Kisah Muhajirin yang kau ada di dalamnya

Facebooktwittertumblr

MajlisGugurGunung:: Di suatu langit yang disebut sebagai langit ketiga. Diberangkatkan para arwah yang telah besyahadah sebelumya. Maka, dengan syahadahnya itu ia termasuk orang yang berhak untuk mendapatkan pengalaman kehidupan dengan menjalani sebagai makhluk yang beridentitas sebagai manusia. Bukan hanya beridentias namun juga berakal, berfikir, dan memiliki kehendak bebas. Dan, atas syahadatnya itu setiap yang dilahirkan di langit ketiga ini adalah muslimin. Yakni orang yang berserah diri, menebarkan salam, menyampaikan kabar gembira, hidup dalam kedamaian.

Pada kehidupan di dunia semua menyangka akan mudah saja menjalani sebuah ilusi sekejaban mata. Sebab siapa yang sanggup mengaburkan ketakjuban pada Yang Maha Menakjubkan? Akankah sekejaban mata bisa menguasai kesadaran dan membuat berbelok hingga lupa kepada asal usul dan tujuan.

Para muslimin di langit ketiga berbondong-bondong, beriring-iring, sedang dalam sebuah perjalanan hijrah. Berduyun-duyun meninggalkan kota yang masih penuh kenistaan menuju kota yang penuh kecintaan. Perjalanan hijrah itu disemangati gairah mendapatkan tempat yang tepat dan layak bagi jiwa utama kemanusiaannya, yakni pengabdian. Perjalanan yang terasa panjang, kerontang, dan gersang itu, hanya terjadi sekejab mata.

Hanya saja rentang waktu yang panjang lebih terasa, kerontang benar-benar menyiksa, gersang pun terhampar lebih menjadi kenyataan demi kenyataan yang terindra. Bukan khayalan, terasa lebih betulan dan susah menggantinya bahwa sesungguhnya itulah ilusi sekejaban mata.

Oleh karenanya para pejalan itu, yang berhijrah itu, yang berniat berjuang di jalan Allah itu, yang terdiri pada sebagian besarnya adalah para budak itu, yang banyak diantara mereka kehabisan pula perbekalan, yang yatim, yang pula banyak diantara mereka adalah kaum yang fakir dan miskin, mulai berfikir untuk melihat kenyataan yang mereka sangka kenyataan. Bahwa mereka menyatakan sesungguhnya ini bukan sekejaban saja, buka perjalanan untuk kembali berkumpul dengan keluarga sejati, bukan pula tentang khayalan-khayalan tentang tanah subur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon Hasta dengan buah-buah kemuliaan yang bergelayutan. Bukan! ini adalah perjalanan bertahan hidup, harus sanggup membereskan urusan-urusan yang menyulitkan meski harus menggunakan cara dan muslihat yang merugikan pejalan lain. Ini sudah perjalanan yang penuh kerugian, jadi tidak ada yang dirugikan lagi, oleh sebab itu waktu adalah butiran-butiran kurma terserak tercecer yang harus dijumput dengan telaten diantara pasir dan gurun yang tandus, waktu adalah kurma. Dikumpulkan dan menjadi bekal yang lebih realistis.

Namun banyak pula pejalan yang tetap yakin ada Kota berkah dan ilmu yang memang tampak jauh, namun lebih nyata daripada yang sedang disangka ada. Orang-orang yang demikian menjadi dilihat yang lain tampak aneh bahkan sedikit dianggap gila dan dipandang sebelah mata. Padahal mereka semua sebelumnya sama, berangkat dengan keadaan yang sama, menuju pada langkah yang sama, namun kesulitan dan tipudaya membuat rombongan pejalan itu berbeda. Melahirkan muslihat, kelicikan, egoisme, kekuasaan dan rasa aman tentang kepemilikan dalam sebanyak-banyak hal. Perselisihan, perseteruan, pertumpahan darah, penyesalan.

Para pejalan yang tetap hatinya, akan menjumput kurma yang dijumpainya untuk kemudian berbagi dengan yang lain. Mereka yakin bahwa yang terjatuh itu punya sebab dan asal usulnya. Asalnya dari pohon tangan terkembang, atau pohon epek-epek, atau pohon lima, atau pohon palma, atau pohon palem. Yang kemudian meggelayutkan rimbunan buah-buah mulia, kemuliaan, karim, karomah. Maka ia merasa wajib senantiasa menyampaikan kabar gembira sesulit apapun kondisi yang tengah menerpa.

Para pejalan yang lemah hatinya, menyangka bahwa yang yang terjatuh adalah tanda bahwa ada pohon kurma di sekitarnya. Bisa dicari pohonnya, atau kebunnya. Bisa dirampas buahnya sebagai bekal, bisa pula ditebang pohonnya sebagai terompah agar terhindar dari susah payah. Dan setiap butir yang dia ambil bukan pada urusan berbagi, ini soal memiliki. Ini soal hadiah, peruntungan, dan jangan dengki kepada yang beruntung. Selama perjalanan sambil sibuk mengumpulkan kurma. Beban yang ia sangga makin berat namun merasa lebih hebat karena punya sikap yang solutif terhadap kehidupan yang sulit dan penuh beban.

Demikianlah, dinamika berkembang sehingga perjalanan makin meriah dan penuh kisah, namun juga makin terasa panjang dan lama. Maka, pada yang demikian itu banyak yang berlatih tentang wasiat kebaikan dan kesabaran, ada yang mengerti apa itu lalai dan ingat, apa itu siang malam, apa itu kufur, apa itu ujian, apa itu kasih sayang, dlsb. Perjalanan yang menyulitkan akan memberikan bimbingan dan melatih ketetapan untuk memilih menjadi yang mana.

.10 Juni 2016. Majlis gugurgunung

Facebooktwittertumblr

Posted in Artikel, Kembang Gunung and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , .