertama berisi 100 kegelapan. Sedangkan kubu kedua berisi 5 cahaya. 100 kegelapan lahir dari Kuru anom. Kuru anom sebagai bentuk distorsi dari Kuru Sepuh, ia tak lagi kurus kering namun memiliki tetap membawa kekurangan, yakni keterbatasannya dalam melihat yang ada disekitarnya. Meskipun ia pendengar yang baik, oleh sebab itu hatinya tetap terjaga. Namun imbas dari kekurangannya dalam mawas diri lahirlah 100 kegelapan. Sedangkan Pandu adalah anak turun Kuru Sepuh yang membawa watak kepemimpinan, menjadi teladan, dan memberi sesuluh bagi yang lain. 20 orang Kurawa seakan baru setanding dengan seorang Pandawa. Satu orang Pandawa perlu mengenali 20 sifat dan 99 Asma untuk menghindarkan diri dari prilaku tidak terpuji dan tetap teguh menjaga amanah. Proses ini adalah proses penyucian diri terus menerus, Bharatayudha di padang Kurusetra, Perang besar di dalam diri sendiri. Esensi dari Bratayudha bukanlah terletak pada menjadi ; siapa tokoh baik dan siapa tokoh jahat, namun pada perjuangan menjunjung nilai baik pada diri sendiri, menjunjung nilai baik bersama orang lain, dan bersama alam semesta.

29 Romadhon 1438 H

Agus Wibowo

Facebooktwittertumblr