Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta

Facebooktwittertumblr

majlisgugurgunung:: Reportase majlis gugurgunung 25 Maret 2016 – Hari Kamis 24 Maret 2016, beberapa orang sebagai rombongan kecil gugurgunung menuju ke Yogyakarta. Perjalanan terhitung lancar meski sempat macet di daerah Ngampin Ambarawa. Karena berangkat pun sudah masuk jam malam, maka tiba di Jogja pun sudah pagi yakni sekitar 02.30 wib. Rombongan singgah di rumah sahabat dan melewati sisa waktu menuju Shubuh untuk bercengkrama dalam obrolan khas Maiyahan. Yakni obrolan yang ‘nggrundeli’ kanjeng Nabi dan Gusti Allah. Ini grundelan yang justru sadar bahwa yang digrundeli (dibicarakan) tak mungkin tidak tahu.

Pukul 09.00 WIB rombongan berpamitan dan melanjutkan perjalanan menuju ke Kadipiro. Setiap hari Jum’at, di Rumah Maiyah Kadipiro dalam beberapa periode ini dilaksanakan Sholat Jum’at. Termasuk hari itu. Bertindak sebagai Khatib sekaligus Imam, hari itu jatahnya sesepuh KiaiKajeng, Pak Nevy Budianto.

Pertemuan sungguh sebagai sebuah hadiah atau mungkin lebih pas sebagai hadiah tombo kangen. Hadir pada kesempatan itu juga Pak Joko kamto, Pak Bambang susiawan, tim Progress, Keluarga Kasihan, dan Keluarga Kadipiro, dlsb. Yang makin membuat suasana kangen itu terbalut begitu hangat dan karib, hadir juga CN yang malam harinya baru saja bermaiyahan di Padhangmbulan Menturo.

Obrolan kecil sebelum Jum’atan terjadi secara spontan menyisakan kesan yang tidak kecil. Banyak ha- hal besar dan men-sasar ke ranah elementer kemanusiaan dan fenomenanya sekarang. Maka obrolan kecil yang sesungguhnya sekedar mengisi waktu dan menunggu kehadiran Jamaah lain menjadi menu special yang mencerahkan.

Masuk waktu Sholat Juma’at tiba, Andhika salah seorang wakil dari gugurgunung mendapat penghormatan untuk memantulkan seruan Allah berupa kumandang Adzan. Masuk ke khotbah, Pak Nevy mengurai dengan sangat apik tema tentang Tawakkal dan kepasrahan pada cara Allah memperjalankan manusia. Seusai Sholat masih dilanjut dengan kuliah singkat dan berlanjut masuk ke lingkaran diskusi.

Betapa butiran demi butiran peristiwa menjadi untaian perhiasan yang bagi rombongan gugurgunung tak ingin membiarkannya menjadi kenikmatan sendiri, melainkan ingin bagi yang saat itu tak sedang berada di sana bisa ikut mencecap kenikmatannya. Apalagi Cak Nun menyampaikan bahwa ada oleh-oleh sangat berharga dari Padhangmbulan tadi malam(24/03/16) yang jangan sampai tiap butirnya tertinggal tanpa berakibat menghiasi pejalan Maiyah dan prilaku bermaiyah dimanapun.

Berikut saripati hikmah dan kawruh yang disampaikan Cak Nun pada pertemuan penuh kegembiraan itu :

“Dalam mempelajari Al-Qur’an, salah satu kekurangan umat Islam berabad-abad silam sampai saat ini adalah terlalu mengandalkan tafsir. Dan tafsir itu sekarang sudah dimonopoli oleh ulama. Jadi tafsir itu lebih ke akademis-ilmiah, yang mana kalau akademis-ilmiah itu kita lebih belajar ke barat, menggunakan metode orang barat. Sedangkan bagi orang Jawa, cara akademis-ilmiah tersebut tidak akan diterima.

Tafsir tetap diperlukan, tapi itu nomor dua. yang nomor satunya adalah tadabbur.

