Posted in Artikel, Kembang Gunung.



Ternyata semua kurir






majlisgugurgunung::Dalam menyikapi hidup, aku banyak belajar dari hal-hal yang aku anggap besar dan megah. Maka itu juga yang menuntunku untuk mendorong langkahku menuju kemegahan dan kebesaran. Awalnya aku kagum pada gunung, lalu aku kagum pada langit, kemudian aku kagum pada semesta malam yang seperti karung tak berujung dimana didalamnya berisi bintang-bintang yang berlaksa-laksa jumlahnya.

Langkah demi langkahku adalah gunung. Dimana setiap pijakan langkahku membuat semua orang harus mendongak memandang kemegahanku. Wawasanku adalah semesta malam yang luas tak berujung, sehingga membuat orang nanar untuk meruntut hingga kemana kecerdasanku berbatas. Penampilanku adalah bintang-bintang yang harus membuat orang merasa tak sanggup menggapaiku namun tak berhenti mencintai dan memujaku. Maka aku adalah gunung, juga semesta malam, juga bintang-gemintang. Akan hingga kemana aku hendak menambah kehebatanku lagi? ternyata aku temukan kekosongan. Ada hal yang harus kutata ulang, ada pada kekeliruanku menerima suguhan. Baik suguhan Gunung, Semesta malam yang lengkap dengan bintang-bintangnya.

Aku senang menerima suguhan gunung yang mengajariku menjadi besar. Aku berhasil menjadikan langkahku besar dan tinggi, namun aku tak belajar dari keanggunan gunung yang selalu rendah hati memberi tempat bagi awan-awan lembut untuk bertengger di kepalanya. Aku lupakan bahwa meski gunung itu diam, namun selalu gemulai menampilkan tarian sujud yang menggetarkan. Yakni tarian yang tak selalu meletakkan kepala berkacak congkak, namun malah merunduk dan bahkan merelakan untuk diinjak. Aku melupakan suguhan lebih penting dari gunung.

Aku kagum pada langit yang luas dan menaungi segala permukaan bumi. Kukira itulah tugas langit kepadaku, mengirimkan suguhan tentang keluasan yang holistik. Maka aku tak cukup hanya besar, tapi juga tinggi dan menaungi. Namun aku mengabaikan suguhan langit bahwa keluasan dan ketinggiannya yang holistik mengajarkan juga kerelaan memberi arti tanpa menuntut manusia menemukan keberadaannya.

Aku menerima dengan gegap gempita suguhan semesta malam dengan bintang gemintangnya. Hingga suguhan itu menginspirasiku untuk memiliki kecerdasan dan ketiada-berujungan. Tak mampu diruntut dan tak bisa diprediksi dengan kemampuan berpikir rata-rata. Karena aku adalah semesta yang tidak untuk diintai kemana ujungnya, aku hanya untuk dikagumi dan membuat orang terpenjara menanti misteri keindahanku setiap malam.

Namun aku belum belajar dari semesta malam yang baru belakangan kusadari telah disuguhkan kepadaku sejak semula. Yakni, bahwa semesta malam dengan kekayaan taburan bintangnya tetaplah memiliki ujung. Dia akan berujung pada fajar dan memberikan tempat kepada pagi untuk menunaikan peran dan suguhannya. Akhirnya aku belajar kepada fajar yang menyapa hangat kebekuan malam, menyalurkan semangat kepada semua makhluk. Kepada tanaman, kepada binatang, kepada burung-burung yang meriangkan hari dengan kicauan nyaringnya.

Kini, disaat aku telah terlanjur menyangka aku besar dan megah mengalahkan gunung dan langit dan semesta malam dan bintang-bintang. Ternyata tak memenangkan apa-apa. Bahkan tak menang kepada burung-burung kecil yang sigap menerima suguhan semangat fajar kemudian menyalurkannya kembali dengan indah untuk menyemangati kehidupan. Mereka semua ada untuk menyuguhkan pesan.

Aku belajar menyuguhkan, dan terus melatih kesanggupanku menghantarkan suguhan seiring dengan alunan kehidupan yang sarat pesan. Maka, kini tak mau lagi aku terkecoh dengan kemegahan, kebesaran, kegemerlapan, keluasan, dan lain sebagainya yang menjerumuskanku merasa bernilai tapi nilai itu sendiri tak pernah kugapai. Aku malah harusnya belajar kepada yang kecil, terabaikan, terlupakan, diremehkan, namun sesungguhnya membawa kedalaman pesan yang sama besar. Belajar kepada garam yang menyuguhkan asin. Belajar kepada cabe yang menyuguhkan pedas.

Mereka semua seakan serempak berkata penuh pesan kepadaku : “kamu mampu meniru kehebatan dan menyematkan bintang-bintang hingga berjuntai sebagai manik-manik di sekujur gaunmu, namun akankah kamu mampu meniru kami yang senantiasa menyampaikan pesanan dengan kondisi baik dan terjaga hingga membuat bahagia bagi yang menerimanya”. Ternyata semua kurir, aku demikian pula.

Facebooktwittertumblr