REPORTASE: MANAJEMEN BHINNEKA TUNGGAL IKA

Facebooktwittertumblr

Pertemuan rutin Majlis Gugurgunung edisi bulan Mei jatuh pada tanggal 26 Mei 2018. Bertempat di Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi’in Bodean Pringapus, Kabupaten Semarang. Alhamdulillah dirawuhi juga oleh Gus Aniq yakni pengasuh Ponpes RKSS serta Master Zein Zamatera. Selain itu turut hadir pula perwakilan dari aparat desa yakni kepala RW setempat.

Kegiatan dimulai pada pukul 21.00 WIB, dengan moderator pada malam hari ini yakni Mas Kasno. Diawali dengan do’a wasilah serta wirid oleh Mas Tyo, dilanjutkan dengan Munajat Maiyah oleh Mas Jion.

Mas Kasno selain sebagai moderator juga merupakan perwakilan dari Tim Tema yang juga turut memberikan preambule tentang tema serta pembacaan mukadimah. Telah disediakan pula 33 lembar print out mukadimah yang dapat disimak pula oleh sedulur-sedulur yang hadir.

Mas Kasno memberikan preambule tentang tema serta pembacaan mukadimah

Tema pada malam hari ini ialah “Manajemen Bhineka Tunggal Ika – meruwat dan merawat keanekaan”. Poster dengan gambar tulang belakang manusia itu, dimaknai oleh Mas Kasno erat kaitannya dengan manajemen keanekaan. Selain itu tema ini juga saran dari Bapak Maiyah Muhammad Ainun Nadjib, untuk mengimplementasikan tema Manajemen Bhineka Tunggal Ika.

Bhineka Tunggal Ika sejak SD setahu Mas Kasno ialah walaupun berbeda-beda tetap satu jua. Dihubungkan oleh Mas Kasno, bahwa tulang belakang merupakan salah satu yang terbentuk pada saat awal tercipta manusia. Kemudian Mas Kasno melanjutkan dengan membacakan Mukadimah.

Kemudian Dusun Bodean juga memberi sambutan, serta menyampaikan maaf dari Kepala Desa yang sebenarnya juga diundang malam hari ini namun tidak bisa untuk hadir. Menanggapi soal tema, Pak RW menghubungkannya dengan masyarakat sekitar serta di Indonesia yang dianggapnya tidak memiliki permasalahan terhadap toleransi terutama keagamaan. Selain itu juga menegaskan berulang kali bahwa kegiatan ini harus diakhiri pada pukul 12 malam, yang menurut beliau di bulan yang suci ini agar ibadah tidak terganggu bagi yang menjalankan. Usai memberikan paparan, beliau segera mohon izin, minta maaf dan berpamitan untuk meninggalkan kegiatan dikarenakan ada kegiatan lagi di lain tempat.

 

BHINNEKA DIRI SEBAGAI CONTOH MANUNGGAL IKA

Mas Agus juga sedikit memberikan paparan untuk memperdalam diskusi malam hari ini, bahwa malam hari ini bukan hanya peristiwa bermajlis namun juga bersambung terhadap pihak yang lebih luas. Ditengarai dengan hadirnya Pak RW. Terima kasih serta apresiasi juga disampaikan kepada Karang Taruna setempat yang turut membantu dalam perhelatan malam hari ini terutama perihal perijinan.

Mas Agus sedikit me-remind bahwa disini merupakan maiyahan khusus sehingga paling larut ialah jam 12 malam, namun dengan harapan tidak mengurangi satu hal apapun juga harus disyukuri dan dibahagiai. Sebelum tema malam hari ini, memang sempat ada gagasan untuk menggarap tema tentang ruwat. Tidak banyak pijakannya, bahwa ruwat itu dihubungkan dengan berpuasa di bulan ramadhan. Bulan ini menurut Mas Agus ialah proses ruwat yang evolusioner bukan revolusioner, namun apabila direntang dalam sebuah laku kehidupan maka ruwat termasuk proses yang revolusioner. Sebab dahulu proses ruwat dengan menggunakan Sastrojendro Hayuningrat Pangruwating Diyu. Manusia diberi karunia oleh Allah dengan berbagai macam simbol. Sendi tulang manusia seluruhnya berjumlah 360 ditadaburi sebagaimana derajad dalam sebuah lingkaran, seperti halnya tawaf juga dalam sebuah lingkaran. Proses belajar kali ini disambungkan antara langit dan bumi, agar tidak terlalu langitan serta masih menggunakan pijakan bumi. Bahwa di dalam tubuh kita itu kita memiliki amtsal alat untuk dzikir, untuk kembali mengingat / eling.

Jika kita melihat dari gambar pada poster, yakni tulang belakang diimajinasikan sebagai alif dalam hijaiyah, namun ketika membungkuk seperti huruf wawu. Jaman dahulu saat mengaji menggunakan metode A I U. Alif fathah a, Alif kasroh I, Alif dhomah U, A-I-U, begitu seterusnya. Hal tersebut sebenarnya tidak sesederhana itu, bukan hanya tentang vokal tetapi juga tentang urutan. Mulai mengenal A, terus I, hingga menjadi U. Dari larah menjadi lirih supaya bisa luruh.

Bukan hanya menanggalkan, tapi juga meninggalkan untuk kemudian manunggal. Hal tersebut ialah proses yang dijumpai manusia sehari-hari. Kadang manusia menjadi alif, juga terkadang menjadi wawu. Terkadang harus tegak, terkadang juga harus merunduk. Ketika tegak, maka tidak boleh tegak untuk dihadapan kepada manusia lain, baiknya ialah Wawu, yakni sikap lembah manah andhap asor. Baru kemudian untuk diri kita sendiri yakni hal yang berkaitan dengan tekad, keperkasaan, kegagahan, dalam menjaga Tauhid maka diawali dengan Alif. Ketika sudah diawali dengan niat yang Alif maka nanti bekerja dengan cara wawu, bukan ngelarAh namun ngelurUh.

Berkaitan dengan pengelolaan tulang belulang ada yang lembut menopang yang keras dan sebaliknya yang keras menopang yang lembut. Ketika kita kembali kepada Allah maka bukan dengan keperkasaan dan kegagahan, sebab nanti akan bertanding dengan keperkasaanNya Allah yang Maha Perkasa. Begitu pula jika kembali pada Allah dengan kegagahan maka akan bertanding, sebab kembali kepada yang memiliki kegagahan itu sendiri. Begitu pula dengan yang lembut, misalkan rahman rahim, itupun harus bertanding karena pengasih dan penyayang hanya milik Allah itu sendiri. Oleh karena itu coba kita menarik pada peristiwa Azazil yakni malaikat yang pernah menjadi imamnya para malaikat dimana pada waktu kemudian, dia diburuk rupakan oleh Allah karena dianggap memiliki kesombongan hingga kemudian diturunkan menjadi iblis. Memiliki kesombongan akan dianggap mencederai Allah, sebab sifat sombong hanya Allah yang boleh memiliki. Namun iblis memakainya sehingga dia dilaknat oleh Allah. Sekarang coba kita bayangkan jika itu adalah sebuah proses kedewasaan, dimana imam para malaikat yang hanya memakai satu jubah saja langsung diturunkan menjadi iblis. Tetapi kita seorang manusia yang mungkin belum memiliki fase kedewasaan, maka kita memakai jubah Allah sejumlah 99 itu tidak masalah. Rahman, Rahim, Qahar, Jabar, dll disangka itu adalah milik kita, namun bagaimana caranya dari 99 itu kita mampu untuk menemukan sebuah titik tunggal untuk tidak mencapai titik yang ke-100 yakni kesombongan, dengan demikian berarti kita mengingkari Allah. Sebisa mungkin hal apapun yang membuat kita sombong, harus kita cegah terlebih dahulu. Maka bagaimana kita bisa “bermain” di 99 itu tanpa harus dilaknat oleh Allah, yakni dengan mengenalinya. Sebab di dunia ini kita memang diharuskan untuk belajar. Tidak akan kita mengenal asin apabila Allah tidak menciptakan garam, tidak pula kita mengenal pedas jika Allah tidak menciptakan lombok dan sebagainya. Kita dikenalkan dengan bentuk-bentuk jasadiah itu bukan untuk menegaskan ke-aku-an. Lombok, garam dlsb itu mengabdi kepada Allah dengan istiqoamah mengantarkan rasa yang dititahkan Allah kepada mereka. Jika rasa asin atau pedas ini lewat manusia, bias jadi manusia malah ngaku sebagai yan punya rasa tersebut. Manusia dilahirkan dengan akal maka merasa mampu untuk mengklaimnya. Kita merasa sudah mengasihi dan menyayangi seseorang namun merasa tidak mendapatkan kasih sayang balik, sehingga rasa cinta itu mendai terluka lalu menjadi benci. Itu tanda bahw akita berarti kita tidak sabar. Lanjut dikatakan, “sabar itu ada batasnya” padahal Sabar itu milik Allah (Ash Shobr) itu tidak ada batasnya. Kita sebagai manusia merasa segala halnya selalu ada batasnya karena memang manusia dilahirkan dengan batasan-batasan. Tujuan diberikan batasan ialah agar manusia tidak “mblarah” dan terus-terusan liar, rakus dlsb.

Dalam khasanah Jawa ada satu istilah homofon tentang lapar, yakni luwih (lapar atau kekurangan) dan luwih (berlebihan). Juga ada istilah Ngelih (memindah) dan ngelih (lapar). Pada saat makan, seseorang bisa menjadi rakus karena menuruti rasa lapar sehingga yang berada di meja makan dipindah ke dalam perut. Cara demikian adalah cara Ngelih (lapar/memindah). Ada pula yang berposisi terkendali, yakni pada saat makan meskipun memang lapar namun hanya mengambil seperlunya saja. Cara yang demikian ini adalah cara Luwih(lapar/ lebih). Pelakunya menjadi linuwih (memiliki kelebihan). Dengan cara luwih maka makan digunakan hanya untuk mengganjal tulang punggung. Agar makanan tidak berhenti tertahan di weteng (perut), kalau hanya untuk urusan tertimbun di perut disindir dengan istilah ‘meteng’ (menuju gelap/orang hamil) meskipun sedang tidak hamil. Lain halnya dengan “madhang“. Madhang kata dasarnya adalah padhang (terang), meteng kata dasarnya ialah peteng (gelap).

Semua hal di atas ialah simbol, yang baiknya kita elaborasi menjadi sebuah bentuk peringatan agar kita mampu belajar dalam fenomena yang kita jumpai sehari-hari. Seperti pesan yang selalu disampaikan Mas Agus saat bulan Ramadhan, “selamat memasuki ujian untuk tidak mencret di saat lebaran”. Sebab hal itu merupakan indikator bahwa ketika terjadi mencret maka bersamaan itu pula ada fenomena balas dendam pada puasanya. Berbeda ceritanya apabila ada proses pengendalian maka tidak akan menggiring kita pada fenomena tersebut. Luwih (lapar) berbeda dengan kaliren (kelaparan). Lapar itu baik, menyiksa diri hingga kelaparan itu tidak baik.

Fenomena tulang punggung yang ada pada diri manusia memerankan diri sebagai pemersatu segala jenis dan macam tulang belulang manusia. Juga segala macam lembut dan teguh dalam diri manusia. Pemersatu kebhinnekaan. Bisa kemudian kita kembangkan, bagaimana jika sesungguhnya di dalam hidup ini, masing-masing manusia adalah komponen sebagaimana halnya daging tulang dalam tubuh. Sehingga wajar jika manusia ada yang berperangai keras, lugas, tegas, ada pula yang berperangai lembut, puitis, penuh isyarat, dan senang bersembunyi.

Akan berbenturan ketika kita dititahi sifat Qahar (Memaksa) dengan sifat Rahman Rahim (Welas Asih), satu sisi lembah manah, sisi lain harus tegak. Namun ketika kita menyadari bahwa itu berasal dari Allah maka kita juga harus mengetahui titik harmoni agar tidak timpang sebelah. Maka dari itu agar kita tidak terhanyut dalam sebuah sifat yang lembut saja hingga seakan mendewakan kelembutan itu untuk diakui diri kita di hadapan manusia, bukannya mendewasakan diri untuk menjadikan kelembutan itu menjadi sebuah proses pengabdian.

Halal dan haram sendiri juga harus memiliki catatan. Sesuatu yang haram bisa menjadi halal dengan satu catatan. Seperti halnya dalam kehidupan kita juga harus memiliki catatan tersebut. Misalkan dalam suatu fenomena kita harus marah akan sesuatu namun dengan catatan tertentu rasa marah itu mampu kita kelola untuk diubah menjadi mengambil hikmah dari fenomena tersebut. Apakah catatan itu? Yakni catatan ini harus positif dan tersambung kepada Allah dengan harapan untuk mendewasakan kita. Agar di setiap titik kita mampu melihat wajah Allah. Meskipun ketika wajah Allah ditampakkan di bumi sebenarnya banyak ketidaksepakatan muncul dari diri kita. Coba kita tilik pada sebuah Hadist Qudsy, “Aku lapar tidak engkau beri makan, Aku haus tidak engkau beri minum, Aku sakit tidak kau jenguk”. Akal manusia akan menjawabnya dengan mengatakan “bisakah Allah lapar, haus dan sakit?”. Dijawab lagi oleh Allah bahwa lapar yang dirasakan itu diwakilkan pada orang-orang yang terpinggirkan, rasa sakit diwakilkan pada orang-orang yang tidak memiliki biaya berobat, demikian pula rasa hausnya juga diwakilkan pada orang yang tidak memiliki air untuk minum. Untuk dekat dengan Allah maka kita harus berjuang, berkorban, harus kita dekati orang-orang tersebut meski sebagian besar kita merasa enggan melakukannya. Mendekat kepada Allah sudah naluriah kita, namun di dalam hidup memang banyak tantangan dan perjuangan serta harus memiliki sikap untuk mengalahkan diri sendiri hingga mampu mencenderungi untuk membantu orang lain. Disini kita sama-sama belajar dengan mengakomodir kebenaran terus-menerus untuk memprioritaskan kebenaran. Demikian beberapa pemaparan dari mas Agus yang setelah itu ia memberikan kepada Mas Aniq untuk membagi kawruh dan paparan-paparannya kepada para wadyobolo gugurgunung.

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel, reportase and tagged , , , , , , , , , , , .