Jadi belajar Al-Qur’an tidak hanya untuk Nabi, tidak hanya untuk ulama. Al-Qur’an juga untuk diri kita, apapun profesi kita. Tak perduli kita petani, kita buruh, kita orang bodoh tidak bisa membaca.

kadipiro, 25 maret 2016

kadipiro, 25 maret 2016

Rosululloh sendiri mengatakan bahwa Beliau adalah Nabi yang “tidak bisa membaca” dan kita menjadi terjebak dengan pernyataan itu. Ini adalah tantangan bagi orang yang merasa pandai di dunia. Karena sebenarnya apa yang kamu baca adalah mengikuti apa yang penulis/orang lain tulis, bukan sesuatu yang otentik dari dalam diri, muncul dari diri sendiri bersama Alloh di dalam diri.

Tadabbur adalah sebuah pertemuan pribadimu masing-masing dengan Al-Qur’an. Dalam tadabbur diperlukan kesucian hati dan kejernihan pikiran. Sering-seringlah membuka Al-Qur’an, kemudian dibaca terjemahannya, lalu rasakan dan cari maknanya. Jika hati kita bersungguh-sungguh, nanti Alloh akan menuntun kita. Dan yang juga terpenting adalah setelah tadabbur, tidak ada keinginan dalam diri untuk diikuti oleh siapa-siapa/orang lain.

Setiap orang yang ber-tadabbur akan menghasilkan hasil tadabbur yang berbeda-beda. Alloh membuat ayat tidak hanya berisikan satu makna saja, makna yang kita peroleh adalah tergantung manfaat apa yang dapat kia ambil dari ayat tersebut. Bisa saja seorang penjual bakso tadabbur dan tafsirnya berdasarkan surat Al-Baqoroh.

Membuka Al-Qur’an tidak harus urut. Ber-wudhu-lah, lalu sholat dua rakaat. Kemudian bukalah Al-Qur’an sedapatnya. Setelah itu bacalah ayat pada halaman itu berulang-ulang kali hingga nanti ketemu apa yang kamu cari. Entah itu pekerjaan, penyakit, jalan keluar masalahmu dan lain sebagainya.

Tafsir adalah sebuah wacana. Kalau cocok pakailah, kalau tidak cocok tidak dipakai. Sedangkan tadabbur adalah otentik, kita sendiri yang memakan, kita sendiri yang mengunyah, kita sendiri yang mengolah dan kita sendiri yang menentukan selanjutnya akan apa.

Ulama ahli tafsir menafsirkan bahwa Nama Alloh ada 99, padahal Alloh memiliki banyak sekali Nama di Al-Qur’an yang tidak diikutkan dalam 99 Nama. Jika Alloh menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada itu namanya “Khalik” dan jika Alloh menciptakan sesuatu dari yang sudah ada menjadi sesuatu yang lain itu namanya “Ja’il”. Keduanya sama-sama merupakan sifat Alloh, tetapi kenapa “Ja’il” tidak masuk ke deretan Asmaul Husna?

Kita tau maiyah ada struktur dzat, sifat, isim, jasad.

Di dunia thorikat 14 abad yang lalu, selalu ada kata fi’il.

Sehingga menjadi dzat, sifat, isim, jasad, fi’il.

Dzat itu pusat rohnya, yaitu Alloh sendiri.

Sifat itu aplikasi-aplikasi. Ada panas-dingin, ada air-api

Isim itu pemahaman manusia terhadap sifat-sifat yang sudah diaplikasikan

Jasad itu materi..

Dari dzat, sifat, isim, jasad semuanya itu adalah fi’il (fa’al). Dan Alloh menyebut Dirinya “Fa’ali ma yurid” yang artinya Alloh Maha Bekerja, melakukan apapun yang Ia maui. Fa’al ini juga tidak ada di 99 Asmaul Husna.

Ketika kita mencari Nama Alloh yang ke-100, salah satu hal yang dapat ditempuh adalah lewat tadabbur. Jikalau kita ber-Tadabbur tidak diperlukan pertanggung jawaban, kecuali kejujuran. Orang jujur jika kelirutidak apa-apa, karena pijakannya adalah kesucian hati dan kejernihan pikiran. Orang jujur ketika keliru, belum tentu berdosa, yang berdosa adalah orang yang tidak jujur, tidak suci.

Alloh menciptakan kita semua.

