Posted in Artikel, Kembang Gunung.



MAWAS DIRI PADA PETANG






MAWAS DIRI PADA PETANG - 18 Juni 2017MAWAS DIRI PADA PETANG

Sore memungkasi diri dan peran pengawal waktu berikutnya diambil alih oleh petang. Petang diserap dari kata ‘peteng’ yang artinya gelap. Belum malam bukan lagi sore namun sudah gelap. Inilah awal waktu perpindahan dari siang menuju malam, dari terang menuju gelap. Kondisi perpindahan ini dianjurkan untuk berada di rumah, memagari hidup. Rumah disini tidak selalu bermakna harafiah sebab, dimana disitu ada fenomena perlindungan, kasih sayang, saling menjaga, saling membantu, saling mengingatkan dan wasiat mewasiati dalam kebaikan dan sabar, maka itulah rumah. Hunilah rumah yang seperti ini dan pagari dari invasi tradisi rumah yang lain, yang senang bersolek, berhias, dan memajang kekayaan, inilah tradisi rumah jahiliyah.

Perbedaan tradisi Jahiliyah dan bukan terletak pada niat dan tujuan akhir. Keduanya sama-sama saling melindungi, saling menyayangi pula, saling mengingatkan juga, namun bukan dalam hal kebaikan dan sabar melainkan dalam hal penguasaan dan membumbungnya pamor di mata manusia. Maka tradisi ini gemar sekali memperlihatkan kehebatan dan sangat berkepentingan membuat oranglain tersingkir, kalah, ataupun tersisih, karena memang tolak ukurnya dari nasib oranglain. Sangat wajar jika kemudian disebut sebagai kegelapan dan kebodohan.

Mawas diri kepada pada petang adalah mempertahankan tradisi keluarga rumah cahaya yang justru mulai makin menyeruak dan bekerja ketika malam mulai datang. Saat petang adalah saat mewaspadai diri, mempersiapkan diri agar tidak melewati malam dengan terhasut untuk menambahi kegelapannya.

PETUAH PETANG KEPADA HATI

Jikalah kau susah sekali menemukan cara

Untuk melihat hatimu

Maka temukanlah pada perempuan

Yang kau anggap layak dicintai

Dimana kau tak peduli jarak dan terjal mendaki

Kau mampu temukan keindahannya

Kepedulianmu hanya satu, tak rela membuatnya kecewa

Tak minat membuatnya terluka

Dan nikmat merasakan derita untuk memastikan ia bahagia

Begitulah hatimu mencintai

Namun ia sering bertengkar dengan syahwat dan logika

Untuk menghitung tinggi rendah dan imbal balik

Jika syahwat yang menang, perempuanmu kau nodai

Jika logika yang menang, cintamu menjadi transaksi

Jika hatimu yang menang, mungkin kamu sedikit menangis

Tapi semua yang kau sayangi tersenyum bahagia dan tentram bersemayam dalam keteduhan

Agus Wibowo

Facebooktwittertumblr