Insan Seiring Kodrat Syukur

Facebooktwittertumblr

majlisgugurgunung:: Kematangan ruhani seseorang berlangsung sesuai dengan kualitas syukurnya. Ada yang bersyukur dengan karunia keindahan jasadiah pada dirinya, ada pula yang sudah bertolak menjadi syukur karena jiwanya teruntai dalam kasih sayang dengan jiwa yang lain, ada pula yang bersyukur karena diberi pengalaman untuk mengenal Gusti Allah yang tak terjangkau jasad maupun Jiwa melalui serangkaian dinamika adegan hidup.

Berusaha mengurai tinggalan Ki Hajar Dewantara dengan teori pendidikannya dijumbuhkan dengan patokan usia dalam petung Jawa juga dengan fase kematangan ruhani sesuai Ulul Azmi. 

Ing Ngarso sung Tulodho |

Manusia usia 1 hingga 9 tahun (fitrah). Manusia usia 10 hingga 15 tahun (ruhullah). Usia 16 hingga 19 transisi.

Manusia dengan wadah jisimnya akan mengalami perubahan sel secara berkala dan berubah total setiap 10 tahunan. Maka secara jisim seorang manusia menempati wadah baru setiap 10 tahunnya. Orangtua berperan di depan sebagai teladan kepada anaknya. Karena memang prototip manusia teladan utama bagi anak adalah orangtuanya. Begitu sesungguhnya orangtua terus belajar memahami anak di fase fitrah ini. Seorang anak masih menyangga secara alami fitratullah, shofiullah. Sedangkan orangtua bisa jadi telah agak melupakan/ terselimuti otentisitasnya sebagai manusia. Maka metode pendampingan sekaligus belajar mengingat kembali bagi pihak orangtua.

Masuk pada usia 10 (sepuluh) anak akan diberi suluh oleh Gusti Allah. Kecerdasannya meningkat dan sekaligus masuk pada periode Ruhullah. Anak belajar welas asih karena demikian pula lingkungan memperlakukannya. Kepada anak usia belasan, lingkungan lebih dewasa memberi peluang bocah mengekspresikan diri dan banyak permakluman. Maka, seorang anak masuk pada kurikulum mengimplementasi welas sebagai kesadaran baru kehidupannya.

Ing Madya Mangun Karsa |

usia 20 hingga 29 tahun (Periode kholilullah)

Di tengah membangun masa depan/cita2/kepemimpinan. Ngarso dari kata arso, arep, yang bisa berarti ‘akan’ maupun ‘depan’. Maka orangtua mulai menyerahkan tanggungjawab kepemimpinan kepada anak untuk membangun karso-nya. Usia ini anak akan mulai banyak cita2, angan2, impian. Maka jangan sampai anak kehilangan atau tidak belajar ukuran. Oleh sebab itu setelah periode welas, anak harus bisa menganalisis berkait dengan akalnya yang genap. Dia harus bisa mengukur diri. Hingga pada usia 25 (selawe) dirinya akan menjumpai puncak usia yang sempurna secara raga. Di usia ini anak harus tandang (kemlawe) karena kalau terhanyut dengan keindahan diri bisa2 terjebak pada lenggang kangkung yang tidak produktif. Periode ini akan banyak peristiwa penting untuk merangsang kesadaran mengukur dan menindaklanjutinya.

Usia selawe juga pancatan penting bagi anak untuk tandang membangun kesadaran baitullah di dalam hatinya. Periode ini juga periode dzabihullah yakni peningkatan hidupnya harus berkenalan dengan perjuangan, pengorbanan, dan kekhawatiran. Namun jika hal itu dihadapi dengan ketangguhan iman maka akan menjumpai fenomena cinta yang tidak berhenti sekedar terbungkus jasadiah namun menyeruak mememndar secara ruhaniah. Fungsi orangtua mendampingi sebagai sahabat yang menyehatkan jiwanya Memasuki usia 26 hingga 29 anak dihantarkan lagi pada kehidupan yang lebih terukur. Tidak sekedar terukur secara akal tapi juga jiwa yang sehat

Tut Wuri Handayani |

anak 30 hingga 49 sebagai periode kalimullah

Usia 10 sebagai suluh yang merangi hidupnya. Usia 20 sebagai suluh yang menuntun jalannya. Usia 30 sebagai suluh untuk menjadi pribadi yang luluh. Bukan luluh kehilangan semangat tapi justru luluh kedirian untuk lebih menegakkan hidupnya agar terpayungi ridhlollah. Periode ini masuk pada periode kalimullah, seorang anak menjadi teladan hidup secara perbuatan. Di sini periode pendampingan orangtua lebih menarik diri ke belakang. Tut wuri handayani. Meskipun di belakang namung memiliki daya.

Pada berikutnya, orangtua mungkin sedang dalam proses menapaki kehidupan untuk mengikat diri dengan Tunggal. Seket (50) adalah waktu untuk tidak terikat dunia dan mengikat secara lebih erat perjalanan ruhani. Hingga di usia 60 telah memiliki kemampuan menginjak (ngidak) ndunyo untuk bertolak secara vertikal menyongsong sejatining urip. Warna mula warna ‘darah’ adalah warna keakuan, warna yang memaksa orang lain melihat dikita. Warna mula itu merah, sbg kesadaran syukur diberikan kehidupan dan identitas/pakaian/tubuh diri.

Ke-2 warna Jingga ‘manjing angga’: adalah kesadaran untuk memposisikan diri untuk melihat dan merasakan perasaan orang lain.

 Warna jingga sebagai syukur karena diberi kesempatan berempati dan mengolah rasa bersama oranglain selayaknya satu tubuh.

Warna ke-3 kuning ‘laku wening’ warna keheningan yakni kesadaran untuk tenang dan beningdengan akal yang matang. Kuning sebagai warna syukur karena diberikan akal yang baik untuberinisiatif dan menganalisis scr logis.

Warna ke-4 ijem ‘aji ing jenjem’ adalah warna kemuliaan dalam kebersahajaan. Warna cinta yang diasah dengan perjuangan. Warna ijem atau hijau sebagai warna syukur karena mengalami kesadaran cinta, pengorbanan, spiritualitas.

Warna ke-5 ‘milang wiwit’ atau milangit; memilah dan memilih prilaku terbaik sebagai bibit untuditanam dalam kehidupan. Ini warna langit, syukur krn berkesempatan menanam dengan kesadaran meneduhi, membuahkan dan mencerahkan.

Warna ke-6 adalah ‘wulung’ adalah warna ulung, sikap matang, maka warna ini didukung olehkerendahan hati. Warna sebagai syukur atas kesadaran menggulung kelam sebagai stimulan keindahan. Matang akal, matang ruhani.

Warna ke-7 adalah warna ungu ‘wungu’ atau wuwungane urip; adalah warna seseorang yang telah bangun. Ini warna syukur karena dibangunkan dari tidak terjaga menjadi terjaga. Diberi kesadaran menyaksikan dan memahami cahaya / Nur. Demikian putaran 7 warna kehidupan. Semuanya memiliki inti mengakurasi syukur dengan telaten.

Anak usia tunggal ( 1 – 9 tahun)

Pelajaran :  ﺩﺣﺃ ﷲ ﻭ ﻫ ﻝﻗ

Sinau diri, aku, yang lain nomer dua

Godha : sombong diri yen kegowo ing alam kawelasan

—suluh 1 : masuk usia suluh pertama (10 tahun). Qul huwallahu Ahad. Mendapat pencer

dan sekaligus persiapan memasuki alam pelajaran berikutnya; Alam kawelasan.

Anak usia welas ( 11 – 19 tahun)

Pelajaran : ﺩﻣﺻﻟﺍ ﷲ

Sinau welas, sinau ono wong liyo

Godha : manja, tidak peka, egois, ora dunung, ora biso ngukur.

—suluh 2 : masuk usia suluh kedua (20 tahun) . AllahushShamad. Mendapat pencerahan dan

sekaligus bekal menghadapi alam pelajaran berikutnya; Alam Ukur

usia ukur 1 (21 – 24 tahun)

Pelajaran : ﺩﻟﻭﻳ ﻡﻟﻭ ﺩﻠﻳ ﻡﻟ

Sinau ngukur, analisis, observasi, inspeksi, optimisme, search, research, masa depan, masa

lalu, menakar kemampuan, memandang dinamika kahanan, menelisik tujuan

Godha :  over kalkulatif, percaya ukurannya sebagai standar kebenaran, ambisius, nabrak paugeran

Usia ukur 2 (26 – 29 tahun)

Pelajaran :

Ngukur kanthi permadi. Mengkalikan/memberkalikan kesungguhan. Membagi skala prioritas/

menata. Menambahkan kesadaran/introspeksi. Mengurangi ambisi2 melampaui batas

Godha : pesimistis, paranoid, over kalkulatif, takut kepada hitungan sendiri .

Usia selawe (25 tahun)

Sinau kemlawe, tandang, menep

Godha : leyeh2, lenggang (tinggal glanggang colong playu)

—Suluh 3 : memasuki usia suluh ketiga (30 tahun) . Lam yalid walam yulad. Mendapat

pencerahan untuk memasuki alam pelajaran berikutnya, alam luluh.

Usia luluh (31 – 39 tahun)

Pelajaran : ﺩﺣﺃ ﺍﻭﻔﻛ ﻪﻟ ﻥﻛﻳ ﻡﻟﻭ

Sinau luluh, luluh ing ngarsane Pangeran

Godha : luluh nyawang kahanan, kalah sakdurunge tandhing.

—Suluh 4 : mendapat pencerahan. Walam yakun lahu kufuwan Ahad.

 Usia suluh (41 – 49 tahun)

Pelajaran :  la haula wala quwwata

Matengake luluh kanthi permati, nuladhani, sesuluh

Godha : rumongso kuat, wulung lan mateng.

–seket (50 tahun)

Usia ngiket (51 – 59 tahun)

Pelajaran : ila billah

Sinau gegandhengan kanthi permati mring Gusti Allah nganti Qodo lan Qodaripun

Godha : ngiket mring eloking ndunyo.

–widak (60 tahun)

Usia sewidak munggah (61 tahun – >>)

Pelajaran : Billahil ‘aliyul adhim.

Sinau ngidak urip. Urip sing maune disunggi, dijunjung, dicangking, saiki diidak supoyo madek

ngabekti mring dedeking Malikiyaumiddin

Facebooktwittertumblr
Posted in Artikel and tagged , , , , , , , , , , , .