Dalam pandangan mata, Alloh itu memberi 99 petunjuk dan memberi 1(satu) rahasia.

Tapi jika kita mau ber-tadabbur dan mempertinggi software/pixel penglihatan kita maka yang terlihat adalah Alloh memberi 99 rahasia dan 1(satu) petunjuk.

Jadi satu rahasia dengan 99 informasi apabila kita kejar akan menjadi terbalik, 99 rahasia dengan satu informasi. Seperti dalam hidup ini, lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban. Kelihatannya Alloh memberi 99 solusi dan satu masalah, tetapi sejatinya adalah Alloh memberi ujian kepada kita dengan 99 masalah lalu memberi satu solusi kunci jawaban atas masalah. Bila kita runut lagi, sejatinya dengan satu kunci saja kita bisa menyelesaikan 99 masalah.

Jika manusia setia kepada kejujuran untuk mencari bolak-baliknya 99 dengan satu, maka akan asyik hidup ini. Yang dikira 99 ternyata satu, yang dikira satu ternyata 99 atau bahkan lebih. Namun, kondisi yang terjadi pada saat ini justru keterbalikannya. Manusia yang seharusnya mencari dan menjadi solusi kini malah mencari dan menjadi masalah.

Dajjal yang kuat hadir di akhir zaman, sedangkan kondisi umat beragama saat ini kekuatannya tidak sekuat umat jaman dahulu. Iman umat zaman sekarang juga lebih cethek dari pada umat sebelum saat ini.

Kenapa dajjal diujikan kepada kaum yang lemah?

Padalah Alloh memberi ujian kepada manusia berdasarkan kekuatan/kemampuannya, tidak memberi ujian melebihi kekuatan/kemampuan hambaNya.

Dajjal bisa kita kenali sebagai potensi.

Potensi itu dapat berupa unsur, gelombang, benda, mekanisme, mobilisasi dll.

Tapi Dajjal juga dapat kita kenali secara kasat mata.

Bukan berarti tangannya besar sekali atau badannya besar sekali, tetapi ada sebuah bangunan wajah peradaban yang apabila kita pandang dari kejauhan itu adalah Dajjal.

Yakjuj makjuj juga akan hadir.

Salah satu sifat/aplikasi dajjal adalah Dajjal akan menyelimuti seluruh dunia atau mendatangi semua negara. Barang siapa tidak ikut, dia akan bangkrut. Barang siapa ikut, dia akan makmur.

Yang tidak bisa dimasuki Dajjal adalah Mekkah dan Madinah. Namun ini perlu ditadabburi, karena Arab Saudi kini menjadi bagian utama dari Dajjal itu sendiri. Semua situs-situs Islam di Arab dihapus semua. Saat ini yang belum dihancurkan hanya Roudloh, makam Rosululloh. Salah satu proyek Dajjal adalah bagaimana caranya agar hati kita tak lagi menyambung dengan Rosululloh. Makanya saat ini sholawatan menjadi bid’ah, berdoa di makanRosul juga tidak boleh dll. Itu semua merupakan langkah dari Dajjal agar kita tak lagi mencintai Rosululloh.

Yang tidak bisa dimasuki Dajjal adalah Mekkah dan Madinah. Mekkah dan Madinah tidak sebatas jasad bangunan kota. Mekkah dan Madinah dapat ditadabburi berada dalam hati dan akhlak kita. Sehingga kita tidak perlu sedih atau pun takut kepada Dajjal. Karena tanda-tanda orang yang menyambung dengan Alloh adalah orang yang tak punya sedih dan takut. Namun demikian, kita juga jangan sok berani ataupun cengengesan.

Dalam hidup ini yang penting adalah menanam. Kita tidak tau selanjutnya akan panen atau gagal panen. Walaupun gagal panen, di Mata Alloh kita sudah berusaha, ikhtiar dan tawakkal. Lanjutkan apa yang sudah dikerjakan. Ukurannya tidak perlu seluas Indonesia atau seluas apa. Karena yang terpenting adalah Alloh, Rosululloh, dirimu dan masyarakatmu.“

A.A.A

Redaksi majlis gugurgunung.

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel, Kembang Gunung, reportase and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , .