Posted in Artikel, reportase.



Reportase Songolasan Agustus 2017






Kegiatan Songolasan Majlis Gugurgunung Ungaran yang rutin diadakan pada tengah bulan atau kisaran tanggal sembilan belas. Pada bulan Agustus ini diadakan pada tanggal 18 Agustus 2017 di kediaman pak Zam, salah seorang sedulur Gugurgunung di Patebon, Kendal yang dengan senang hati menyediakan tempatnya digunakan untuk berkumpul, bersilaturahmi, serta gladi bersih Teater Gugurgunung.

Kegiatan dimulai pada pukul 21.55 WIB, dibuka oleh mas Norman dengan pembacaan basmalah serta meminta kesediaan waktu sedulur-sedulur yang hadir untuk membaca Al-Fatihah untuk sedulur-sedulur Karangrandu Jepara yang sedang tertimpa masalah berupa limbah yang mencemari sungai di sekitarnya, dengan harapan semoga dimudahkan dalam menghadapi ujian tersebut. Kemudian dilanjutkan Mas Jion membaca do’a wasilah serta Munajat Maiyah.

Gladi bersih Teater Gugurgunung

Usai pembacaan Munajat, dimulailah gladi bersih dari Teater Gugurgunung yang dimainkan oleh mas Jion sebagai dalang yang memerankan Jabang Bayi, mas Dian sebagai Jabang Warna dan mas Chafid sebagai Narator untuk mengarahkan jalannya cerita. Penampilan gladi bersih teater ini berjalan serius, untuk kemudian dievaluasi oleh mas Agus dan diberi masukan oleh sedulur-sedulur yang lain. Meskipun personil belum lengkap, karena tidak dihadiri mas Nug sebagai pengiring musik dikarenakan beliau sedang ada acara yang mendadak. Terlepas dari kurang lengkapnya perseonil namun dari segi pembawaan, konten teks sudah cukup baik meskipun ada beberapa artikulasi yang perlu diperbaiki. Suluk maupun tembang yang dilagukan oleh mas Jion lebih menghidupkan teater malam hari ini.

Malam ini dihadiri pula oleh salah seorang sedulur yang baru pertama merapat yakni mas Tekno. Beliau merupakan salah seorang yang menekuni bidang IPTEK. Menurut mas Agus, perlu dijalin persaudaraan yang lebih erat dengan beliau sebab diposisikan sebagai salah satu pihak yang berkaitan dengan Hasta Janma. Salah satu janma yang sedang digeluti mas Tekno ialah Janma Undhagi dengan spesifikasi penyulingan/destilasi. Meskipun bukan hanya bagian destilasi saja yang dilakukan oleh mas Tekno sebab banyak cerita dan pengalaman yang dibagikan oleh beliau. Pengembangan salah satu bidang dari IPTEK pasti akan selalu diikuti oleh bagian-bagian pengerjaan lain. Misalkan pembuatan komponen-komponen listrik yang berhasil dikerjakan oleh beliau, yakni berdasarkan pada prinsip dari listrik adalah perbedaan potensial. Rancangan yang berhasil diciptakan salah satunya ialah menghasilkan listrik dengan logam dalam bentuk seng maupun alumunium yang diletakkan di pucuk pohon kelapa dan dibagian bawah pohon kelapa dengan disambungkan oleh kabel maka mampu menyalakan listrik sekitar 5 watt, komponen tersebut pula yang mampu digunakan beliau untuk disambungkan pada generator perahu sehingga dapat berjalan tanpa bensin/solar. Namun pemeliharaan untuk masing-masing komponeen tersebut belum diketahui sehingga sampai sebatas ini baru prototype saja yang bisa dihasilkan karena jika diproduksi secara massal pasti biaya yang digkeluarkan justru lebih besar. Hal tersebut yakni listrik atau penerangan merupakan teknologi yang kita rindukan meskipun untuk realisasinya sendiri kita belum akan tahu waktunya.

Penyulingan atau destilasi sebenarnya merupakan teknik dasar yang telah sekian lama dipergunakan oleh leluhur atau pada jaman klasik dan tidak punah hingga saat ini maupun masa depan. Penyulingan memang sudah ada sejak jaman kuno dan yang paling dibutuhkan ialah ketelatenan, ilmu titen. Selain dari penyulingan, mas Tekno juga menceritakan awal-awal beliau memunculkan niat untuk belajar adalah keresahan terhadap teknologi yang ada pada jaman saat ini. Dimana banyak teknologi dari leluhur namun terlupakan oleh anak turun. Leluhur-leluhur Jawa banyak memiliki pengetahuan tentang ilmu pengetahuan serta teknologi. Entah itu dari Mahapatih Gajah Mada yang sangat canggih dalam pertanian dll. Kita diajarkan untuk berbakti kepada orang tua, namun hal tersebut bukan hanya berhenti di kedua orang tua saja, yakni orang tuanya dari kedua orang tua kita dan seterusnya. Hal tersebut agar kita tidak melupakan tentang nasab atau garis keturunan. Bahkan di Padang atau Batak minimal mengingat sepuluh tingkatan leluhur diatasnya. Menurut keterangan mas Tekno, melupakan sejarah nasab ini dimulai semenjak VOC kalah dari Pangeran Diponegoro karena setelah itu nasab tidak lagi dipergunakan.

