TIRAKAT II : PANDU ATAU KURU

Facebooktwittertumblr

TIRAKAT 2 - PANDU ATAU KURUTIRAKAT II : PANDU ATAU KURU

Sebab makanan hanyalah kendaraan untuk menghantarkan cahaya, ia hanya semacam kemasan. Yang terutama di konsumsi bukan wadagnya, bukan kemasannya. Yang dinikmati adalah benih-benih cahaya di dalamnya. Benih ini dipersyarati keberadaaanya pada jenis makanan khusus yakni yang didapatkan dengan cara yang baik, benar, indah. Kenikmatan makanan itu akan terbawa dengan sendirinya dengan kesadaran syukur apapun bentuk kemasannya. Oleh sebab itu, para leluhur mampu menemukan racikan yang kaya, bukan hanya dari bahan-bahan lazim. Para leluhur mengenali cahaya yang dibawa rebung, yang dibawa gadung, yang dibaa Ares, Jantung pisang, yang dibawa Pare, Kapulogo, Brotowali, dlsb. Jika zaman sekarang melihat makanan lebih terkondisikan pada pemahaman nutrisi, karbohidrat, protein, vitamin, dlsb yang bersemayam pada ampas atau jasad makanannya. Para leluhur melihat kandungan cahaya yang bersemayam pada proses panjang sebelum makanan itu terhidang hingga setelah makanan tersantap. Cahaya bersemayam pada cara mendapatkan, cara mengelola, cara menikmati, hingga cara berbagi.

‘Bukti’ juga bertautan dengan ‘Mukti’(sukses mulia), seseorang yang mengincar kemuliaan sering terjebak justru dengan mengkonsumsi prilaku-prilaku kerendahan. Pencitraan dan kepura-puraan ditebalkan, sedang kasunyatan ditinggalkan terkubur dalam gunung kesan dan ketidak-aslian. Namun seseorang yang mengutamakan kemanfaatan bagi lingkungan, ia akan lebih mendapat tempat mulia di hati lingkungannya. Bahwa seseorang sampai memiliki ide untuk mengincar kemuliaan dan justru malah terserimpet kerendahan ini oleh para leluhur diduga dimulai sejak dirinya kurang mampu menghormati makanan, salah memahami apa yang dimakan, salah memaknai pada apa syukur diletakkan. Salah menempatkan makanan, kurang mawas diri pada hakekat makanan dan kurang paham kebutuhan utamanya sendiri.

Makanan dipahami sebagai asupan gizi, nutrisi, protein yang berada pada wadag atau ampasnya, kondisi utamanya adalah melihat makanan dengan kacamata jasad bukan cahaya. Cara ini akan salah pula dalam melihat keadaan dan proses. Jika syukur diletakkan hanya pada terhidangnya makanan itu, pada aneka warnanya, pada melimpahnya, dlsb. Inilah yang akan menjadi kabar buruk sebab rasa syukur terletak pada kondisi kemelimpahan dan penghamburan. Syukur jenis ini akan berdampak pada ketidak-tepatan dalam menghikmahi kejadian.

Kenapa demikian? Karena cahaya yang ada pada makanan hanya akan menjadi asupan cahaya jika yang memakan memiliki sambungan rasa cahaya. Jika yang menyantap hanya memiliki kesadaran rasa kesenangan dan kuantiti, maka inilah salah satu mula cahaya menjadi ‘kuru’ / kurus. Jika cahaya kurus, ia makin tidak produktif dalam hal mencahaya, makin tak kompatibel sebagai ‘pandhu’ (teladan atau pemimpin). Hidup menjadi bebal dan jika ini turun temurun akan menjadikan manusia sekelas binatang ternak yang prioritas hidupnya sangat sederhana dan ukuran kebutuhan hidupnya hanya pada persoalan perut. Ia tak peduli terhadap nilai, martabat, derajat pengabdian, perjuangan, tak punya nuansa, tak punya bahan warisan kebaikan kepada anak turun untuk tetap menjadi keluarga cahaya.

28 Romadhon 1438 H

Agus Wibowo

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel, Kembang Gunung and tagged , , , , , .