Para leluhur mampu membuat keris namun kenapa anak turunnya saat ini membuat paku saja tidak bisa. Hal ini juga semakin menjadikan contoh akibat kita melupakan ajaran leluhur. Para Empu pada jaman dahulu mempergunakan bakteri yang mampu memakan besi, bakteri inilah yang digunakan di tangan para leluhur untuk menempa besi dengan jari-jarinya. Oleh karena itu jarang sekali ada empu yang memiliki usia panjang, karena bakteri-bakteri itu juga akan berimbas kepada manusianya. Namun selain bakteri si empu juga harus mengubah frekuensi dirinya. Salah satunya ialah dengan berpuasa dll.

Pendidikan formal pun tidak dikenyam oleh mas Tekno, karena beliau merupakan orang desa yang kurang mengenal pendidikan-pendidikan formal semacam universitas ataupun sekolah tinggi. Namun beliau sekarang justru mampu membuka fakultas-fakultas kehidupan dimana hal yang terpenting disana ialah diajarkan untuk mencari rohani dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Tanpa meninggalkan ajaran-ajaran leluhur termasuk dalam bidang sastra serta ketuhanan. “pelajari sunatullah dan sunah rasul, jangan hanya sunah rasulnya saja” begitu kata beliau sambil tersenyum. Keseimbangan antara keduanya harus berjalan tidak bisa hanya dipilih salah satu saja. Tangan terbuka dari beliau kepada siapapun yang mau belajar disana. Termasuk menyediakan beberapa pekerjaan yang menghasilkan uang untuk yang sudah berkeluarga. Satu hal yang ditekankan beliau ialah, jangan mencari harta dari sebuah ilmu pengetahuan tapi cari rohnya. Ketika kita mengetahui roh dari ilmu pengetahuan, karena jika dilepas ditempat manapun kita akan tetap bisa hidup dengan bekal tersebut. Kerja hanya salah satu bentuk dzikir, sedangkan untuk niatnya yakni mencari roh dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Kita bagaikan kantong, ilmu akan masuk kedalam kantong-kantong tersebut sehingga akan menyesuaikan ukuran-ukuran kantong atau wadagnya. Inilah yang perlu kita lakukan yakni mempersiapkan wadag sebaik-baiknya tanpa harus tergesa-gesa mengantongi ilmu-ilmu tersebut sebab Sang Pemilik Ilmu sendiri lah yang nanti akan memasukkannya ketika kita siap menerimanya yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain hal-hal tersebut mas Tekno juga berbagi kisah tentang zat-zat beracun. Dimana kita sering menggembar-gemborkan formalin sebagai zat yang berbahaya. Namun menurut mas Tekno masih ada zat yang lebih berbahaya dari formalin yakni Dioksin. Formalin hanya merusak satu generasi namun Dioksin merusak hingga empat generasi karena yang dirusak ialah DNA. Dimana DNA inilah yang akan kita turunkan untuk anak cucu. Dioksin memiliki sifat slow release sehingga sulit untuk dideteksi secara cepat. Dioksin menyerang kromosom DNA sehingga mempengaruhi psikologis. Salah satunya ialah generasi yang menyukai hal-hal yang instan, tidak mau nikah muda dengan alasan rejeki atau belum mapan dll.

Tepat pukul 00.00 WIB pak Zam selaku tuan rumah mempersilahkan untuk bersama-sama menyantap makanan yang disediakan. Nasi, lauk pauk, sayur dan buah tersaji lengkap ditengah lingkaran persaudaraan ini. Usai makan dilanjutkan oleh mas Tekno yang jarinya menunjuk ke arah rice cooker yang berisi nasi seraya berkata “ini penyumbang gula terbesar yang mampu memicu penyakit diabetes”. Oleh karena itu para leluhur mengajarkan menanak nasi dengan menggunakan kukusan dari bambu. Sebab dalam bambu mengandung silika yang mampu menjadi penetralisir gula dalam nasi tersebut.

Kopi yang masih hangat, kepulan asap kretek dari beberapa sedulur terus menemani perbincangan-perbincangan dimana satu sama lain saling belajar dengan berusaha ridho atau lilo terhadap hal apapun. Waktu terus berjalan hingga menunjukkan sekitar pukul 01.00 WIB. Rombongan yang satu mobil dengan Mas Agus meeminta ijin untuk berpamitan terlebih dahulu sebab sejak dari rumah, mas Agus kurang enak badan. Namun bagi mas Agus lebih senang waktunya diisi untuk berbincang dan mempererat paseduluran seperti ini dibandingkan harus istirahat total.

Sekian reportase ini dibuat dengan harapan keberkahan senantiasa terlimpah kepada sedulur-sedulur yang diperjalankan dengan hadir maupun yang diperjalankan untuk tidak hadir, karena selain belajar, disini juga kita berusaha meningkatkan kecintaan kita terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala serta junjungan kita Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.

 

Andhika Hendriyawan

Facebooktwittertumblr